🔴 Breaking
Dampak Mengunyah Es Batu pada Kesehatan Gigi Upaya Diplomatik di Timur Tengah Tekan Harga Minyak Dunia Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Transformasi Digital Kesehatan: Tantangan dan Peluang di Seluruh Indonesia Negara Tetangga Meminta Pasokan Beras dari Indonesia Sebanyak 500 Ribu Ton Galon Le Minerale Dapat Penghargaan Excellent dari theAsianparent Awards 2026 Keluarga Miliarder Indonesia Perluas Investasi di Sydney dengan Akuisisi Saham Signifikan Bahaya Penggunaan Baygon pada Ikan Asin yang Dikhawatirkan Menyebabkan Residu Berbahaya Strategi Publikasi Jurnal Scopus Dibagikan Dosen UIN Saizu kepada Mahasiswa Malaysia Luhut Tegaskan Pentingnya Hubungan Baik dengan Singapura Terkait Ekspor Gas Dampak Mengunyah Es Batu pada Kesehatan Gigi Upaya Diplomatik di Timur Tengah Tekan Harga Minyak Dunia Demo BEM UI dan Stabilitas Ekonomi: Kritik, Dampak, dan Pertanyaan soal Arah Gerakan Mahasiswa Transformasi Digital Kesehatan: Tantangan dan Peluang di Seluruh Indonesia Negara Tetangga Meminta Pasokan Beras dari Indonesia Sebanyak 500 Ribu Ton Galon Le Minerale Dapat Penghargaan Excellent dari theAsianparent Awards 2026 Keluarga Miliarder Indonesia Perluas Investasi di Sydney dengan Akuisisi Saham Signifikan Bahaya Penggunaan Baygon pada Ikan Asin yang Dikhawatirkan Menyebabkan Residu Berbahaya Strategi Publikasi Jurnal Scopus Dibagikan Dosen UIN Saizu kepada Mahasiswa Malaysia Luhut Tegaskan Pentingnya Hubungan Baik dengan Singapura Terkait Ekspor Gas
Kesehatan

Dampak Mengunyah Es Batu pada Kesehatan Gigi

Mengunyah es batu mungkin tampak sepele, namun kebiasaan ini dapat merusak gigi secara perlahan. Artikel ini membahas risiko yang mungkin ditimbulkan serta alternatif yang lebih aman.

Maya Soraya Larasati

Penulis

28 October 2026
4 kali dibaca
Ilustrasi es batu. Foto: Getty Images/iStockphoto/invizbk
Ilustrasi es batu. Foto: Getty Images/iStockphoto/invizbk

Setelah menikmati minuman dingin seperti es teh atau es kopi, banyak orang cenderung mengunyah es batu yang tersisa di gelas. Meskipun terasa menyegarkan, kebiasaan ini dapat menyebabkan kerusakan gigi yang serius seiring waktu.

Mengapa Es Batu Berbahaya bagi Gigi?

Email gigi adalah jaringan terkuat dalam tubuh manusia, tetapi bukan berarti tidak rentan. Meskipun keras, email gigi dapat retak jika terkena tekanan yang mendadak. Ketika seseorang menggigit es, gigi mengalami dua jenis tekanan: tekanan mekanis dari kerasnya es dan perubahan suhu yang ekstrem saat es dingin bersentuhan dengan gigi yang hangat. Kombinasi ini dapat menyebabkan retakan halus yang tidak langsung terlihat. Meskipun satu kali menggigit mungkin tidak menimbulkan masalah, kerusakan ini dapat menumpuk dan berakumulasi hingga gigi patah, sering kali saat mengunyah es atau makanan biasa.

Risiko yang Mungkin Terjadi

Beberapa risiko yang dapat muncul akibat kebiasaan mengunyah es batu antara lain:

  • Gigi retak atau pecah: Ini adalah risiko paling umum. Retakan bisa sangat halus dan hanya terdeteksi oleh dokter gigi, namun bisa juga cukup parah hingga menyebabkan sebagian gigi terlepas. Jika retakan mencapai saraf, rasa sakit yang ditimbulkan bisa sangat hebat dan perawatannya menjadi lebih kompleks.
  • Gigi ngilu: Ketika email gigi menipis atau retak, lapisan di bawahnya (dentin) menjadi lebih terbuka, sehingga gigi lebih sensitif terhadap makanan atau minuman dingin, panas, atau manis.
  • Kerusakan pada restorasi gigi: Material seperti tambalan, mahkota, dan veneer tidak sekuat gigi asli. Kerusakan ini dapat menyebabkan tambalan lepas atau mahkota retak, yang biasanya memerlukan biaya perbaikan yang tidak sedikit.
  • Masalah pada kawat gigi: Bracket dapat lepas dan kawat bisa bengkok, memperpanjang waktu perawatan ortodonti.
  • Gusi dan rahang yang terganggu: Pecahan es yang tajam dapat melukai gusi, lidah, atau bagian dalam pipi. Selain itu, otot dan sendi rahang juga bekerja lebih keras, yang dapat memperparah nyeri rahang pada beberapa orang.

Kapan Harus Mencurigai Kebiasaan Ini?

Jika seseorang memiliki dorongan yang kuat untuk mengunyah es, kondisi ini dikenal sebagai pagophagia, yang sering dikaitkan dengan kekurangan zat besi atau anemia. Namun, tidak semua penggemar es mengalami masalah ini; stres juga bisa menjadi pemicu. Jika kebiasaan ini sulit dihentikan, atau jika seseorang merasa lemas, pucat, dan mudah lelah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memeriksa kadar zat besi dalam tubuh.

Alternatif yang Lebih Aman

Untuk mengurangi risiko kerusakan gigi, beberapa alternatif yang lebih aman bisa dipertimbangkan:

  • Es serut atau es yang lebih lembut: Ini tetap memberikan sensasi dingin tanpa membebani gigi.
  • Permen karet tanpa gula: Ini dapat memenuhi kebutuhan mengunyah dan merangsang produksi air liur yang melindungi gigi, meskipun harus berhati-hati bagi yang memiliki kawat gigi atau restorasi.
  • Sayuran dan buah renyah yang didinginkan: Seperti wortel, timun, atau apel, bisa menjadi pilihan yang lebih sehat.
  • Kurangi es dalam minuman: Meminta lebih sedikit es atau menggunakan sedotan dapat mengurangi kontak minuman dingin dengan gigi.

Pentingnya Perawatan Gigi Rutin

Untuk menjaga kesehatan gigi, penting untuk:

  • Sikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride untuk memperkuat email gigi.
  • Gunakan benang gigi atau sikat interdental setiap hari untuk membersihkan sela-sela gigi.
  • Batasi konsumsi makanan dan minuman manis serta asam yang dapat melemahkan email gigi.

Kapan Harus Mengunjungi Dokter Gigi?

Segera periksakan diri ke dokter gigi jika mengalami:

  • Nyeri tajam saat menggigit atau melepaskan gigitan.
  • Gigi ngilu yang tidak kunjung hilang.
  • Bagian gigi yang terasa kasar atau tampak retak.
  • Tambalan, mahkota, atau veneer yang longgar.
  • Gusi yang bengkak atau berdarah di sekitar gigi yang bermasalah.

Penanganan akan disesuaikan dengan tingkat kerusakan, dan semakin cepat ditangani, semakin besar kemungkinan gigi asli dapat dipertahankan. Rutin memeriksakan gigi setiap enam bulan sekali atau sesuai anjuran dokter juga sangat penting, karena retakan halus sering kali tidak terasa dan baru terdeteksi saat pemeriksaan.

Artikel Terkait