🔴 Breaking
Kesehatan

Duka Mendalam di Balik Tangisan Anak Terduga Pencuri Ayam di Bali

Sebuah video yang menunjukkan tangisan anak perempuan dari KD, yang diduga mencuri ayam di Bali, menjadi viral. Kejadian tragis ini memicu perhatian publik dan menimbulkan trauma bagi sang anak.

Arjuna Mahendra

Penulis

27 July 2026
5 kali dibaca
Ilustrasi trauma (Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion)
Ilustrasi trauma (Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion)

Jakarta - Sebuah video yang menampilkan anak perempuan dari KD, terduga pencuri ayam di Tabanan, Bali, menjadi viral di media sosial. Dalam video tersebut, anak bungsu KD terlihat menangis saat jenazah ayahnya tiba di rumah duka yang terletak di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng. KD dilaporkan tewas setelah dikeroyok massa karena diduga melakukan pencurian ayam aduan. Pengeroyokan tersebut terjadi pada Jumat (24/7/2026) sekitar pukul 01.30 WITA.

Kepala Desa Sidatapa, I Made Sutama, mengungkapkan perasaannya saat menjemput jenazah KD. "Kemarin saya yang menjemput jenazahnya. Saat tiba di rumah, melihat anaknya menangis tersedu-sedu, saya benar-benar sedih," ujarnya.

Penetapan Tersangka

Polres Tabanan telah menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam kasus ini, dengan inisial MJ, WS, KB, ML, dan ND.

Trauma yang Dialami Anak

Spesialis kedokteran jiwa, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa seorang anak yang menghadapi kematian ayahnya dengan cara yang tragis, terutama dalam suasana emosional, dapat mengalami pengalaman yang berpotensi traumatis. "Dalam kasus yang diberitakan, sang anak tampak menangis histeris saat jenazah ayahnya tiba di rumah duka, sementara peristiwa kematian ayahnya akibat dugaan pengeroyokan masih menjadi perhatian publik dan sedang didalami aparat," jelas dr. Lahargo.

Menurut dr. Lahargo, dari sudut pandang psikologis, anak dapat mengalami beberapa bentuk trauma, antara lain:

  • Trauma kehilangan (traumatic grief): Anak tidak hanya kehilangan sosok ayah, tetapi kehilangan tersebut terjadi secara mendadak, penuh kekerasan, dan menjadi sorotan publik. Proses berduka pun menjadi lebih berat dibandingkan kehilangan yang terjadi secara alami.
  • Rasa tidak aman terhadap dunia: Pada usia sekolah dasar, anak sedang membangun rasa percaya bahwa dunia adalah tempat yang aman. Peristiwa seperti ini dapat membuatnya merasa bahwa dunia berbahaya, orang dewasa tidak dapat melindunginya, dan kehilangan dapat terjadi kapan saja.
  • Risiko gangguan stres pasca-trauma (PTSD): Beberapa anak mungkin mengalami mimpi buruk, mudah terkejut, menghindari pembicaraan tentang ayahnya, sulit tidur, mudah menangis, atau terus mengingat peristiwa tersebut. Jika gejala ini berlangsung lebih dari satu bulan dan mengganggu fungsi sehari-hari, perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut.
  • Stigma sosial: Selain kehilangan ayah, anak juga berisiko menghadapi cap negatif akibat identitas ayahnya. Padahal, anak tidak bertanggung jawab atas dugaan perbuatan orang tuanya. Jika lingkungan terus memberikan label negatif, dampaknya bisa berupa rendah diri, rasa malu, bahkan kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat.

Dengan adanya kejadian ini, penting bagi masyarakat untuk memberikan dukungan kepada anak dan keluarganya agar dapat melalui masa sulit ini dengan baik.

Artikel Terkait