🔴 Breaking
Kesehatan

Pentingnya Memahami Mindfulness Tanpa Terjebak dalam Toxic Positivity

Diskusi tentang mindfulness di tengah krisis mendapat perhatian, dengan psikiater mengingatkan agar sikap positif tidak mengarah pada toxic positivity yang dapat menyakiti orang lain.

Raihan Fadhila

Penulis

15 September 2026
5 kali dibaca
Foto: Getty Images/irina_girich
Foto: Getty Images/irina_girich

Jakarta - Perdebatan mengenai konsep mindfulness yang muncul di tengah situasi bencana mendapatkan sorotan. Psikiater dari RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, Lahargo Kembaren, mengingatkan agar ajakan untuk selalu berpikir positif di ruang publik tidak berubah menjadi toxic positivity, yang dapat melukai perasaan orang lain.

Dr. Lahargo menjelaskan bahwa toxic positivity muncul ketika dorongan untuk selalu bersikap positif mengabaikan atau menyangkal emosi negatif, penderitaan, dan realitas sulit yang dialami oleh para korban. "Toxic positivity terjadi ketika dorongan untuk selalu berpikir positif justru membuat emosi negatif, penderitaan, atau realitas sulit menjadi diabaikan, diremehkan, bahkan disangkal. Contohnya: 'Jangan sedih, harus bersyukur', 'Jangan terlalu dipikirkan, positive thinking saja', atau 'Semua pasti ada hikmahnya'. Kalimat-kalimat tersebut tidak selalu salah, tetapi timing dan konteks sangat menentukan," ungkapnya saat dihubungi.

Empati dalam Situasi Krisis

Dia menekankan bahwa dalam situasi krisis atau bencana, empati tidak selalu membutuhkan nasihat atau ajakan untuk berpikir positif. Ungkapan yang dimaksudkan untuk perawatan diri (self-care) bisa terasa menyakitkan jika disampaikan tanpa kepekaan terhadap kondisi psikologis masyarakat yang sedang berduka.

Mindfulness Sejati dan Realitas

Meluruskan pemahaman tentang mindfulness, Lahargo menegaskan bahwa mindfulness bukanlah menutup mata terhadap berita buruk atau menghindari bencana. Sebaliknya, mindfulness adalah kemampuan untuk menyadari realitas yang ada dengan jelas agar seseorang bisa mengelola emosinya dan merespons dengan tindakan yang konstruktif. "Jadi mindfulness bukan berarti menutup mata terhadap berita buruk, penderitaan, atau bencana. Justru kita mengakui realitas tersebut sambil menjaga agar emosi kita tidak sampai mengambil alih seluruh kemampuan untuk berpikir dan bertindak," jelasnya.

Ia menjelaskan perbedaan mendasar antara mindfulness dan toxic positivity terletak pada bagaimana seseorang merespons emosi yang muncul saat menghadapi bencana. "Dan mungkin pembeda paling sederhana antara mindfulness dan toxic positivity adalah, mindfulness memberi ruang pada emosi, toxic positivity menyuruh emosi segera pergi. Mindfulness bukan memalingkan wajah dari realitas. Mindfulness membantu kita menghadapi realitas tanpa kehilangan diri sendiri," tutup dr. Lahargo.

Artikel Terkait