China telah dinyatakan sebagai pusat pelatihan (gym) terkuat di dunia. Pernyataan ini disampaikan oleh Joe Ngai, Ketua firma konsultan McKinsey Greater China. Ucapan tersebut muncul pada saat banyak perusahaan multinasional berusaha mengurangi ketergantungan mereka terhadap China dengan mencari alternatif lokasi produksi.
Dalam wawancara dengan majalah Fortune, Ngai menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan terus menerapkan berbagai strategi, termasuk diversifikasi rantai pasok dan pengurangan risiko. Namun, dia menekankan bahwa hingga saat ini, tidak ada negara yang dapat menggantikan posisi China. "Anda mungkin mendengar perusahaan mencoba mendiversifikasi atau mengurangi ketergantungan dari China. Namun Anda tidak akan menemukan China yang lain. Tidak ada negara lain seperti China saat ini," ungkap Ngai.
Persaingan yang Mendorong Inovasi
Ngai menyebutkan bahwa China menjadi "tempat gym terkuat di dunia" karena tingkat persaingan yang sangat tinggi, yang memaksa perusahaan untuk terus berinovasi dan meningkatkan daya saing. Dia juga menegaskan bahwa pernyataan ini tidak berarti negara lain tidak memiliki potensi pertumbuhan, tetapi kombinasi keunggulan China dalam sektor manufaktur, ukuran pasar, dan inovasi teknologi masih sulit ditandingi.
Selama beberapa dekade, China telah membangun sistem industri yang komprehensif, mulai dari penyediaan bahan baku hingga produksi barang jadi. Hal ini memungkinkan proses produksi berlangsung dengan efisien dan mendukung pengembangan manufaktur berteknologi tinggi. Dominasi ini juga terlihat dalam laporan terbaru dari World Economic Forum (WEF), di mana dari 16 perusahaan baru yang bergabung dalam jaringan Global Lighthouse Network, delapan di antaranya berasal dari China.
Ekosistem Inovasi yang Kuat
Shenzhen dan Provinsi Guangdong telah bertransformasi dari sekadar "pabrik dunia" menjadi salah satu pusat standar industri global. McKinsey menilai bahwa kekuatan China juga didukung oleh ekosistem inovasi yang matang. Menurut perusahaan tersebut, China memiliki keunggulan dalam empat sektor yang diperkirakan akan menjadi mesin pertumbuhan di masa depan, yaitu infrastruktur kecerdasan buatan (AI), elektrifikasi, perangkat keras pintar, dan digitalisasi.
Dengan rantai pasok yang terintegrasi dan pasar domestik yang besar, perusahaan-perusahaan di China dapat mengembangkan, menguji, dan menyempurnakan teknologi baru dalam skala yang sulit ditandingi oleh negara lain. Ngai menambahkan bahwa tingginya persaingan di pasar China justru mendorong perusahaan untuk terus berinovasi, karena konsumen di negara tersebut cepat menerima produk dan teknologi baru.
Perkembangan pesat perusahaan lokal seperti Huawei, BYD, dan miHoYo juga mendorong semakin banyak perusahaan multinasional untuk menerapkan strategi "in China, for China", yang berarti mengembangkan produk khusus untuk pasar China dan memperkuat keterlibatan mereka dalam rantai pasok lokal. Ngai menekankan bahwa persaingan yang ketat di dalam negeri membuat perusahaan-perusahaan China lebih siap bersaing di pasar global, sehingga banyak produk China mampu menawarkan harga yang kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.
Oleh karena itu, McKinsey menyarankan perusahaan multinasional yang ingin terus berkembang untuk tidak hanya melihat China sebagai basis produksi, tetapi juga sebagai pusat inovasi dan pasar strategis. "Perusahaan perlu benar-benar tertanam di pasar China, terintegrasi dengan ekosistem industri lokal, serta berinovasi bersama mitra lokal agar dapat mengikuti ritme pasar dan menciptakan pertumbuhan jangka panjang," jelas Ngai.