🔴 Breaking
Perubahan Preferensi Gen Z dalam Mencari Pekerjaan dan Memilih Perusahaan Pentingnya Memahami Warna Urine: Tidak Selalu Jernih Menandakan Kesehatan Pemberhentian Dosen UAJY Dilakukan Sesuai Prosedur yang Berlaku Pertemuan Tony Blair dengan Direksi Danantara Bahas Transformasi BUMN Indonesia Siap Luncurkan Vaksin mRNA Pertama untuk Demam Berdarah OJK Menyatakan Usulan Himbara untuk Perpanjangan Tenor Dana Pemerintah Layak Dibahas Waspada Anarki Berkedok Demokrasi, Aspirasi Jangan Dibelokkan Jadi Kericuhan Kemenkes Ingatkan Warga Dekat TPA Jatiwaringin untuk Waspada Terhadap Dampak Asap Kebakaran Festival Bahasa Inggris UIN Saizu: Panggung Kreativitas Pelajar dan Mahasiswa --- Said Iqbal Rencanakan Pertemuan dengan BPJS Ketenagakerjaan Terkait JHT --- Perubahan Preferensi Gen Z dalam Mencari Pekerjaan dan Memilih Perusahaan Pentingnya Memahami Warna Urine: Tidak Selalu Jernih Menandakan Kesehatan Pemberhentian Dosen UAJY Dilakukan Sesuai Prosedur yang Berlaku Pertemuan Tony Blair dengan Direksi Danantara Bahas Transformasi BUMN Indonesia Siap Luncurkan Vaksin mRNA Pertama untuk Demam Berdarah OJK Menyatakan Usulan Himbara untuk Perpanjangan Tenor Dana Pemerintah Layak Dibahas Waspada Anarki Berkedok Demokrasi, Aspirasi Jangan Dibelokkan Jadi Kericuhan Kemenkes Ingatkan Warga Dekat TPA Jatiwaringin untuk Waspada Terhadap Dampak Asap Kebakaran Festival Bahasa Inggris UIN Saizu: Panggung Kreativitas Pelajar dan Mahasiswa --- Said Iqbal Rencanakan Pertemuan dengan BPJS Ketenagakerjaan Terkait JHT ---
Kesehatan

Indonesia Siap Luncurkan Vaksin mRNA Pertama untuk Demam Berdarah

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan bahwa Indonesia sedang mengembangkan vaksin mRNA untuk demam berdarah dengue, yang berpotensi menjadi yang pertama di dunia.

Raihan Fadhila

Penulis

08 July 2026
16 kali dibaca
Foto: Getty Images/iStockphoto
Foto: Getty Images/iStockphoto

Jakarta - Indonesia berpeluang untuk menciptakan sejarah dalam bidang vaksinasi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menginformasikan bahwa negara ini tengah dalam proses pengembangan vaksin mRNA untuk demam berdarah dengue (DBD), yang diklaim akan menjadi yang pertama di dunia.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk mendukung pengembangan vaksin ini hingga mencapai tahap uji klinis dan dapat digunakan oleh masyarakat. "Dalam hal pengembangan vaksin, BPOM punya tekad untuk secara maksimal melakukan apa yang bisa kita lakukan karena ini kita akan buat sejarah, mRNA vaccine pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," ungkap Taruna dalam konferensi pers yang diadakan pada Rabu (8/7/2026).

Pentingnya Pengembangan Vaksin

Taruna menekankan bahwa pengembangan vaksin untuk dengue sangat krusial, mengingat hingga saat ini belum ada terapi yang benar-benar efektif untuk mengatasi penyakit tersebut. Ia mengenang pengalamannya saat menempuh pendidikan spesialis di University of California, Irvine, di mana ia menangani seorang pasien yang terinfeksi dengue setelah kembali dari Asia Tenggara. "Banyak rekan saya di sana belum memiliki pengalaman menangani penyakit tersebut. Tetapi saya teringat pengalaman bekerja di Indonesia, termasuk saat bertugas di puskesmas, di mana kami cukup sering menangani pasien demam berdarah," tuturnya.

Menurut Taruna, penanganan dengue berfokus pada pengendalian demam dan pencegahan dehidrasi, pendekatan yang berhasil diterapkannya hingga pasien dapat sembuh. Pengalaman ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan lokasi yang sangat strategis untuk penelitian dengue, karena tingginya jumlah kasus memberikan pengalaman klinis yang sangat berharga bagi tenaga kesehatan dan peneliti di negara ini. "Kalau ini bisa berhasil bukan hanya Tsinghua University dan Universitas Indonesia, tapi juga seluruh dunia akan berdampak," tambahnya.

Proses Pengujian Vaksin

Taruna menegaskan bahwa peluncuran prototipe vaksin mRNA dengue saat ini merupakan langkah awal. Vaksin tersebut harus melalui berbagai tahap pengujian, terutama uji klinis, sebelum bisa digunakan secara luas. Sebagai regulator, BPOM akan memastikan bahwa setiap vaksin yang beredar memenuhi tiga syarat utama: aman, efektif, dan diproduksi dengan standar mutu yang baik. Meski begitu, BPOM tidak ingin regulasi menghambat inovasi. "Jangan tunggu Badan POM sebagai tukang stempel, libatkan dari awal," tegasnya.

Sementara itu, pemimpin peneliti dari Etana Biotechnologies Indonesia, Beti Ernawati Dewi, mengungkapkan bahwa vaksin saat ini masih berada pada tahap uji praklinis. Namun, hasil awal menunjukkan respons imun yang menjanjikan. "Kita memang baru tahap pre-clinical trial, tetapi dari hasil uji praklinis yang kita lakukan ternyata titer antibodi untuk menetralisasi strain DBD di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial lain yang sudah ada di Indonesia," jelasnya.

Ia berharap dalam enam bulan ke depan penelitian dapat berlanjut ke pengujian efikasi pada subjek di Indonesia. "Harapannya dalam waktu enam bulan ini kita bisa mencoba melihat efikasinya pada subjek yang ada di Indonesia dan semoga hasilnya seimbang juga dengan hasil pre-clinical trial," tambahnya. Apabila semua tahapan penelitian berjalan sesuai rencana, vaksin ini berpotensi menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk mencegah demam berdarah, sekaligus menjadi tonggak baru dalam pengembangan teknologi vaksin di Indonesia dan dunia.

Artikel Terkait