Seorang agen dari FBI yang memiliki akses rahasia yang tinggi, terlibat dalam pencurian aset kripto senilai hampir 1 juta dolar AS. Ironisnya, aset yang dicurinya berasal dari akun-akun yang sedang dalam pengawasan FBI. Agen tersebut, Patrick Steven Yaroch, berusia 37 tahun, bertugas di markas besar FBI di Washington DC sebagai anggota tim investigasi keamanan nasional yang fokus pada aktivitas kripto yang terkait dengan "negara musuh".
Dokumen pengadilan mengungkapkan bahwa Yaroch mencuri lebih dari 900.000 dolar AS, setara dengan sekitar Rp 16,2 miliar, dalam bentuk aset kripto. Berdasarkan dokumen yang menjadi dasar dakwaan, motif di balik tindakan Yaroch cukup mengejutkan. Ia menemukan kepemilikan kripto tersebut saat menjalankan tugasnya sebagai anggota skuad investigasi keamanan nasional FBI. Alih-alih melaporkan penemuan tersebut melalui jalur resmi atau menunggu proses hukum, Yaroch justru memanfaatkan akses internal lembaganya untuk memindahkan aset kripto tersebut ke akun pribadinya.
Pelanggaran Etika dan Penangkapan
FBI diketahui secara rutin mengumpulkan intelijen mengenai berbagai akun kripto yang diduga digunakan oleh aktor kriminal serta negara-negara seperti Rusia dan China. Setelah pelanggaran ini terungkap, FBI segera memecat Yaroch, dan ia ditangkap pada pekan lalu. Dakwaan yang dikenakan padanya mencakup tuduhan pengangkutan barang curian lintas negara bagian dan penerimaan barang curian.
Detail yang paling menarik perhatian publik muncul ketika agen-agen FBI mendatangi rumah Yaroch untuk diinterogasi sebulan sebelum penangkapannya. Salah satu hal yang mencolok adalah jejak digital Yaroch, di mana ia sempat mengajukan pertanyaan yang mencurigakan kepada ChatGPT. Ia bertanya, "Kalau kamu punya setumpuk uang (sekitar 1 juta dolar AS) dan ingin meninggalkan Amerika Serikat untuk jadi penduduk atau warga negara di sebuah negara Uni Eropa, apa yang akan kamu lakukan?" Pertanyaan ini menunjukkan bahwa Yaroch telah mulai merencanakan pelarian dari Amerika Serikat bahkan sebelum penyelidikan internal FBI menjeratnya.
Komitmen FBI terhadap Etika
Menanggapi kasus ini, juru bicara FBI mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan komitmen lembaga tersebut terhadap standar etika. Juru bicara tersebut menyatakan bahwa FBI berpegang pada standar etika tertinggi bagi seluruh karyawannya, dan pihak berwenang sedang melakukan investigasi menyeluruh terkait kasus ini.
Kasus Yaroch ini menambah daftar insiden serupa yang melibatkan individu dalam pemerintahan Amerika Serikat yang menyalahgunakan akses mereka untuk mencuri aset kripto. Pada Maret 2026, seorang kontraktor pemerintah bernama John Daghita ditangkap oleh otoritas Amerika Serikat dan Prancis di Pulau Saint Martin. Daghita didakwa mencuri lebih dari 46 juta dolar AS (sekitar Rp 828 miliar) dari U.S. Marshals Service, lembaga penegak hukum federal yang bertugas menyita aset hasil kejahatan. Penangkapan Daghita merupakan hasil operasi gabungan antara FBI dan unit elite Gendarmerie Prancis.