Google telah melakukan perubahan besar dalam struktur kepemimpinan di divisi kecerdasan buatan (AI). Salah satu perubahan utama adalah pengunduran diri Demis Hassabis dari posisi CEO Google DeepMind, yang diumumkan oleh CEO Google dan Alphabet, Sundar Pichai, melalui memo internal pada Rabu (5/8/2026).
Demis Hassabis, yang mendirikan DeepMind pada tahun 2010 bersama Shane Legg dan Mustafa Suleyman, telah menjabat sebagai CEO sejak Google mengakuisisi perusahaan tersebut pada tahun 2014 dengan nilai transaksi sekitar 650 juta dollar AS. Setelah peluncuran ChatGPT pada akhir 2022, Google menggabungkan DeepMind dengan divisi Google Brain, membentuk organisasi baru bernama Google DeepMind, dengan Hassabis sebagai CEO.
Peran Baru untuk Hassabis
Setelah hampir empat tahun menjabat, Hassabis kini meninggalkan posisi puncak di divisi AI Google. Meskipun tidak lagi menjadi CEO, ia akan tetap memegang peran penting di Alphabet sebagai Chair Google DeepMind dan Chief Scientist Alphabet, jabatan yang baru dibentuk untuknya. Selain itu, ia juga akan terus memimpin Isomorphic Labs, sebuah perusahaan riset penemuan obat berbasis AI yang berasal dari teknologi DeepMind.
Posisi CEO Google DeepMind akan diisi oleh Koray Kavukcuoglu, yang sebelumnya menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) DeepMind, dan ia juga akan tetap menjabat sebagai Chief AI Architect di Google.
Fokus pada Pengembangan AI Jangka Panjang
Dalam memo yang disampaikan kepada karyawan, Demis Hassabis menjelaskan bahwa keputusan untuk mundur dari jabatan CEO diambil agar ia dapat lebih fokus pada pengembangan AI dalam jangka panjang. "Saya memutuskan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyerahkan tanggung jawab operasional sehari-hari di Google DeepMind agar saya memiliki lebih banyak waktu dan ruang untuk fokus pada gambaran besar serta membantu membentuk masa depan AI," tulisnya.
Sundar Pichai menyatakan bahwa perubahan ini telah direncanakan sejak lama. Ia menambahkan bahwa Hassabis akan memusatkan perhatian pada pengembangan Artificial General Intelligence (AGI), yang merupakan AI dengan kemampuan berpikir setara atau melampaui manusia. "Saya dan Demis telah lama mendiskusikan peran yang memungkinkan dirinya memusatkan perhatian sepenuhnya untuk secara aktif membentuk masa depan AGI," kata Pichai. "Pekerjaan ini sangat penting bagi Alphabet maupun umat manusia. Saya tidak bisa membayangkan orang yang lebih baik daripada Demis untuk melakukannya," lanjutnya.
Hassabis sebelumnya pernah memprediksi bahwa AGI dapat terwujud sekitar tahun 2030. Restrukturisasi ini juga menandai akhir perjalanan Jeff Dean di Google setelah 27 tahun, di mana ia dikenal sebagai salah satu insinyur paling berpengaruh dan pelopor teknologi AI di perusahaan tersebut. Dean memutuskan untuk keluar dan mendirikan startup baru bernama Discovery Loop bersama Sanjay Ghemawat, yang akan berfokus pada pengembangan AI untuk mempercepat penemuan di bidang sains, rekayasa, dan machine learning, dengan Google sebagai salah satu investor awal.
Restrukturisasi ini terjadi di tengah persaingan yang semakin ketat di industri AI, di mana beberapa peneliti senior Google telah bergabung dengan pesaing seperti OpenAI dan Anthropic. Salah satunya, Noam Shazeer, mantan Vice President of Engineering di Google, bergabung dengan OpenAI pada bulan Juni lalu. Sementara itu, Anthropic juga merekrut beberapa ilmuwan senior dari DeepMind, termasuk John Jumper, yang bersama Hassabis, merupakan salah satu pencipta AlphaFold, program AI yang digunakan untuk memprediksi struktur 3D protein.
Di sisi lain, meskipun menghadapi tekanan kompetisi, bisnis AI Google terus berkembang. Pada kuartal kedua tahun 2026, pendapatan Google Cloud meningkat 82 persen menjadi 24,8 miliar dollar AS, didorong oleh tingginya permintaan terhadap infrastruktur AI, model Gemini, serta chip AI buatan Google (TPU).