🔴 Breaking
Perubahan Preferensi Gen Z dalam Mencari Pekerjaan dan Memilih Perusahaan Pentingnya Memahami Warna Urine: Tidak Selalu Jernih Menandakan Kesehatan Pemberhentian Dosen UAJY Dilakukan Sesuai Prosedur yang Berlaku Pertemuan Tony Blair dengan Direksi Danantara Bahas Transformasi BUMN Indonesia Siap Luncurkan Vaksin mRNA Pertama untuk Demam Berdarah OJK Menyatakan Usulan Himbara untuk Perpanjangan Tenor Dana Pemerintah Layak Dibahas Waspada Anarki Berkedok Demokrasi, Aspirasi Jangan Dibelokkan Jadi Kericuhan Kemenkes Ingatkan Warga Dekat TPA Jatiwaringin untuk Waspada Terhadap Dampak Asap Kebakaran Festival Bahasa Inggris UIN Saizu: Panggung Kreativitas Pelajar dan Mahasiswa --- Said Iqbal Rencanakan Pertemuan dengan BPJS Ketenagakerjaan Terkait JHT --- Perubahan Preferensi Gen Z dalam Mencari Pekerjaan dan Memilih Perusahaan Pentingnya Memahami Warna Urine: Tidak Selalu Jernih Menandakan Kesehatan Pemberhentian Dosen UAJY Dilakukan Sesuai Prosedur yang Berlaku Pertemuan Tony Blair dengan Direksi Danantara Bahas Transformasi BUMN Indonesia Siap Luncurkan Vaksin mRNA Pertama untuk Demam Berdarah OJK Menyatakan Usulan Himbara untuk Perpanjangan Tenor Dana Pemerintah Layak Dibahas Waspada Anarki Berkedok Demokrasi, Aspirasi Jangan Dibelokkan Jadi Kericuhan Kemenkes Ingatkan Warga Dekat TPA Jatiwaringin untuk Waspada Terhadap Dampak Asap Kebakaran Festival Bahasa Inggris UIN Saizu: Panggung Kreativitas Pelajar dan Mahasiswa --- Said Iqbal Rencanakan Pertemuan dengan BPJS Ketenagakerjaan Terkait JHT ---
Teknologi

Perubahan Preferensi Gen Z dalam Mencari Pekerjaan dan Memilih Perusahaan

Generasi Z menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara mereka mencari pekerjaan, beralih dari LinkedIn ke platform media sosial seperti YouTube dan Instagram. Temuan ini diungkap dalam laporan terbar...

Arjuna Mahendra

Penulis

08 July 2026
12 kali dibaca
Perubahan Preferensi Gen Z dalam Mencari Pekerjaan dan Memilih Perusahaan
Sumber gambar: tekno.kompas.com

KOMPAS.com – LinkedIn telah lama menjadi platform utama untuk mencari pekerjaan dan membangun jaringan profesional. Namun, posisinya mulai tergeser, terutama di kalangan Generasi Z, yang terdiri dari individu yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Riset terbaru menunjukkan bahwa Gen Z kini tidak lagi mengandalkan LinkedIn sebagai sumber utama untuk mencari pekerjaan dan mendapatkan saran karir. Sebaliknya, mereka lebih memilih YouTube dan Instagram.

Temuan ini berasal dari laporan berjudul "Gen Z Misinfluence Report" yang diterbitkan oleh Zety, sebuah perusahaan penyedia layanan pembuatan CV di Amerika Serikat. Survei yang dilakukan pada 23 Februari 2026 ini melibatkan 919 pekerja Gen Z berusia 18 hingga 27 tahun yang aktif bekerja di negara tersebut. Yang mencolok dari laporan Zety adalah bahwa semua responden Gen Z menggunakan media sosial untuk mencari saran karir.

Pergeseran Platform untuk Nasihat Karir

Hasil survei menunjukkan bahwa 45 persen responden lebih mempercayai nasihat karir dari kreator dan influencer di media sosial dibandingkan dengan sumber tradisional seperti penasihat karir atau perekrut. Berikut adalah persentase penggunaan berbagai platform untuk mencari nasihat karir: YouTube (80 persen), Instagram (73 persen), Facebook (40 persen), X (dulu Twitter) (38 persen), TikTok (32 persen), Reddit (30 persen), dan LinkedIn (26 persen). Ironisnya, LinkedIn berada di posisi paling bawah dalam hal penggunaan untuk tujuan ini.

