🔴 Breaking
Ekonomi

Rupiah Melemah, Tembus 17.500 per USD pada 12 Mei 2026

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan, mencapai 17.500 per USD pada hari ini, Selasa, 12 Mei 2026. Analis memprediksi potensi pelemahan lebih lanjut akibat situasi geopolitik dan ko...

Maya Soraya Larasati

Penulis

12 May 2026
8 kali dibaca
Rupiah Melemah, Tembus 17.500 per USD pada 12 Mei 2026
Stabilkan Rupiah, cadangan devisa tergerus

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa, 12 Mei 2026. Rupiah tercatat melemah sebesar 69 poin atau 0,40 persen, menjadi 17.483 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di level 17.414 per dolar AS. Pada pukul 10.20 WIB, kurs rupiah bahkan telah menembus angka 17.510 per USD, menurut data dari wise.com.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh meredupnya harapan untuk tercapainya perdamaian antara AS dan Iran. "Rupiah diperkirakan akan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meredupnya harapan damai AS-Iran serta harga minyak mentah dunia yang masih tinggi," ungkapnya.

Menurut laporan Xinhua, Iran telah mengajukan draf proposal kepada AS untuk menghentikan konflik di semua lini, yang mencakup jaminan tidak ada lagi agresi terhadap Iran, serta pencabutan sanksi AS dan blokade angkatan laut. Proposal tersebut juga menuntut jangka waktu 30 hari untuk mencabut sanksi AS terkait penjualan minyak Iran, serta pelepasan aset Iran yang dibekukan. Sebelumnya, Iran menolak usulan perdamaian dari AS, yang dianggapnya sebagai penerimaan terhadap tuntutan yang berlebihan dari Washington.

Sentimen Pasar dan Prediksi Selanjutnya

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa tanggapan Iran terhadap proposal AS untuk mengakhiri konflik sangat tidak dapat diterima. Di sisi lain, para investor domestik kini menantikan data penjualan ritel Indonesia untuk bulan Maret 2026 yang akan dirilis siang ini. "Penjualan ritel diperkirakan sedikit lebih tinggi, yaitu 6,8 persen, dibandingkan Februari yang tercatat 6,5 persen," jelas Lukman.

Selain itu, pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) diprediksi tidak akan memberikan dampak positif pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan dapat berkontribusi pada tekanan terhadap rupiah. "Akan ada saham-saham yang didepak, dan beberapa saham kapitalisasi besar yang di downgrade," tambahnya. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, diperkirakan rupiah akan berkisar antara 17.350 hingga 17.500 per dolar AS.

Artikel Terkait