Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan hingga mencapai Rp 17.612 per dolar AS. Keadaan ini memberikan dampak yang berbeda bagi berbagai sektor usaha di Indonesia.
Beberapa sektor yang berorientasi ekspor diperkirakan akan meraih keuntungan dari melemahnya rupiah. Namun, di sisi lain, industri yang bergantung pada bahan baku impor harus menghadapi peningkatan biaya produksi yang signifikan.
Keuntungan bagi Eksportir
Ariston Tjendra, seorang analis pasar uang dan Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dapat menjadi sinyal positif bagi perusahaan yang fokus pada ekspor. “(Pelemahan rupiah) harusnya bagus ya buat eksportir, barang Indonesia semakin murah, untuk investor pasar ekspor harusnya masih menarik,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa sektor-sektor unggulan ekspor Indonesia, seperti perkebunan dan pertambangan, berpotensi mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Komoditas seperti crude palm oil (CPO) dan batu bara disebut sebagai sektor yang paling diuntungkan karena banyak diperdagangkan dalam dolar AS. Ariston juga menilai bahwa perusahaan yang menjual produk dalam dolar AS tetapi menggunakan biaya produksi dalam rupiah berpotensi meraih margin keuntungan yang lebih tinggi.
Dampak Negatif bagi Industri Impor
Di sisi lain, Shinta Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, menyatakan bahwa pelemahan rupiah mulai memberikan tekanan pada perusahaan-perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor. “Saat ini, sekitar 70% bahan baku manufaktur berasal dari impor, dengan kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55% dalam struktur biaya produksi. Dengan demikian, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah,” jelasnya.
Shinta menambahkan bahwa sektor-sektor yang paling terdampak meliputi industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi. Kenaikan biaya impor ini diperkirakan dapat mempersempit margin usaha dan menekan arus kas perusahaan jika pelemahan rupiah terus berlanjut.
Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) mulai mengantisipasi potensi pengurangan tenaga kerja akibat tekanan yang dihadapi oleh dunia usaha. Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, mengungkapkan bahwa biaya operasional perusahaan semakin tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah. “Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja, tentu ini sesuatu yang kita hindari,” tuturnya.
Dia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi dampak dari pelemahan rupiah terhadap dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan. “Satgas Mitigasi PHK yang dibentuk pemerintah sudah harus segera ditindaklanjuti agar dapat membantu dunia usaha untuk mengantisipasi terjadinya rasionalisasi tenaga kerja,” ujarnya.
Sarman menambahkan bahwa dunia usaha sudah mulai waspada sejak rupiah menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Namun, pelemahan yang terus berlanjut kini menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha nasional.