China telah menyatakan pendapatnya mengenai seruan dari beberapa pemimpin perusahaan teknologi di Amerika Serikat yang meminta untuk "menginjak rem" dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Seruan ini diawali oleh CEO Anthropic, Dario Amodei, dan didukung oleh CEO OpenAI, Sam Altman, serta Elon Musk dari xAI. Mereka mengungkapkan kekhawatiran bahwa perkembangan AI berlangsung terlalu cepat, sementara teknologi pengamanan dan penyelarasan AI belum memadai.
Pemerintah China menyatakan kesepakatan bahwa risiko yang ditimbulkan oleh AI perlu ditangani. Namun, mereka menolak jika isu keselamatan ini dipandang sebagai persaingan antara AS dan China, serta tidak setuju jika hal tersebut digunakan untuk membatasi kemajuan teknologi di China. Menurut mereka, keselamatan AI adalah masalah global yang harus diselesaikan melalui kerja sama yang terbuka dan inklusif, bukan dengan membangun narasi bahwa kemajuan AI di China merupakan ancaman bagi negara lain.
Seruan untuk Memperlambat Pengembangan AI
Salah satu pemicu masuknya nama China dalam perdebatan mengenai perlambatan pengembangan AI adalah komentar dari Dario Amodei. Dalam esai yang dipublikasikan pada 12 September 2026 berjudul "We Must Pace the Frontier", Amodei menyerukan agar industri AI memperlambat peningkatan kemampuan model-model AI terdepan. Ia menekankan bahwa kemampuan AI kini berpotensi berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahami dan mengamankannya.
Amodei mengkhawatirkan bahwa industri terlalu fokus pada pencapaian model yang semakin canggih, sementara penelitian terkait keselamatan, interpretabilitas, dan penyelarasan AI dengan kepentingan manusia belum sejalan. Ia mengusulkan agar perusahaan-perusahaan mengembangkan AI dengan kecepatan yang lebih seimbang, memberikan cukup waktu untuk menguji dan mengamankan setiap model sebelum peningkatan kemampuan dilakukan.
Dilema dan Tantangan Global
Amodei juga mengangkat dilema besar mengenai kemungkinan bahwa jika perusahaan-perusahaan AS sepakat untuk memperlambat pengembangan AI, tetapi China tidak melakukan hal yang sama. Dalam wawancara dengan CBS News, ia menyebut situasi ini sebagai "dilema terberat". Ia khawatir bahwa perusahaan-perusahaan di China akan terus mengembangkan AI dengan kecepatan penuh, sementara perusahaan-perusahaan AS menginjak rem, yang dapat menyebabkan keunggulan teknologi AS menyusut.
Amodei memperingatkan bahwa keunggulan China dalam bidang AI dapat menimbulkan ancaman besar bagi AS dan dunia. Ia mendorong AS untuk mempertahankan pembatasan ekspor chip AI canggih dan peralatan pembuat chip ke China, serta menyerukan tindakan terhadap dugaan praktik distillation oleh laboratorium AI di China.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menanggapi narasi ancaman dan konfrontasi yang berkembang, menyatakan bahwa hal tersebut dapat mengganggu upaya global dalam membangun tata kelola AI. Ia menekankan pentingnya kerja sama untuk memajukan AI dengan cara yang bermanfaat bagi semua pihak.
Media yang didukung pemerintah China, Global Times, mengkritik esai Amodei, menyebutnya sebagai seruan yang tampak rasional namun didasari oleh pola pikir "Perang Dingin" terhadap China. Mereka menilai bahwa usulan tersebut bertujuan untuk menghambat perkembangan AI di China melalui pembatasan teknologi dan regulasi yang monopoli.
Global Times menyebut pendekatan tersebut sebagai "Perang Dingin AI secara diam-diam", yang dianggap sebagai solusi jangka pendek. Mereka menyoroti kontradiksi dalam sikap Amodei yang ingin bekerja sama dengan China untuk memperlambat AI secara global, namun juga meminta AS untuk membatasi akses China terhadap teknologi yang diperlukan untuk pengembangan AI.
Meski China mengakui adanya risiko dalam pengembangan AI, mereka juga menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara pengembangan dan keamanan AI. Menteri Keamanan China, Chen Yixin, menyatakan bahwa negara harus menyempurnakan hukum dan pedoman etika terkait AI untuk melindungi masyarakat dan keamanan nasional.
Di tengah ketegangan ini, AS dan China dilaporkan sedang mempersiapkan dialog mengenai risiko keselamatan AI, yang mungkin akan dibahas dalam pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada 24 September mendatang di Washington, AS.