🔴 Breaking
Kakek 100 Tahun Ini Buktikan Olahraga Tak Kenal Usia Jerome Powell Akhiri Jabatan Sebagai Ketua The Fed, Tinjauan Kebijakan Moneternya Kanker Serviks Menjadi Penyebab Kematian Signifikan, Berikut Cara Pencegahannya Konser Jazz Memukau di UKSW Hasil Kolaborasi dengan Erasmus Huis Rupiah Melemah ke Rp 17.612 per Dolar AS: Dampak bagi Ekspor dan Impor Aris Fitriyani Resmi Menjadi Doktor ke-87 di Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto Kekhawatiran Pengusaha Terhadap Pelemahan Rupiah yang Berlanjut Film “Pesta Babi” Diputar Masif di Berbagai Kota, Pengamat Ingatkan Publik Tidak Mudah Terprovokasi Sepuluh Perusahaan Teknologi China Dapat Izin Impor Chip AI Nvidia H200 dari AS Kecelakaan Medis: Wanita 26 Tahun Alami Cedera Otak Karena Kesalahan Penggunaan Defibrillator Kakek 100 Tahun Ini Buktikan Olahraga Tak Kenal Usia Jerome Powell Akhiri Jabatan Sebagai Ketua The Fed, Tinjauan Kebijakan Moneternya Kanker Serviks Menjadi Penyebab Kematian Signifikan, Berikut Cara Pencegahannya Konser Jazz Memukau di UKSW Hasil Kolaborasi dengan Erasmus Huis Rupiah Melemah ke Rp 17.612 per Dolar AS: Dampak bagi Ekspor dan Impor Aris Fitriyani Resmi Menjadi Doktor ke-87 di Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto Kekhawatiran Pengusaha Terhadap Pelemahan Rupiah yang Berlanjut Film “Pesta Babi” Diputar Masif di Berbagai Kota, Pengamat Ingatkan Publik Tidak Mudah Terprovokasi Sepuluh Perusahaan Teknologi China Dapat Izin Impor Chip AI Nvidia H200 dari AS Kecelakaan Medis: Wanita 26 Tahun Alami Cedera Otak Karena Kesalahan Penggunaan Defibrillator
Ekonomi

Jerome Powell Akhiri Jabatan Sebagai Ketua The Fed, Tinjauan Kebijakan Moneternya

Jerome Powell resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai Ketua Federal Reserve pada 15 Mei 2026, meninggalkan warisan kebijakan moneter yang signifikan di tengah tantangan inflasi.

Aditya Surya

Penulis

15 May 2026
11 kali dibaca
Jerome Powell Akhiri Jabatan Sebagai Ketua The Fed, Tinjauan Kebijakan Moneternya
Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell berbicara dalam konferensi pers setelah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Rabu, 17 September 2025, di Gedung Dewan Federal Reserve di Washington. (Foto AP/Jacquelyn Martin)

Jerome Powell menyelesaikan masa jabatannya sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) pada tanggal 15 Mei 2026. Ia menjabat sebagai Ketua ke-16 sejak 5 Februari 2018, melalui periode yang penuh dengan dinamika ekonomi. Kepemimpinannya ditandai oleh sejumlah kebijakan penting dalam menghadapi tantangan global yang ada.

Meskipun mengakhiri jabatannya sebagai Ketua, Powell tidak sepenuhnya meninggalkan bank sentral Amerika Serikat. Ia akan tetap berperan sebagai gubernur di Dewan Gubernur Federal Reserve selama dua tahun ke depan, dengan masa jabatannya sebagai anggota dewan yang baru akan berakhir pada 31 Januari 2028.

Masa Kepemimpinan yang Penuh Tantangan

Powell memulai kepemimpinannya di The Fed pada awal 2018, mengambil alih posisi tersebut di tengah situasi ekonomi yang bergejolak. Masa jabatan pertamanya berakhir pada Mei 2022, namun mantan Presiden Joe Biden kembali mencalonkan dirinya pada November 2021, dan Senat menyetujuinya pada Mei 2022 untuk masa jabatan kedua.

Selama delapan tahun masa kepemimpinannya, Powell menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang signifikan, termasuk mengelola kebijakan moneter di tengah pandemi COVID-19, mengatasi lonjakan inflasi antara tahun 2021 hingga 2023, serta menghadapi ketidakstabilan perdagangan global yang terus berlanjut. Selama menjabat sebagai ketua, Powell telah menghadapi dua presiden, tiga menteri Keuangan, dan membuat 66 keputusan terkait suku bunga.

Respon terhadap Krisis dan Inflasi

Ketika Donald Trump mencalonkan Powell sebagai ketua The Fed, Trump menggambarkannya sebagai "pembangun konsensus" yang "memahami apa yang dibutuhkan agar ekonomi tumbuh." Powell, yang sebelumnya merupakan bankir investasi dan pejabat Departemen Keuangan di bawah Presiden George H.W. Bush, mulai menjalankan tugasnya pada 2018 saat ekonomi sedang berkembang pesat, dengan tingkat pengangguran yang sangat rendah dan inflasi sedikit di atas target 2% yang ditetapkan The Fed.

Pada tahun pertama kepemimpinannya, Powell menaikkan suku bunga sebanyak empat kali, memberikan tekanan pada pasar saham, tetapi menempatkan The Fed dalam posisi untuk dapat menstimulus ekonomi melalui pemotongan suku bunga jika terjadi perlambatan. Namun, pada awal 2020, pandemi COVID-19 memaksa puluhan juta warga Amerika Serikat untuk menjalani karantina, menghentikan aktivitas bisnis di berbagai sektor, dan menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan.

