🔴 Breaking
Teknologi

Dampak Ganda Kecerdasan Buatan Terhadap Keamanan Siber di Jakarta

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menghadirkan tantangan dan peluang bagi perusahaan, di mana teknologi ini dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjadi alat bagi pelaku kejaha...

Raihan Fadhila

Penulis

07 August 2026
34 kali dibaca
Ilustrasi AI.(cyberriskalliance.com)
Ilustrasi AI.(cyberriskalliance.com)

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memiliki dua sisi yang saling berhubungan. Di satu sisi, teknologi ini dapat digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi, sementara di sisi lain, pelaku kejahatan siber juga mulai memanfaatkan AI untuk melakukan serangan yang lebih cepat dan kompleks. Nandini Ramani, Wakil Presiden Governance & Compliance Amazon Web Services (AWS), menekankan bahwa perkembangan kemampuan AI menyebabkan pertahanan dan ancaman siber berkembang secara bersamaan.

Menurut Nandini, pelaku kejahatan siber kini memiliki akses ke model AI yang sama dengan yang digunakan oleh perusahaan. Namun, mereka memanfaatkan model tersebut untuk mengidentifikasi celah keamanan dan merancang pola serangan secara otomatis. "Lewat kemampuan mereka yang ditambah lagi dengan kecepatan AI dan mesin, mereka bukan hanya dapat menemukan kelemahan sistem, tetapi juga menciptakannya dengan sangat cepat," ujarnya dalam wawancara di acara AWS Summit Jakarta 2026.

Perlunya Pendekatan Proaktif dalam Keamanan

Nandini berpendapat bahwa perusahaan tidak dapat lagi mengandalkan pendekatan keamanan yang bersifat reaktif. Mereka harus mampu mendeteksi dan menghentikan serangan secara otomatis sebelum dampak yang lebih besar terjadi. Untuk itu, AWS telah mengembangkan berbagai layanan keamanan berbasis AI, termasuk GuardDuty untuk mendeteksi ancaman dan Security Hub yang mengonsolidasikan berbagai sinyal keamanan ke dalam satu dasbor.

Ia menjelaskan bahwa Security Hub terus dikembangkan agar dapat mengintegrasikan solusi keamanan dari berbagai penyedia pihak ketiga, sehingga perusahaan tidak perlu memantau banyak alat secara terpisah. Selain itu, layanan ini juga mendukung lingkungan multi-cloud, memungkinkan perusahaan untuk memantau keamanan aset digital mereka dari satu tempat meskipun menggunakan lebih dari satu penyedia layanan cloud. AWS menerapkan pendekatan keamanan yang dikenal sebagai AWS Continuum, yang mencakup perlindungan menyeluruh dari lapisan komputasi, mulai dari chip, infrastruktur cloud, aplikasi, hingga AI dan agen AI.

AI sebagai Strategi Bisnis

Nandini juga mengingatkan bahwa perusahaan tidak boleh memandang implementasi AI hanya sebagai proyek teknologi atau tanggung jawab tim teknologi informasi. "Ini bukan lagi sekadar infrastruktur yang diserahkan kepada bos teknologi alias Chief Technology Officer (CTO). AI adalah strategi bisnis perusahaan karena menyangkut penggunaan data, keamanan, hingga aspek fairness," tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan temuan AWS, sekitar 24 persen perusahaan telah memiliki strategi bisnis terkait AI. Strategi ini penting untuk memastikan bahwa implementasi AI tidak berjalan tanpa arah dan tidak menimbulkan risiko baru. Selain itu, perusahaan juga perlu menyiapkan strategi tata kelola data dan keamanan sejak awal implementasi AI, agar dapat mengendalikan risiko ketika AI mulai beroperasi secara otonom.

"Keamanan tidak boleh diposisikan sebagai tahap akhir dalam implementasi AI. Di tengah masifnya perkembangan AI, organisasi perlu memastikan inovasi berjalan beriringan dengan penguatan keamanan," tutup Nandini. "Hal ini perlu diperhatikan supaya manfaat AI dapat dirasakan tanpa mengorbankan perlindungan data dan sistem."

Artikel Terkait