Persepsi Negatif terhadap LinkedIn

Generasi Z mulai menggunakan istilah "ick" untuk menggambarkan ketidaknyamanan mereka terhadap LinkedIn. Istilah ini merujuk pada perasaan muak terhadap sesuatu. Banyak dari mereka merasa bahwa konten di LinkedIn semakin didominasi oleh hasil AI, unggahan yang terkesan sombong, dan kesan bahwa semua orang di platform tersebut mencapai prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan mereka. Hal ini mendorong Gen Z untuk mencari nasihat karir dan peluang kerja di platform lain.

Menariknya, Instagram tidak hanya menggantikan fungsi LinkedIn, tetapi juga mengambil alih berbagai peran sekaligus. Saat ini, Instagram menjadi tempat untuk rekrutmen, mencari saran karir, membangun jaringan profesional, dan menilai budaya perusahaan. Sebanyak 74 persen Gen Z menggunakan Instagram untuk membangun jaringan profesional, dan 69 persen di antaranya berhasil mendapatkan pekerjaan atau magang melalui platform tersebut. Secara keseluruhan, 98 persen Gen Z memanfaatkan media sosial untuk mendapatkan pekerjaan, menunjukkan bahwa hal ini merupakan fenomena mayoritas, bukan sekadar cerita minoritas.

Selain Instagram, platform lain yang digunakan Gen Z untuk mencari pekerjaan atau magang termasuk Facebook (39 persen), X (36 persen), Reddit (30 persen), dan TikTok (28 persen).

Vibe Check Sebelum Melamar

Fenomena menarik lainnya adalah hampir seluruh Gen Z (99 persen) memeriksa media sosial perusahaan sebelum melamar pekerjaan, yang dikenal dengan istilah "vibe check". Ini adalah cara mereka untuk menilai atmosfer perusahaan sebelum mengajukan lamaran. Jika mereka menemukan hal-hal yang tidak sesuai saat melakukan vibe check, banyak yang memilih untuk membatalkan niat melamar.

Berikut adalah beberapa faktor di media sosial perusahaan yang membuat Gen Z mundur dari niat melamar: konten pemasaran yang terlalu berlebihan atau tidak autentik (63 persen), postingan bermuatan politik atau kontroversial yang tidak relevan (59 persen), pesan yang tidak konsisten antar platform (44 persen), komentar negatif dari pelanggan atau mantan karyawan (24 persen), dan fokus berlebihan pada fasilitas atau pencapaian dangkal (22 persen).

Perbedaan Pandangan antara Gen Z dan Milenial

Jasmine Escalera, seorang penasihat karir yang terlibat dalam laporan Zety, menjelaskan perbedaan pandangan antara Gen Z dan milenial. Milenial cenderung melihat profesionalisme yang ditampilkan di LinkedIn sebagai cara untuk maju dalam karir, sementara Gen Z mendapatkan definisi pekerjaan dari media sosial. Escalera menyatakan, "Gen Z dibesarkan di Instagram, jadi wajar kalau tempat mereka bermain menjadi tempat mereka mendapatkan informasi pekerjaan juga." Bagi Gen Z, batas antara ruang pribadi dan profesional semakin kabur, dan mereka lebih nyaman dengan perusahaan yang menunjukkan sisi santai.

Dampak Nasihat Karir dari Media Sosial

Data dari Zety menunjukkan dampak signifikan dari nasihat karir yang mereka terima melalui media sosial terhadap keputusan hidup Gen Z. Beberapa tindakan yang diambil berdasarkan nasihat tersebut meliputi berpindah industri (60 persen), memulai bisnis sampingan (41 persen), berhenti dari pekerjaan (36 persen), memulai freelance (31 persen), bernegosiasi gaji (27 persen), dan mendaftar kursus untuk meningkatkan keterampilan (16 persen).

Namun, ada sisi gelap dari fenomena ini. Sebanyak 94 persen Gen Z mengaku pernah mengikuti nasihat karir online yang ternyata menyesatkan. Meskipun 45 persen dari mereka lebih mempercayai kreator media sosial dibandingkan pakar tradisional, 94 persen juga mengakui bahwa nasihat yang mereka ikuti sering kali tidak tepat. Hal ini menjadi alasan Zety menamai laporannya "Misinfluence Report", yang merupakan gabungan dari kata misinformation (informasi salah) dan influence (pengaruh).

Perusahaan Harus Beradaptasi

Fenomena ini membawa konsekuensi penting bagi perusahaan. Untuk menarik perhatian talenta Gen Z, perusahaan perlu mengadopsi keterampilan yang biasanya diasosiasikan dengan kreator media sosial, termasuk menunjukkan budaya perusahaan secara transparan di ruang publik. Perusahaan yang tidak aktif di Instagram mungkin akan kalah bersaing dengan yang memposting konten di balik layar, seperti suasana kantor dan rutinitas karyawan, yang lebih dihargai oleh Gen Z dibandingkan informasi tentang tunjangan di halaman perusahaan.

Artikel Terkait