🔴 Breaking
Ekonomi

Potensi Penurunan IHSG Terus Menghantui, Dana Asing Kabur Sebesar Rp3,5 Triliun

IHSG diperkirakan akan mengalami tekanan pada awal pekan ini, dipicu oleh aksi jual bersih investor asing dan faktor ekonomi global yang tidak menguntungkan. Para analis mengingatkan tentang dampak ke...

Fehardian Rahaja

Penulis

28 September 2026
5 kali dibaca
Ilustrasi IHSG melemah [Antara]
Ilustrasi IHSG melemah [Antara]

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan menghadapi tantangan berat pada awal pekan ini, dengan kemungkinan pergerakan yang fluktuatif dan cenderung melemah. Hal ini disebabkan oleh aksi jual bersih yang dilakukan oleh investor asing di pasar domestik, serta dampak dari lonjakan imbal hasil surat utang Amerika Serikat dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Oktavianus Audi, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa secara teknikal, indikator pergerakan arah tren (MACD) dan momentum (RSI) menunjukkan sinyal penurunan. Tekanan utama yang dihadapi bursa domestik berasal dari aksi jual bersih investor asing yang diperkirakan akan berlanjut. Hengkangnya dana asing ini disebabkan oleh imbal hasil (yield) surat utang AS tenor 10 tahun yang kini telah mencapai 5,17 persen.

"Pasar akan dipengaruhi sentimen tekanan jual asing yang berpotensi berlanjut. Di mana sepekan lalu, asing mencatatkan net sell mencapai Rp3,5 triliun di seluruh perdagangan," jelas Oktavianus dalam catatan risetnya.

Risiko Koreksi IHSG

Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, juga menilai bahwa IHSG masih sangat rentan untuk melanjutkan tren koreksinya. Kenaikan yield obligasi AS di atas 5 persen dianggap sebagai beban berat bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dari sisi domestik, Herditya menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, yang membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dan menunggu potensi intervensi dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Volatilitas Pasar dan Kebijakan Baru BEI

Selain faktor makroekonomi, kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menerapkan batas minimum harga saham menjadi Rp1 juga menarik perhatian analis. Oktavianus menilai bahwa kebijakan ini telah memicu gejolak volatilitas baru di pasar, terutama bagi emiten yang sebelumnya stagnan di harga Rp50 namun memiliki kapitalisasi pasar yang besar.

"Berjalannya kebijakan floor menjadi Rp1 juga mendorong kenaikan volatilitas, khususnya pada saham yang berada di Rp50 dengan market caps besar, seperti GOTO, BBKP, dan KPIG," tuturnya.

BNI Sekuritas mencatat bahwa pelemahan IHSG pekan lalu yang ditutup minus 0,9 persen juga dipengaruhi oleh aksi jual asing sekitar Rp440 miliar pada saham-saham blue chip seperti TLKM, BMRI, BBRI, ASII, dan BBNI. Mereka memproyeksikan bahwa indeks kemungkinan akan mencoba menguji level resistansi terdekat sebelum kembali terjerat dalam arus koreksi.

Di tengah kondisi yang menantang ini, sejumlah analis telah merumuskan rentang pergerakan IHSG serta saham-saham yang dapat diperhatikan oleh pelaku pasar pada hari ini.

Artikel Terkait