🔴 Breaking
Kenaikan Harga Singkong di Lampung Mencapai Rp3.050 per Kg, Petani Berterima Kasih kepada Pemerintah Elon Musk Investasi Besar di Perusahaan yang Produksi Film Dokumenter Tentang Dirinya Lonjakan Harga Avtur Picu Kenaikan Tarif Tiket Pesawat Bandara Baru di Australia Resmi Beroperasi, Pertama dalam Lima Dekade Mayapada Hospital Tangerang Lanjutkan Pembangunan Gedung Keempat, Ditargetkan Beroperasi pada 2027 Laporan UNDP 2026: 617 Juta Anak Terjebak dalam Kemiskinan Multidimensi Peluang Besar Industri Animasi untuk Menyerap Tenaga Kerja di Era AI Festival Nglinting Tembakau Dorong Ekonomi Lokal Temanggung Turnamen Voli Piala Gubernur Buka Peluang Ekonomi bagi UMKM di Banten Gerindra Menyelidiki Isu Pertemuan Tokoh Oposisi dengan Dubes Singapura Kenaikan Harga Singkong di Lampung Mencapai Rp3.050 per Kg, Petani Berterima Kasih kepada Pemerintah Elon Musk Investasi Besar di Perusahaan yang Produksi Film Dokumenter Tentang Dirinya Lonjakan Harga Avtur Picu Kenaikan Tarif Tiket Pesawat Bandara Baru di Australia Resmi Beroperasi, Pertama dalam Lima Dekade Mayapada Hospital Tangerang Lanjutkan Pembangunan Gedung Keempat, Ditargetkan Beroperasi pada 2027 Laporan UNDP 2026: 617 Juta Anak Terjebak dalam Kemiskinan Multidimensi Peluang Besar Industri Animasi untuk Menyerap Tenaga Kerja di Era AI Festival Nglinting Tembakau Dorong Ekonomi Lokal Temanggung Turnamen Voli Piala Gubernur Buka Peluang Ekonomi bagi UMKM di Banten Gerindra Menyelidiki Isu Pertemuan Tokoh Oposisi dengan Dubes Singapura
Kesehatan

Menkes Budi Gunadi Sadikin Jelaskan Alasan Pencalonan Sebagai Dirjen WHO

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan alasan di balik pencalonannya sebagai Direktur Jenderal WHO, termasuk dukungan dari Presiden Prabowo Subianto untuk mewakili kepentingan negara-nega...

Bima Sakti

Penulis

01 September 2026
81 kali dibaca
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto

Jakarta - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, memberikan penjelasan mengenai namanya yang muncul dalam bursa calon Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ia menyatakan bahwa salah satu alasan utama pencalonannya adalah amanah dari Presiden Prabowo Subianto untuk memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang.

Budi menjelaskan bahwa banyak negara berkembang merasa aspirasi mereka perlu lebih diperhatikan di tingkat global, terutama dalam hal kebijakan kesehatan dunia. "Saya kalau ditugaskan oleh Bapak Presiden, ya harus kita lakukan," ungkapnya saat berbincang dengan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Senin (31/8/2026).

Perwakilan Negara Berkembang Sangat Penting

Lebih lanjut, Menkes Budi menyoroti ketimpangan yang ada selama ini. Negara-negara berkembang memiliki populasi yang besar namun dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah. Oleh karena itu, kehadiran pemimpin dari Global South di lembaga internasional seperti WHO dianggap sangat penting. "Mereka kan dari sisi populasi lebih banyak dan lebih miskin, sehingga perlulah ada wakil dari negara-negara global south atau negara-negara berkembang di pimpinan lembaga dunia seperti ini," tegasnya.

Presiden Prabowo juga memberikan arahan khusus agar Budi mampu membawa perubahan dan perhatian bagi negara-negara berkembang di ranah global.

Proses Pemilihan yang Panjang

Meski demikian, proses pemilihan Direktur Jenderal WHO masih harus melalui mekanisme yang cukup panjang. Ini dimulai dari seleksi yang dilakukan oleh dewan eksekutif WHO hingga pemilihan akhir oleh anggota WHO dari berbagai negara. Menurut informasi terbaru dari laman resmi WHO, Budi Gunadi Sadikin masuk dalam daftar calon bersama tiga kandidat lainnya, yaitu Hanan Balkhy dari Arab Saudi, Hans Kluge dari Belgia, dan Hanan Mohammed Al-Kuwari dari Qatar.

Salah satu kandidat, Hans Kluge, merupakan Direktur Regional WHO untuk Eropa. Sebelumnya, media pembangunan global Devex melaporkan bahwa Budi merupakan salah satu sosok yang dianggap potensial untuk menjadi Direktur Jenderal WHO berikutnya. Dalam wawancara di sela-sela Sidang Kesehatan Dunia ke-79 di Jenewa, Budi mengaku telah mendiskusikan peluang tersebut dengan Presiden Prabowo Subianto.

Laporan Devex juga menyoroti latar belakang Budi sebagai mantan manajer keuangan dan bankir, yang dinilai sangat relevan untuk memperbaiki manajemen keuangan dan reformasi kelembagaan di WHO. Selain itu, rekam jejaknya dalam memimpin reformasi sistem kesehatan nasional serta digitalisasi layanan kesehatan Indonesia pasca-pandemi COVID-19 menjadi nilai tambah yang diperhitungkan di kancah internasional.

Beberapa sumber internasional menyebutkan bahwa Budi mendapatkan dukungan kuat dari negara-negara di kawasan Asia. Karakter kepemimpinannya dianggap mampu menjadi jembatan diplomasi antara negara berkembang dan negara maju. Jika terpilih, Budi Gunadi Sadikin akan mencetak sejarah sebagai warga negara Indonesia pertama yang menduduki posisi kepemimpinan tertinggi di salah satu badan khusus PBB tersebut.

Artikel Terkait