🔴 Breaking
Kesehatan

BMKG: Fenomena Suhu Dingin Terjadi di Beberapa Daerah Selain Pulau Jawa

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa fenomena suhu dingin atau bediding tidak hanya terjadi di Pulau Jawa, tetapi juga di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Ten...

Galang Mahesa

Penulis

30 July 2026
4 kali dibaca
Bromo (Foto: ANTARA FOTO /Irfan Sumanjaya)
Bromo (Foto: ANTARA FOTO /Irfan Sumanjaya)

Jakarta - Masyarakat saat ini merasakan fenomena suhu dingin atau bediding yang tidak hanya terjadi di Pulau Jawa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa fenomena serupa juga dialami oleh daerah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa fenomena bediding merupakan hal yang normal terjadi pada musim kemarau. Ia memperkirakan kondisi ini akan berlanjut hingga puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. "Fenomena suhu dingin atau bediding di Jawa saat ini merupakan hal yang normal pada musim kemarau. BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, mengenakan pakaian hangat saat malam/pagi, serta menjaga asupan cairan. Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung hingga puncak kemarau pada Agustus-September 2026 dan tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga di Bali, NTB, dan NTT," ungkap Guswanto saat dihubungi.

Data Suhu di Beberapa Wilayah

Berikut adalah data suhu di beberapa wilayah yang mengalami fenomena suhu dingin bediding:

  • Jawa Timur: Batu 12 derajat Celsius, Bromo 5,1 derajat Celsius
  • Jawa Tengah: Dieng -6 derajat Celsius (embun es), Wonosobo 14-17 derajat Celsius
  • Jawa Barat: Beberapa daerah pegunungan di bawah 15 derajat Celsius
  • Bali, NTB, NTT: Suhu lebih rendah pada malam hingga pagi hari

Penyebab dan Imbauan Kesehatan

Guswanto menjelaskan bahwa fenomena bediding umumnya terjadi pada malam hingga pagi hari selama musim kemarau. Langit yang cerah dan minimnya tutupan awan membuat panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas, sehingga suhu udara pada malam hari menjadi lebih rendah. Selain itu, kondisi ini juga dipengaruhi oleh Monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering dari wilayah selatan khatulistiwa. Suhu dingin lebih terasa di wilayah selatan Indonesia, terutama di daerah dataran tinggi.

Ia juga mengingatkan masyarakat yang berada di daerah yang mengalami fenomena bediding untuk tetap menjaga kesehatan. "Cukup cairan tubuh. Meski udara dingin, siang hari tetap terik sehingga tubuh mudah dehidrasi. Waspada penyakit pernapasan. Bediding dapat memicu flu, ISPA, dan gangguan kesehatan lain," tambahnya.

Artikel Terkait