Berlangganan →
Update
OPEC+ Rencanakan Peningkatan Produksi Minyak di Tengah Ketegangan AS-Iran Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Tekanan Berlanjut di Mei 2026 Apakah 'Tulang Besar' Menyebabkan Kenaikan Berat Badan? Ini Penjelasannya Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg Sebagai Pengganti LPG 3 Kg, Bahlil: Lebih Hemat 40 Persen Laporan Oxfam: Kenaikan Gaji CEO di AS 20 Kali Lebih Cepat dari Pekerja Altos Luncurkan Solusi AI dan Cloud untuk Dukung Transformasi Digital di Indonesia Riyan Hidayat Maju Sebagai Calon Ketua Umum Barisan Muda PAN Periode 2026-2031 Viral Gadis 23 Tahun di Madura Mengalami Pertumbuhan Brewok Akibat Hirsutisme Pelatihan Tata Rias di Jepara: Membangun Keterampilan dan Kepercayaan Diri Masyarakat UIN Saizu Menegaskan Komitmen Terhadap Pendidikan Berkualitas dalam Upacara Hardiknas 2026 OPEC+ Rencanakan Peningkatan Produksi Minyak di Tengah Ketegangan AS-Iran Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Tekanan Berlanjut di Mei 2026 Apakah 'Tulang Besar' Menyebabkan Kenaikan Berat Badan? Ini Penjelasannya Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg Sebagai Pengganti LPG 3 Kg, Bahlil: Lebih Hemat 40 Persen Laporan Oxfam: Kenaikan Gaji CEO di AS 20 Kali Lebih Cepat dari Pekerja Altos Luncurkan Solusi AI dan Cloud untuk Dukung Transformasi Digital di Indonesia Riyan Hidayat Maju Sebagai Calon Ketua Umum Barisan Muda PAN Periode 2026-2031 Viral Gadis 23 Tahun di Madura Mengalami Pertumbuhan Brewok Akibat Hirsutisme Pelatihan Tata Rias di Jepara: Membangun Keterampilan dan Kepercayaan Diri Masyarakat UIN Saizu Menegaskan Komitmen Terhadap Pendidikan Berkualitas dalam Upacara Hardiknas 2026
Kesehatan

Apakah 'Tulang Besar' Menyebabkan Kenaikan Berat Badan? Ini Penjelasannya

Banyak orang mengaitkan penampilan tubuh yang lebih gemuk dengan faktor "tulang besar". Namun, apakah benar struktur tulang berpengaruh terhadap berat badan? Simak penjelasan berikut.

Raihan Fadhila 03 May 2026 4 pembaca health.detik.com health.detik.com
Apakah 'Tulang Besar' Menyebabkan Kenaikan Berat Badan? Ini Penjelasannya
Mitos tulang besar kerap jadi kambing hitam penyebab cepat gemuk. Foto: iStock

Jakarta - Pernahkah Anda merasa tubuh terlihat lebih gemuk meski tidak makan berlebihan, dan menyalahkan "tulang besar" sebagai penyebabnya? Istilah ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, bahkan menjadi alasan utama saat berat badan meningkat. Namun, apakah benar bahwa struktur tulang dapat membuat seseorang tampak lebih gemuk?

Di balik anggapan yang sudah lama beredar ini, terdapat perbedaan penting antara ukuran rangka tubuh dan penumpukan lemak. Keduanya dapat membuat tubuh terlihat lebih besar, tetapi berasal dari kondisi yang sangat berbeda. Lalu, bagaimana kita bisa membedakannya? Dan apakah benar "tulang besar" dapat menjelaskan bentuk tubuh seseorang?

Istilah "tulang besar" sering digunakan untuk menggambarkan tubuh yang tampak lebih berisi meskipun pola makan tidak berlebihan. Namun, dalam konteks medis, istilah ini bukanlah kategori atau diagnosis resmi untuk menjelaskan berat badan seseorang. Istilah yang lebih tepat adalah ukuran kerangka tubuh (frame size), yang mengacu pada variasi bentuk dan lebar rangka antar individu. Ada orang yang memiliki bahu lebih lebar, panggul lebih besar, atau pergelangan tangan yang lebih tebal. Meskipun perbedaan ini nyata, pengaruhnya terhadap berat badan dan tampilan tubuh sering kali tidak sebesar yang dibayangkan.

Untuk menentukan apakah seseorang memiliki struktur tulang yang lebih besar, pengamatan visual tidaklah cukup. Diperlukan pemeriksaan yang dapat menilai kepadatan dan komposisi tubuh secara objektif. Seorang praktisi kesehatan menjelaskan bahwa anggapan "tulang besar" tidak bisa disimpulkan secara sembarangan. "Bisa iya, bisa tidak, karena itu harus dicek kepadatan tulangnya, dicek komposisi tulangnya. Jadi ya bisa saja tulangnya memang besar, tapi kita tidak bisa mengatakan tanpa studi berbasis bukti," ujarnya.

Di sisi lain, tulang hanya menyumbang sebagian kecil dari total berat tubuh. Artinya, meskipun seseorang memiliki kerangka tubuh yang lebih besar, pengaruhnya terhadap kesan "gemuk" relatif terbatas. Dalam banyak kasus, perubahan bentuk tubuh yang terlihat lebih dipengaruhi oleh lemak tubuh dan massa otot, bukan hanya ukuran tulang.

