🔴 Breaking
Penerapan Batas Migrasi BPA Diharapkan Ditunda Hingga 2031 Jelajahi 10 Rute Penerbangan Terpanjang di Dunia Kenaikan Permintaan Listrik di Era Kecerdasan Buatan, Indonesia Butuh Jaringan Listrik yang Lebih Canggih BMKG: 17 Provinsi Mengalami Hari Tanpa Hujan yang Ekstrem, Yogyakarta Terlama 141 Hari Peningkatan Anggaran Kemendikdasmen 2027 Sebesar Rp28 Triliun Dampak Krisis Energi di Eropa: Konsumen Terpaksa Bayar Lebih untuk Perjalanan BGN Menghentikan Secara Permanen Operasional Empat SPPG Sesi Berbagi di UIN Saizu, Ahli Filsafat Islam Bahas Tiga Aspek Kemajuan Iran Danantara Siapkan Pembentukan BUMN di Sektor Tekstil, Kadin Daerah Siaga Menyambut Kesempatan Aksi Buruh 24 September di Jakarta: Konvoi dari Semanggi, Audiensi dengan KSP Bahas RUU Ketenagakerjaan Penerapan Batas Migrasi BPA Diharapkan Ditunda Hingga 2031 Jelajahi 10 Rute Penerbangan Terpanjang di Dunia Kenaikan Permintaan Listrik di Era Kecerdasan Buatan, Indonesia Butuh Jaringan Listrik yang Lebih Canggih BMKG: 17 Provinsi Mengalami Hari Tanpa Hujan yang Ekstrem, Yogyakarta Terlama 141 Hari Peningkatan Anggaran Kemendikdasmen 2027 Sebesar Rp28 Triliun Dampak Krisis Energi di Eropa: Konsumen Terpaksa Bayar Lebih untuk Perjalanan BGN Menghentikan Secara Permanen Operasional Empat SPPG Sesi Berbagi di UIN Saizu, Ahli Filsafat Islam Bahas Tiga Aspek Kemajuan Iran Danantara Siapkan Pembentukan BUMN di Sektor Tekstil, Kadin Daerah Siaga Menyambut Kesempatan Aksi Buruh 24 September di Jakarta: Konvoi dari Semanggi, Audiensi dengan KSP Bahas RUU Ketenagakerjaan
Teknologi

Kenaikan Permintaan Listrik di Era Kecerdasan Buatan, Indonesia Butuh Jaringan Listrik yang Lebih Canggih

Pertumbuhan pusat data dan kendaraan listrik mendorong peningkatan kebutuhan listrik di Indonesia, yang memerlukan jaringan listrik yang lebih cerdas untuk mengelola pasokan energi terbarukan.

Bima Sakti

Penulis

24 September 2026
5 kali dibaca
Ilustrasi jaringan listrik di Indonesia di tengah era AI dan energi terbarukan.(Dibuat dengan AI | KOMPAS.com/PUT)
Ilustrasi jaringan listrik di Indonesia di tengah era AI dan energi terbarukan.(Dibuat dengan AI | KOMPAS.com/PUT)

TANGERANG - Kebutuhan listrik di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan akibat pertumbuhan pusat data yang berfokus pada kecerdasan buatan (AI), industri, dan kendaraan listrik. Di sisi lain, Indonesia berencana untuk memanfaatkan lebih banyak energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, yang produksinya dapat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Hal ini menjadikan pengelolaan jaringan listrik semakin kompleks, sehingga jaringan listrik di Indonesia perlu ditingkatkan kecerdasannya untuk menyeimbangkan permintaan listrik yang terus meningkat dengan pasokan dari berbagai sumber energi.

Pentingnya Ketersediaan Listrik yang Andal

Ann Moore, Industry Principal di Power and Utilities Aveva, menekankan bahwa ketersediaan listrik yang andal sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. “Seluruh perekonomian bergantung pada energi. Ada pusat data, manufaktur pintar, AI, hingga elektrifikasi. Agar ekonomi bisa tumbuh, pengelola harus memastikan tersedia listrik yang cukup untuk mendukung ekonomi dan masyarakat,” ujar Ann dalam wawancara di booth Aveva pada ajang Enlit Asia 2026 di ICE BSD City, Tangerang, pada Kamis (24/9/2026).

Modernisasi Jaringan Listrik yang Diperlukan

Menurut Ann, modernisasi jaringan listrik di Indonesia menjadi semakin mendesak karena sumber listrik kini berasal dari berbagai jenis, termasuk pembangkit berbahan bakar fosil, panas bumi, tenaga air, serta energi terbarukan. Tantangan muncul dari sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya yang produksinya menurun saat sinar matahari berkurang, dan turbin angin yang menghasilkan lebih sedikit listrik saat angin melemah. Meskipun demikian, kebutuhan listrik tetap harus dipenuhi.

Ann menjelaskan bahwa jaringan listrik tidak hanya berfungsi untuk mengalirkan listrik dari pembangkit ke konsumen, tetapi juga harus mampu memantau kondisi sistem secara menyeluruh. “Ketika berbicara mengenai modernisasi jaringan dan smart grid, semuanya berbasis data. Data adalah kuncinya,” ungkapnya. Pengumpulan data dari pembangkit, jaringan transmisi, distribusi, sensor, dan peralatan lainnya sangat penting agar operator dapat mengetahui kondisi jaringan secara real-time dan mengambil keputusan berdasarkan informasi terkini.

Dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, kebutuhan akan sistem yang lebih cerdas menjadi semakin relevan. Sumber listrik dan pusat konsumsi energi sering kali berada jauh satu sama lain, sehingga memerlukan pendekatan yang lebih efisien dalam pengelolaan.

Modernisasi jaringan listrik tidak selalu berarti harus mengganti seluruh infrastruktur yang ada atau membangun pembangkit baru. Ann menyatakan bahwa meskipun permintaan listrik terus meningkat, pembangunan infrastruktur baru memerlukan waktu dan investasi yang besar. Salah satu solusi adalah meningkatkan efisiensi dari infrastruktur yang sudah ada.

Software dari Aveva dapat membantu perusahaan dalam memaksimalkan penggunaan infrastruktur yang ada, meningkatkan efisiensi, dan memperpanjang umur peralatan. Aveva menawarkan PI System untuk mengumpulkan, menyimpan, mengolah, dan menampilkan data operasional secara real-time. Data yang dikumpulkan dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk sistem kontrol, sensor, perangkat industri, database, hingga sistem cloud. Setelah data dikumpulkan, dapat digunakan oleh operator atau diteruskan ke sistem analitik dan AI.

Dalam portofolio PI System, Aveva juga memiliki PI Vision untuk menampilkan kondisi operasional dalam bentuk dashboard, serta PI Integrator for Business Analytics untuk menghubungkan data ke perangkat analitik, AI, dan machine learning. Selain itu, Aveva memiliki platform Connect yang digunakan untuk menghubungkan data yang tersebar sehingga kondisi operasional dapat dilihat secara lebih menyeluruh. “Data yang lebih lengkap dapat membantu perusahaan melihat kondisi infrastrukturnya dan menentukan perbaikan maupun investasi yang perlu diprioritaskan,” tutup Ann.

Artikel Terkait