Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk melakukan pemadaman listrik di masa depan. "Insya Allah nggak," ungkap Bahlil dalam pernyataannya yang diambil dari Antara pada Kamis (18/6/2026).
Strategi Pemenuhan Listrik
Bahlil bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, telah melakukan pembahasan mengenai strategi untuk memastikan pelayanan listrik kepada masyarakat dapat berjalan dengan baik. Salah satu topik yang dibahas adalah skema pembayaran kompensasi dan subsidi untuk PT PLN (Persero) agar perusahaan tersebut memiliki kapasitas keuangan yang cukup untuk menyuplai listrik.
Tim Pengadaan Batu Bara
Untuk mengatasi masalah dalam pemenuhan kebutuhan pembangkit listrik, Bahlil telah membentuk tim pengadaan batu bara dengan kalori sedang. Tim ini terdiri dari perwakilan PLN, Direktorat Jenderal Minerba, dan BPKP. "Dalam rangka pengawasan energi primer agar tidak begini terus, maka kami membentuk tim pengadaan," jelas Bahlil dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Menurut Bahlil, PLN mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan batu bara dengan kalori medium, disebabkan oleh harga jual yang rendah ke PLN. Perusahaan menjual batu bara dengan mengacu pada harga pemenuhan kebutuhan domestik atau domestic market obligation (DMO) sebesar US$ 70 per ton, sementara harga batu bara acuan (HBA) untuk periode I Juni 2026 ditetapkan sebesar US$ 121,83 per ton.
Menanggapi masalah ini, Bahlil mengungkapkan bahwa ia telah menerima instruksi dari Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan koordinasi dengan PLN, Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, serta BPKP terkait pemenuhan kebutuhan batu bara untuk PLN. "Ini (pembentukan tim) agar tidak ada dusta di antara kita. Sudah capek ngomong sana lain, ngomong sini lain, tulis lain, baca lain, bikin lain. Aku tahu ada sesuatu, tetapi udahlah. Kita sama-sama memahami, yang penting kita memberikan pelayanan yang terbaik untuk negara," tutup Bahlil.