Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mengungkapkan bahwa meskipun harga kedelai saat ini masih di bawah harga acuan pemerintah, ada berbagai faktor lain yang memengaruhi biaya produksi tahu dan tempe. Di Jakarta, Wibowo Nurcahyo selaku Sekretaris Jenderal Gakoptindo menjelaskan bahwa subsidi kedelai sebesar Rp 2.000 per kilogram yang diberikan oleh pemerintah telah menjadi dukungan penting bagi para perajin dalam menghadapi tekanan ekonomi dan fluktuasi harga bahan baku.
Peran Subsidi dalam Menjaga Usaha
Wibowo menekankan bahwa bantuan tersebut sangat berarti bagi pelaku usaha yang selama ini bergantung pada kedelai impor. "Subsidi pemerintah berupa potongan harga Rp 2.000 per kilogram sangat membantu perajin tempe dan tahu di tengah situasi ekonomi saat ini,” ujarnya. Meskipun kebutuhan kedelai nasional masih didominasi oleh impor, pemerintah berupaya meningkatkan produksi kedelai dalam negeri melalui pengembangan benih unggul dan perluasan lahan tanam yang melibatkan Kementerian Pertanian serta dukungan dari berbagai pihak.
Wibowo optimis bahwa langkah-langkah tersebut akan memperkuat pasokan kedelai lokal di masa depan. "Saat ini pemerintah sedang mengoptimalkan produksi benih dan budidaya kedelai lokal. Kami di Gakoptindo yakin pemerintah bisa meningkatkan produksi dalam negeri,” tambahnya.
Faktor Lain yang Mempengaruhi Biaya Produksi
Walaupun harga kedelai berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP), Wibowo menjelaskan bahwa biaya produksi tidak hanya ditentukan oleh harga kedelai. Beberapa komponen lain seperti harga minyak goreng, bahan kemasan plastik, serta melemahnya daya beli masyarakat juga turut memengaruhi kondisi usaha para perajin. "Harga kedelai memang masih di bawah HAP, tetapi ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan biaya produksi dan penjualan, seperti minyak, plastik, serta daya beli masyarakat yang saat ini belum sepenuhnya pulih,” ungkapnya.
Gakoptindo juga mengingatkan bahwa kenaikan harga kedelai impor masih mungkin terjadi. Wibowo menyatakan bahwa faktor geopolitik global dan dinamika perdagangan internasional menjadi risiko yang perlu diantisipasi. "Kenaikan harga kedelai impor sangat mungkin terjadi karena dipengaruhi berbagai faktor eksternal, termasuk kondisi geopolitik dunia,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia menilai kebijakan subsidi kedelai yang diberikan pemerintah saat ini sangat penting bagi keberlangsungan usaha tahu dan tempe. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, bantuan ini diharapkan dapat menjaga kelangsungan usaha serta menahan kenaikan harga produk di tingkat konsumen. “Alhamdulillah, subsidi kedelai dari pemerintah sangat membantu pengrajin dalam menghadapi situasi saat ini,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengakui bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah meningkatkan biaya impor kedelai. Untuk menjaga stabilitas harga bahan baku tahu dan tempe, pemerintah menyiapkan subsidi kedelai sebesar Rp 2.000 per kilogram. Zulkifli menjelaskan bahwa kedelai impor masih mendominasi pasokan bahan baku industri tahu dan tempe nasional, sehingga penguatan dolar AS memberikan dampak langsung terhadap harga kedelai di dalam negeri.
"Tadi kami sudah memutuskan rapat di sini, kedelai yang hampir 100 persen impor itu, tentu akan terkait harganya, mungkin tidak naik tapi ukurannya kurang," kata Zulkifli di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Pemerintah juga memutuskan untuk memberikan subsidi sebesar Rp 2.000 per kilogram untuk tahap pertama sebanyak 250 ribu ton kedelai, yang akan dijalankan melalui Perum Bulog.
Menurut Zulkifli, hasil rapat koordinasi tersebut akan diteruskan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan untuk ditindaklanjuti. "Kita putuskan di sini, nanti akan diusulkan, nanti yang teknis selanjutnya tentu Menteri Perekonomian bersama Kementerian Keuangan, kami akan buat surat ke sana, tapi ini sudah lapor ke Bapak Presiden," ujarnya.