🔴 Breaking
Ekonomi

--- Transformasi Penggunaan Warisan Triliunan Dolar oleh Generasi Muda Miliarder ---

--- Generasi penerus miliarder yang akan menerima warisan triliunan dolar berencana untuk memanfaatkan kekayaan tersebut dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. ---

Arjuna Mahendra

Penulis

25 June 2026
9 kali dibaca
Ilustrasi miliarder. (Dok: Foto AI)
Ilustrasi miliarder. (Dok: Foto AI)
---TITLEEXCERPT--- Generasi penerus miliarder yang akan menerima warisan triliunan dolar berencana untuk memanfaatkan kekayaan tersebut dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. ---CONTENT---

Proses transfer kekayaan sedang berlangsung, di mana para ahli waris miliarder yang akan menerima triliunan dolar berencana untuk menggunakan dana tersebut dengan cara yang tidak sama dengan generasi sebelumnya. Berdasarkan informasi dari UBS, diperkirakan sekitar US$ 83,5 triliun akan berpindah dari generasi baby boomers dan pengusaha senior kepada anak cucu mereka dalam dua dekade mendatang. Keluarga miliarder diperkirakan akan mentransfer sekitar US$ 6,9 triliun pada tahun 2040.

Perubahan Paradigma dalam Pengelolaan Kekayaan

UBS menyatakan, “Dunia sedang memasuki masa transfer kekayaan antar generasi,” sebagaimana dilaporkan oleh CNBC. Para pakar kekayaan menjelaskan bahwa generasi pertama umumnya membangun kekayaan mereka di sektor-sektor yang mereka pahami dengan baik, seperti bisnis keluarga, properti, atau saham blue-chip lokal. Di sisi lain, generasi penerus lebih cenderung mengejar pendidikan internasional dan terbuka terhadap berbagai jenis investasi.

Elizabeth Hart, CEO dan Pendiri Legacy Wealth Advisor, menjelaskan, “Generasi pertama adalah para pembangun. Kekayaan mereka biasanya terikat pada satu kelas aset tunggal yang paling mereka pahami, biasanya berupa bisnis operasional keluarga atau saham blue-chip lokal.” Ia menambahkan, “Sedangkan para pewaris muda biasanya cenderung melihat kekayaan menggunakan lensa dunia.”

Kecenderungan Investasi Generasi Muda

Menurut Natixis Investment Managers, 53% generasi milenial lebih tertarik untuk mencari peluang di aset privat dibandingkan dengan investor yang lebih tua. Selain itu, 62% dari mereka cenderung mendiskusikan mata uang kripto dengan penasihat keuangan, sementara 44% berencana untuk meningkatkan atau memulai investasi kripto dalam satu tahun ke depan. Generasi muda ini juga menunjukkan kenyamanan yang lebih besar terhadap risiko; Natixis menemukan bahwa 78% milenial di kawasan Asia-Pasifik ingin memiliki peluang untuk mengalahkan pasar, dibandingkan dengan 38% baby boomers yang bersedia mengambil risiko demi keuntungan lebih tinggi.

Tobias Prestel, pendiri Prestel & Partner, menambahkan bahwa generasi muda pemilik kekayaan saat ini memandang uang bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. “Sebagian besar orang tua melihat uang adalah segalanya dan lebih banyak uang itu lebih bagus. Namun, sebagian besar anak muda melihat uang hanyalah sebuah alat,” ujarnya. “Tahapan mereka adalah melihat bagaimana uang tersebut digunakan, bukan sekadar dinikmati,” lanjutnya.

Perubahan pola pikir ini juga memengaruhi kebiasaan belanja. Banyak ahli waris muda lebih memprioritaskan pengalaman, mobilitas, dan gaya hidup internasional. Prestel juga mengungkapkan bahwa mereka lebih jarang mengoleksi mobil dan lebih memilih memiliki tempat tinggal di berbagai belahan dunia, dikombinasikan dengan hobi bepergian dan eksposur terhadap properti global. UBS juga menemukan bahwa hampir setengah dari investor generasi mendatang sangat antusias untuk mempelajari tentang investasi yang berdampak dan berkelanjutan.

Peralihan ini juga memengaruhi cara keluarga mengelola kekayaan mereka. Pihak bank menemukan bahwa generasi baru memandang warisan sebagai bentuk tanggung jawab. Salah satu responden UBS menyatakan, “Saya dan saudara saya tidak menganggap warisan sebagai sesuatu yang akan kami dapatkan, melainkan sebagai tanggung jawab kami untuk bekerja sebaik yang ayah kami lakukan.”

Meskipun jumlah kekayaan yang berpindah tangan sangat besar, proses transfer ini tidak akan terhambat secara luas. Para penasihat keuangan menyebutkan bahwa risiko terbesar terhadap pelestarian kekayaan sering kali berasal dari dalam keluarga itu sendiri. “Keretakan yang terjadi bukanlah karena kekurangan uang, melainkan karena kurangnya komunikasi,” kata Hart dari Legacy Wealth Advisors. Banyak generasi pertama masih enggan melepaskan kekayaan mereka, terutama di Asia, di mana kekayaan sering kali terkait dengan patriarki dan matriarki keluarga.

Di sisi lain, para ahli waris mulai menuntut transparansi yang lebih besar, perencanaan suksesi, dan struktur tata kelola atas aset keluarga. “Bahkan dengan adanya rencana suksesi sekalipun, penghancur kekayaan terbesar adalah perselisihan keluarga,” tambah Hart. Seiring dengan berpindahnya warisan, para penasihat keuangan menekankan bahwa keberhasilan transfer ini semakin bergantung pada kesiapan ahli waris untuk menerima tanggung jawab, bukan hanya sekadar penataan struktur aset.

Artikel Terkait