🔴 Breaking
Teknologi

Perusahaan Kembali Rekrut Karyawan Setelah Kesalahan Mengandalkan AI

Beberapa perusahaan besar yang sebelumnya menggantikan karyawan dengan kecerdasan buatan kini menyesali keputusan tersebut dan mulai merekrut kembali tenaga manusia. Ford menjadi salah satu perusahaan...

Eko Prasetyo

Penulis

05 July 2026
8 kali dibaca
Perusahaan Kembali Rekrut Karyawan Setelah Kesalahan Mengandalkan AI
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) yang sempat mendorong banyak perusahaan besar untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masif kini menunjukkan dampak yang berbeda. Sejumlah perusahaan yang sebelumnya aktif menggantikan tenaga kerja dengan AI mulai menyesali langkah tersebut dan beralih untuk merekrut kembali karyawan manusia. Ford, perusahaan otomotif asal Amerika Serikat, menjadi salah satu yang terbaru dalam daftar ini.

Ford mengakui bahwa mereka terlalu bergantung pada AI dalam pengembangan kendaraan dan kini memutuskan untuk merekrut lebih dari 350 engineer, termasuk beberapa di antaranya adalah mantan karyawan Ford. Charles Poon, Wakil Presiden Teknik Perangkat Keras Ford, mengungkapkan bahwa perusahaan salah mengira bahwa AI yang dilatih dengan spesifikasi desain yang ada dapat secara otomatis menghasilkan produk berkualitas tinggi. COO Ford, Kumar Galhotra, juga menambahkan bahwa hasil dari sistem kualitas otomatis yang selama ini diandalkan ternyata mengecewakan.

Klarna dan IBM Mengikuti Jejak yang Sama

Sebelumnya, Klarna, perusahaan teknologi finansial asal Swedia, juga mengalami hal serupa. Setelah memangkas sekitar 1.200 karyawan pada tahun 2024 dan menggantikan mereka dengan AI, termasuk chatbot yang mengambil alih 700 posisi layanan pelanggan, Klarna menyadari bahwa langkah tersebut terlalu berlebihan. Meskipun chatbot mampu mempercepat waktu layanan dari 11 menit menjadi dua menit dan menghemat sekitar 2 juta dolar AS, hasilnya tidak cukup untuk meningkatkan produktivitas maupun kualitas produk. CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengakui bahwa perusahaan telah kebablasan dalam penggunaan AI dan kini membuka lebih dari dua lusin posisi baru untuk fokus pada peningkatan produktivitas dan pengalaman pelanggan.

IBM juga mengambil langkah serupa setelah memangkas sekitar 2.700 karyawan pada akhir tahun 2025. Perusahaan ini berencana untuk melipatgandakan perekrutan entry level hingga tiga kali lipat pada tahun 2026. Nickle LaMoreaux, Chief Human Resources Officer IBM, menjelaskan bahwa deskripsi pekerjaan baru telah diubah total dan tidak lagi berfokus pada tugas rutin seperti pengkodean dasar yang kini dapat dilakukan oleh AI, melainkan pada kemampuan berinteraksi dengan klien dan memahami kebutuhan bisnis. IBM menilai bahwa memangkas rekrutmen entry level hanya akan menghemat biaya dalam jangka pendek, tetapi berisiko menciptakan kekosongan talenta di masa depan.

Salesforce dan Dampak pada Tenaga Kerja

Salesforce juga melakukan pemangkasan terhadap 4.000 karyawan di divisi layanan pelanggan pada awal September 2025, yang mengakibatkan jumlah staf dukungan menyusut hampir 50 persen dari 9.000 menjadi sekitar 5.000 orang. CEO Marc Benioff menyebut bahwa posisi tersebut digantikan oleh agen AI yang bekerja secara otonom. Meskipun demikian, Salesforce tetap mempertahankan kombinasi antara tenaga manusia dan AI melalui program "omni channel supervisor", di mana keduanya bekerja berdampingan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun AI menawarkan efisiensi, perusahaan-perusahaan ini kini menyadari pentingnya keberadaan tenaga manusia dalam proses operasional mereka. Dengan kembali merekrut karyawan, mereka berharap dapat memperbaiki kualitas produk dan layanan yang ditawarkan.

Artikel Terkait