🔴 Breaking
Kesehatan

Diabetes Dapat Mengakibatkan Kerusakan Otak dan Meningkatkan Risiko Stroke

Diabetes tidak hanya mempengaruhi kadar gula darah, tetapi juga dapat merusak berbagai organ, termasuk otak, jika tidak dikelola dengan baik. Kondisi ini meningkatkan risiko stroke dan gangguan fungsi...

Sekar Wangi

Penulis

03 August 2026
6 kali dibaca
Foto: Ilustrasi stroke (Getty Images/GrafikLab)
Foto: Ilustrasi stroke (Getty Images/GrafikLab)

Jakarta - Banyak orang berpikir bahwa diabetes hanya berhubungan dengan kadar gula darah. Namun, jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat merusak berbagai organ tubuh, termasuk otak. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan saraf yang mengalirkan darah ke otak, sehingga meningkatkan risiko stroke serta mengganggu fungsi kognitif seperti daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir.

Diabetes dan Risiko Stroke

Salah satu komplikasi serius dari diabetes adalah stroke. Mereka yang menderita diabetes memiliki risiko stroke yang hampir dua kali lipat dibandingkan dengan individu yang tidak mengidap penyakit ini. Hal ini disebabkan oleh tingginya kadar gula darah yang dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah. Seiring berjalannya waktu, pembuluh darah menjadi lebih sempit dan kaku, sehingga lebih rentan terhadap pembentukan gumpalan darah. Jika gumpalan tersebut menghalangi aliran darah ke otak, maka akan berpotensi menyebabkan stroke iskemik.

"Dengan merusak lapisan dalam pembuluh darah, glukosa membuat pembuluh darah lebih rentan terhadap penyempitan, pengerasan, dan pada akhirnya pembentukan bekuan darah," ungkap Direktur dan Konsultan Senior Neurologi KIMS Hospital Electronic City, Bengaluru, Dr Sujit Kumar.

Otak memerlukan pasokan darah yang kaya oksigen secara terus-menerus agar dapat berfungsi dengan baik. Ketika aliran darah terhenti, sel-sel otak mulai mengalami kerusakan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, stroke merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan segera. Risiko stroke juga meningkat karena diabetes sering disertai dengan kondisi lain, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, atau penyakit jantung. Kombinasi dari berbagai faktor ini dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke, termasuk stroke berulang.

Dampak Gula Darah Tinggi pada Fungsi Otak

Selain meningkatkan risiko stroke, diabetes juga dapat secara bertahap memengaruhi fungsi otak. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil di otak serta memicu peradangan kronis dan stres oksidatif. Kondisi ini dapat memengaruhi cara kerja otak, sehingga beberapa orang mengalami kesulitan dalam mengingat, berkonsentrasi, mempelajari informasi baru, atau mengambil keputusan.

"Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang menderita diabetes dalam jangka waktu lama lebih rentan mengalami demensia vaskular dan penyakit Alzheimer. Namun, hubungan yang pasti antara diabetes dan Alzheimer masih belum terbukti," jelas Dr Kumar.

Bahaya Gula Darah Rendah

Tidak hanya gula darah tinggi yang perlu diwaspadai, tetapi juga gula darah yang terlalu rendah atau hipoglikemia dapat mengganggu fungsi otak. Mengingat otak bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama, penurunan drastis kadar gula darah dapat menyebabkan kebingungan, pusing, kejang, bahkan kehilangan kesadaran. Jika kondisi ini terjadi berulang kali dan tidak segera ditangani, dapat berpotensi menyebabkan gangguan kognitif, terutama pada lansia.

Langkah-langkah Melindungi Otak bagi Pengidap Diabetes

Pengelolaan diabetes secara konsisten menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko stroke dan menjaga kesehatan otak. Ini mencakup mematuhi pengobatan sesuai resep dokter, memantau kadar gula darah, dan mengikuti rencana perawatan yang dianjurkan. "Pengelolaan faktor risiko kardiovaskular lainnya juga sangat penting. Tekanan darah dan kadar kolesterol harus dijaga dalam kisaran yang direkomendasikan," tambah Dr Kumar.

Selain itu, menghindari rokok, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, dan memastikan waktu tidur yang cukup juga dapat membantu mengurangi risiko stroke secara signifikan.

Artikel Terkait