Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia sedang merencanakan strategi untuk memperluas jangkauan pasar farmasi nasional ke tingkat global. Salah satu fokus utama dari rencana ini adalah mengekspor vaksin yang diproduksi di dalam negeri ke Ghana, yang dianggap sebagai pintu masuk strategis ke pasar Afrika. Inisiatif ini sejalan dengan penguatan Kerja Sama Selatan-Selatan antara Indonesia dan negara-negara di kawasan Afrika.
Langkah Awal Menuju Kerja Sama Vaksin
Kepala BPOM RI, Prof Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa program peningkatan kapasitas pengawasan obat yang saat ini diberikan kepada delegasi Food and Drugs Authority (FDA) Ghana merupakan langkah awal dari visi jangka panjang tersebut. "Tentu dari proses awal ini, kita akan berkembang. Nanti produk-produk yang kita hasilkan dari Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan vaksin, itu bisa diekspor ke Ghana," ungkapnya saat ditemui di Jakarta.
Lebih lanjut, Taruna mengungkapkan bahwa salah satu jenis vaksin yang menjadi fokus pengembangan dan kerja sama di masa depan dengan Afrika adalah vaksin malaria. Pemilihan vaksin ini sangat relevan mengingat tingginya angka kasus malaria di kedua negara. "Contohnya, nanti kita akan kembangkan vaksin yang berhubungan dengan malaria. Kita tahu kan penyakit malaria cukup banyak di Afrika, dan di Indonesia juga cukup banyak, khususnya di bagian timur," jelasnya.
Rencana Uji Klinis dan Potensi Pasar
Untuk mewujudkan rencana tersebut, BPOM berencana melakukan uji klinis multi-center di masa depan yang melibatkan peneliti dari Indonesia dan Afrika. "Dengan masuk uji klinis nanti, variabilitas dari vaksin anti-malaria itu akan lebih luas. Dilakukan di sini (Indonesia) dan dilakukan juga di sana," tambahnya.
Taruna menilai bahwa posisi geopolitik dan demografi Ghana sangat strategis untuk penetrasi produk kesehatan Indonesia di pasar internasional yang lebih luas. "Kita tahu bahwa Ghana ini merupakan pintu gerbangnya untuk Afrika. Jumlah penduduknya kurang lebih 36, hampir 40 juta dengan pertumbuhan yang cukup besar. Ditambah, Afrika memiliki 1,6 miliar penduduk, itu adalah (pasar) yang sangat besar," tegasnya.
Kepercayaan diri Indonesia untuk memasuki pasar Afrika juga didukung oleh status BPOM yang kini diakui sebagai WHO Listed Authority (WLA) atau Otoritas Pengawas Obat yang Diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia. "Karena kita sudah berstatus WLA, ini menambah reputasi kita, bahwa kita semakin dipercaya. Bukan hanya di negara-negara ASEAN, bukan hanya di negara Eropa karena kita selevel, tapi juga negara-negara Afrika juga mengakui kita. Itu yang paling penting," tambahnya.
Selain rencana ekspor, kerja sama antara kedua negara di sektor farmasi juga telah berjalan dengan konkret. Saat ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi Indonesia, PT Bio Farma, sedang menjalin kemitraan strategis dengan Atlantic Life Sciences dari Ghana. Kerja sama ini mencakup transfer teknologi untuk membantu Ghana memproduksi vaksin tetanus pertama secara lokal.