Pada pertemuan darurat di bulan Maret 2020, Powell menurunkan suku bunga mendekati nol untuk merangsang ekonomi yang terpuruk. Ia menyatakan, "Keluarga, bisnis, sekolah, organisasi, dan pemerintah di semua tingkatan mengambil langkah-langkah untuk melindungi kesehatan masyarakat. Langkah-langkah ini, yang penting untuk menahan wabah, bagaimanapun juga akan berdampak pada aktivitas ekonomi dalam jangka pendek."

Tingkat pengangguran melonjak dari 4,4% pada Maret menjadi 14,7% pada April, berdasarkan data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah AS memberlakukan stimulus ekonomi untuk mendukung mereka yang kehilangan pekerjaan. Bersama dengan suku bunga yang rendah, langkah-langkah tersebut membantu mempercepat pemulihan ekonomi yang berlangsung selama dua bulan, menjadikannya sebagai resesi terpendek dalam sejarah AS.

Alan Blinder, seorang profesor di Universitas Princeton dan mantan wakil ketua The Fed, menyatakan bahwa pemulihan yang cepat tersebut membenarkan keputusan Fed untuk memangkas suku bunga, meskipun itu bukanlah pilihan yang sulit. Namun, inflasi yang tinggi segera muncul akibat kekurangan pasokan yang disebabkan oleh pandemi dan diperparah oleh perang Rusia-Ukraina. Powell awalnya meremehkan kenaikan harga dan menyebutnya sebagai "sementara," yang kemudian diakui sebagai kesalahan.

Inflasi tahunan mencapai puncaknya pada 9,1% pada Juni 2022, dan pada saat itu Powell sudah mulai menaikkan suku bunga, yang berlanjut hingga tahun berikutnya. Kenaikan suku bunga yang agresif ini menempatkan suku bunga acuan bank sentral pada level tertinggi sejak 2001, yang berdampak pada lonjakan suku bunga hipotek dan kartu kredit.

Walaupun inflasi tahunan turun menjadi 3% pada Juni 2023, masyarakat Amerika tetap merasa tidak puas dengan kenaikan harga yang berkepanjangan. Banyak ekonom memprediksi resesi yang biasanya diikuti dengan kehilangan pekerjaan, tetapi resesi tersebut tidak terwujud.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Powell adalah lonjakan inflasi yang signifikan antara tahun 2021 hingga 2023, yang dipicu oleh berbagai faktor termasuk gangguan rantai pasok dan stimulus fiskal besar-besaran. The Fed di bawah kepemimpinannya merespons dengan serangkaian kenaikan suku bunga untuk mendinginkan ekonomi dan mengendalikan inflasi, yang sering kali menuai pro dan kontra.

Powell juga menghadapi tekanan politik yang intens, terutama dari Presiden Donald Trump, yang sering mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga. Namun, Powell menolak intervensi politik, menegaskan independensi bank sentral dalam pengambilan keputusan moneter. Ia menyebut tuduhan tekanan eksternal sebagai "serangan murahan" yang tidak berdasar.

Dalam berbagai kesempatan, Powell menekankan bahwa kebijakan moneter AS tidak mengikuti jalur yang telah ditentukan, melainkan sepenuhnya bergantung pada data ekonomi terbaru. Ia menyatakan bahwa The Fed tidak akan terburu-buru dalam memangkas suku bunga acuan karena kinerja ekonomi AS yang kuat, mencerminkan pendekatan yang hati-hati dan berbasis bukti.

Pada pertemuan terakhirnya sebagai Ketua The Fed, yang berlangsung pada 29 April 2026, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%-3,75%. Keputusan ini menunjukkan adanya perpecahan yang tidak biasa di antara para pembuat kebijakan, mencerminkan kompleksitas situasi ekonomi saat itu. Powell menggambarkan potensi pemangkasan suku bunga sebagai "pemangkasan berbasis manajemen risiko" untuk mengantisipasi pelemahan pasar tenaga kerja, bukan sebagai awal dari siklus pelonggaran yang luas.

Jerome Hayden "Jay" Powell, yang lahir pada 4 Februari 1953 di Washington, D.C., membawa latar belakang yang unik ke dalam kepemimpinan The Fed. Dengan pendidikan di bidang politik dari Universitas Princeton dan gelar Juris Doctor (JD) dari Georgetown University Law Center, ia menjadi Ketua Federal Reserve pertama dalam 40 tahun terakhir yang tidak memiliki gelar sarjana ekonomi. Pengalamannya di bidang hukum dan perbankan investasi membentuk pandangannya dalam kebijakan ekonomi.

Meskipun latar belakang non-ekonominya sering menjadi sorotan, Powell berhasil menunjukkan kemampuannya dalam menavigasi kompleksitas kebijakan moneter dan keuangan global. Ia dikenal karena kemampuannya untuk berkomunikasi dengan jelas dan transparan mengenai keputusan The Fed, serta berhasil membangun konsensus di antara anggota dewan gubernur.

Dengan berakhirnya masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua, kepemimpinan The Fed kini beralih kepada Kevin Warsh, yang telah dikonfirmasi sebagai Ketua Federal Reserve pada 13 Mei 2026. Transisi ini menandai awal baru bagi bank sentral Amerika Serikat, yang akan terus menghadapi berbagai tantangan ekonomi domestik dan global di bawah kepemimpinan yang baru.

Artikel Terkait