🔴 Breaking
Kesehatan

Dampak Kurang Tidur Terhadap Kesehatan dan Risiko Kanker

Banyak orang mengabaikan pentingnya tidur yang cukup, tetapi kurang tidur dapat berdampak serius pada kesehatan, termasuk potensi peningkatan risiko kanker. Seorang dokter onkologi menjelaskan hubunga...

Raihan Fadhila

Penulis

15 September 2026
5 kali dibaca
Foto: Ilustrasi begadang (Getty Images/iStockphoto/Nuttawan Jayawan)
Foto: Ilustrasi begadang (Getty Images/iStockphoto/Nuttawan Jayawan)

Jakarta - Banyak individu yang sering mengabaikan waktu tidur mereka karena berbagai alasan, seperti pekerjaan atau menonton acara televisi. Kebiasaan begadang pun menjadi rutinitas yang sulit dihilangkan. Kurang tidur telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, tetapi apakah hal ini dapat meningkatkan risiko kanker?

Dr. Ashish B. Agrawal, Kepala Onkologi Medis, Hematologi, dan BMT Sarvodaya di Faridabad, menyatakan bahwa saat ini belum ada bukti yang menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung antara kurang tidur dan kanker. Namun, ia menekankan pentingnya perhatian terhadap gangguan tidur yang berkepanjangan. "Bukti pada manusia saat ini belum cukup kuat untuk menetapkan hubungan sebab-akibat yang sederhana. Yang ditunjukkan oleh penelitian adalah bahwa gangguan tidur dan ritme sirkadian yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem biologis yang terlibat dalam perkembangan kanker," jelasnya.

Risiko Kesehatan Akibat Kurang Tidur

Walaupun tidak ada hubungan langsung, kurang tidur dapat menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan kanker. Dr. Agrawal mengingatkan agar tidur tidak dianggap sebagai waktu yang bisa dikorbankan, melainkan harus menjadi prioritas. Meskipun begitu, ia menegaskan bahwa sesekali begadang untuk menyelesaikan pekerjaan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap risiko kanker. "Satu atau dua malam dengan kualitas tidur yang buruk tidak diperkirakan memengaruhi risiko seseorang terkena kanker," tambahnya.

Pola Tidur yang Tidak Teratur

Namun, kapan kurang tidur mulai menjadi masalah? Menurut Dr. Agrawal, kurang tidur menjadi perhatian ketika hal ini menjadi pola yang terus-menerus. Ketidakstabilan dalam jadwal tidur dan pekerjaan malam hari dapat mengganggu jam internal tubuh. "Masalah sebenarnya adalah kasus kurang tidur kronis disertai dengan pola tidur yang tidak konsisten dan pola kerja malam hari. Tubuh kita diprogram sesuai dengan ritme sirkadian, yang merupakan jam biologis yang mengatur berbagai fungsi penting, termasuk tidur, pelepasan hormon, proses metabolisme, mekanisme pertahanan tubuh, dan pemulihan," ungkapnya.

Ketika seseorang tidak mendapatkan tidur berkualitas dalam jangka waktu yang lama, hal ini dapat mengganggu keseimbangan hormon, metabolisme, pertahanan kekebalan tubuh, dan kemampuan pemulihan tubuh. Gangguan pada sistem-sistem ini secara bersamaan dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung perkembangan penyakit. Dr. Agrawal juga menyoroti peran melatonin, hormon yang berhubungan dengan siklus tidur-bangun. "Melatonin juga berinteraksi dengan jalur yang terlibat dalam stres oksidatif, kerusakan DNA, dan proliferasi sel. Paparan cahaya berulang di malam hari dapat menekan sinyal melatonin normal," jelasnya.

Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa kurang tidur kronis dapat menyebabkan peradangan sistemik yang memengaruhi fungsi sel imun dan regulasi metabolisme. "Stres oksidatif yang berlebihan dapat merusak protein dan DNA, tetapi kerusakan DNA tidak secara otomatis menyebabkan kanker karena sel memiliki cara untuk memperbaikinya. Namun, kerusakan DNA yang berulang bersamaan dengan kegagalan untuk mengatur proses tersebut dapat menciptakan kondisi yang pada akhirnya akan mengakibatkan karsinogenesis, yaitu transformasi sel normal menjadi sel ganas," tutupnya.

Artikel Terkait