Dengan demikian, meskipun "tulang besar" memiliki dasar dalam variasi anatomi manusia, tidak cukup kuat untuk dijadikan penjelasan utama mengapa seseorang terlihat gemuk. Untuk memahami kondisi tubuh secara lebih akurat, diperlukan pendekatan yang melihat komposisi tubuh secara keseluruhan, bukan hanya ukuran rangka.

Dalam praktiknya, tampilan tubuh lebih dipengaruhi oleh komposisi tubuh, terutama perbandingan antara lemak dan massa otot. Komponen utama yang membentuk tubuh manusia meliputi tulang, otot, lemak, dan cairan. Dari semua komponen tersebut, lemak tubuh adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kesan "gemuk". Penumpukan lemak, terutama di area perut, lengan, dan paha, akan membuat tubuh tampak lebih penuh dan berisi. Hal ini berkaitan dengan kondisi overweight hingga obesitas.

Di sisi lain, massa otot juga dapat membuat tubuh terlihat lebih besar, tetapi dengan karakter yang berbeda. Tubuh yang didominasi otot biasanya tampak lebih padat dan proporsional, bukan "bergelambir". Oleh karena itu, angka berat badan saja tidak selalu mencerminkan kondisi kesehatan; dua orang dengan berat yang sama bisa memiliki tampilan dan risiko kesehatan yang berbeda tergantung pada komposisinya.

Sementara itu, rangka tubuh lebih berperan sebagai "kerangka dasar" yang menentukan bentuk umum, seperti lebar bahu atau panggul. Namun, kontribusinya terhadap perubahan ukuran tubuh sehari-hari relatif kecil. Rangka tubuh cenderung stabil dalam jangka pendek, berbeda dengan lemak dan otot yang dapat berfluktuasi tergantung pada pola makan dan aktivitas fisik.

Selain jumlah lemak, distribusi lemak juga berperan besar. Lemak yang menumpuk di area perut (lemak visceral) dapat membuat tubuh tampak lebih besar dan meningkatkan risiko penyakit metabolik. Sebaliknya, distribusi lemak di area tertentu seperti pinggul atau paha dapat memberikan kesan tubuh "berisi", meskipun belum tentu masuk kategori obesitas.

Dengan memahami perbedaan ini, menjadi lebih jelas bahwa tampilan tubuh tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal seperti "tulang besar". Justru kombinasi antara lemak, otot, dan distribusinya yang paling menentukan, baik dari sisi penampilan maupun kesehatan.

Membedakan antara "tulang besar" dan obesitas tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan tampilan fisik. Diperlukan beberapa indikator yang lebih objektif untuk menilai apakah tubuh seseorang lebih dipengaruhi oleh struktur rangka atau penumpukan lemak. Salah satu metode yang umum digunakan adalah Indeks Massa Tubuh (BMI), yang digunakan sebagai skrining awal untuk menilai status berat badan berdasarkan tinggi dan berat badan. Nilai BMI yang tinggi umumnya berkaitan dengan kelebihan lemak tubuh, bukan ukuran tulang. Namun, BMI tidak dapat membedakan secara detail antara lemak dan otot, sehingga perlu dilengkapi dengan indikator lain.

Selain BMI, lingkar pinggang juga menjadi ukuran penting untuk melihat distribusi lemak, terutama di area perut. Lemak yang menumpuk di bagian ini tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit seperti diabetes dan gangguan jantung.

Pendekatan yang lebih akurat adalah dengan melihat komposisi tubuh, yaitu perbandingan antara lemak, otot, dan massa tulang. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari Bioelectrical Impedance (BIA) yang umum ditemukan pada timbangan digital, hingga metode yang lebih akurat seperti Dual-Energy X-ray Absorptiometry (DEXA/DXA). Pemeriksaan DEXA tidak hanya dapat menilai komposisi tubuh secara menyeluruh, tetapi juga mengukur kepadatan tulang, sehingga memberikan gambaran yang lebih objektif terkait struktur tubuh seseorang.

Menurut para ahli, klaim "tulang besar" tidak dapat ditentukan tanpa pemeriksaan yang jelas terhadap kepadatan dan komposisi tubuh. Artinya, tanpa data objektif, sulit untuk memastikan apakah seseorang memiliki rangka yang lebih besar atau hanya mengalami peningkatan lemak tubuh.

Ukuran rangka tubuh secara sederhana memang bisa diperkirakan melalui indikator seperti lingkar pergelangan tangan atau lebar bahu dan panggul. Namun, cara ini hanya memberikan gambaran kasar tentang struktur tubuh, bukan penentu utama apakah seseorang mengalami kelebihan berat badan.

Dengan menggabungkan berbagai indikator ini, mulai dari BMI, lingkar pinggang, hingga komposisi tubuh dan pemeriksaan seperti DEXA, penilaian menjadi lebih menyeluruh. Pada akhirnya, yang perlu dipahami adalah bahwa ukuran rangka hanya satu bagian kecil dari keseluruhan gambaran, sementara faktor yang paling menentukan kondisi tubuh tetaplah jumlah dan distribusi lemak.

Artikel Terkait