🔴 Breaking
Teknologi

Produksi Smartphone Global Diprediksi Mengalami Penurunan Akibat Krisis Memori

Firma riset TrendForce memproyeksikan bahwa produksi smartphone di seluruh dunia akan mengalami penurunan pada tahun 2026, dengan dampak krisis memori yang mulai terasa.

Raihan Fadhila

Penulis

11 June 2026
5 kali dibaca
Produksi Smartphone Global Diprediksi Mengalami Penurunan Akibat Krisis Memori
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Menurut laporan terbaru dari TrendForce, jumlah produksi smartphone global pada kuartal I tahun 2026 diperkirakan mencapai sekitar 284 juta unit, mengalami penurunan sebesar 1,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Meskipun industri gadget telah mengalami krisis memori sejak paruh kedua tahun 2025, dampak tersebut dianggap belum signifikan terhadap volume produksi smartphone pada awal tahun 2026, karena para vendor masih memiliki stok memori murah dari pasokan sebelumnya.

Selain itu, harapan konsumen bahwa harga smartphone akan meningkat di masa mendatang turut membantu menjaga permintaan perangkat dalam jangka pendek, yang pada gilirannya mengurangi dampak dari kenaikan harga memori selama kuartal I-2026. Namun, TrendForce memperkirakan bahwa efek dari krisis memori akan mulai terasa lebih kuat pada kuartal II-2026. Pada kuartal kedua, banyak vendor ponsel diperkirakan akan melakukan penyesuaian produksi karena stok memori murah yang mulai menipis.

Strategi Vendor Menghadapi Krisis

Kenaikan harga memori yang tajam telah mengurangi keuntungan para vendor. Untuk mengatasi situasi ini, berbagai strategi diterapkan oleh para produsen. Vendor yang dikenal dengan produk flagship cenderung mempertahankan harga atau memperluas pangsa pasar, sementara vendor asal China yang fokus pada segmen menengah dan entry-level mengadopsi rencana produksi yang lebih tradisional untuk menghadapi tekanan biaya dan persaingan yang semakin ketat, terutama dari Huawei.

TrendForce memproyeksikan bahwa produksi smartphone global akan anjlok sebesar 16,2 persen year-on-year, menjadi 1,051 miliar unit sepanjang tahun 2026. Angka ini bisa saja lebih rendah jika harga memori terus meningkat, yang akan memaksa para vendor untuk menaikkan harga ponsel mereka.

Rincian Produksi Vendor Smartphone

Dalam laporan yang sama, TrendForce juga merinci vendor smartphone yang paling banyak memproduksi ponsel pada kuartal I-2026. Dari total produksi 284 juta unit, Samsung menduduki peringkat teratas dengan 62,6 juta unit, diikuti oleh Apple dengan 60,2 juta unit. Vendor lainnya yang juga masuk dalam daftar adalah Oppo dengan 29,5 juta unit, Xiaomi dengan 26 juta unit, Vivo dengan 22 juta unit, dan Transsion dengan 19,8 juta unit.

Catatan dari TrendForce menunjukkan bahwa produksi Samsung pada kuartal I-2026 meningkat 7,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan 2,3 persen year-on-year, didorong oleh penambahan produksi seri Galaxy S terbaru. Samsung dinilai berada dalam posisi yang relatif aman menghadapi inflasi biaya komponen, berkat dukungan finansial yang kuat serta portofolio produk premium yang luas. Namun, ketergantungan pada segmen ponsel kelas bawah tetap menjadi tantangan, terutama saat daya beli konsumen melemah.

Apple, yang berada di posisi kedua, memproduksi sekitar 60,2 juta unit pada kuartal pertama 2026, berkat peluncuran model baru seperti iPhone 17e, yang meningkatkan total produksinya sebesar 19,7 persen year-on-year. TrendForce menilai Apple lebih mampu menyerap kenaikan biaya memori tanpa mengorbankan keuntungan, sehingga perusahaan ini berfokus untuk mempertahankan dan bahkan memperluas pangsa pasar di tengah perlambatan industri.

Oppo, Xiaomi, dan Vivo masing-masing memproduksi 29,5 juta, 26 juta, dan 22 juta unit pada kuartal I-2026. Ketiga merek ini kini menghadapi tantangan profitabilitas akibat lonjakan harga memori, yang dapat memaksa mereka untuk merevisi target produksi sepanjang tahun 2026 jika tekanan harga terus berlanjut.

Transsion, yang memproduksi sekitar 19,8 juta unit pada kuartal pertama 2026, menunjukkan stabilitas dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebagai perusahaan yang dikenal dengan merek Tecno, Infinix, dan Itel, Transsion berfokus pada segmen entry-level dan ponsel murah, sehingga menjadi salah satu yang paling rentan terhadap kenaikan harga memori, mengingat margin keuntungan yang tipis. Namun, permintaan dari pasar negara berkembang masih menjadi penopang penting bagi Transsion, terutama saat pesaing seperti Xiaomi mulai mengurangi produksi ponsel murah untuk menjaga profitabilitas.

Artikel Terkait