🔴 Breaking
Jejak Kecerdasan Buatan dalam Pembobolan Bank di Korea Selatan WHO Tanggapi Kematian Misterius Pekerja Laboratorium di Rusia yang Diduga Terkait Penyakit Pes Siswa ABBS Surakarta Raih Medali dalam Kejuaraan Taekwondo Berkat Latihan Rutin --- Aturan Sertifikasi Halal Mulai Berlaku, BPJPH Pastikan Tanpa Sweeping --- Ratusan Dapur Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara Karena Masalah Kebersihan IHSG Berpotensi Menguat, Simak Rekomendasi Saham dari BRI Danareksa dan BNI Sekuritas Transformasi Lahan Kering di Gunungkidul Menjadi Hutan Pangan Ledakan Gas di Ruko Pakuwon City Surabaya, Lima Orang Terluka Kekerasan Terhadap Aktivis BEM UI: Tanda Bahaya bagi Demokrasi Sidang Kasus Daycare Little Aresha: Pengakuan Ketua Yayasan Mengenai Masa Lalunya Jejak Kecerdasan Buatan dalam Pembobolan Bank di Korea Selatan WHO Tanggapi Kematian Misterius Pekerja Laboratorium di Rusia yang Diduga Terkait Penyakit Pes Siswa ABBS Surakarta Raih Medali dalam Kejuaraan Taekwondo Berkat Latihan Rutin --- Aturan Sertifikasi Halal Mulai Berlaku, BPJPH Pastikan Tanpa Sweeping --- Ratusan Dapur Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara Karena Masalah Kebersihan IHSG Berpotensi Menguat, Simak Rekomendasi Saham dari BRI Danareksa dan BNI Sekuritas Transformasi Lahan Kering di Gunungkidul Menjadi Hutan Pangan Ledakan Gas di Ruko Pakuwon City Surabaya, Lima Orang Terluka Kekerasan Terhadap Aktivis BEM UI: Tanda Bahaya bagi Demokrasi Sidang Kasus Daycare Little Aresha: Pengakuan Ketua Yayasan Mengenai Masa Lalunya
Teknologi

Jejak Kecerdasan Buatan dalam Pembobolan Bank di Korea Selatan

Kecerdasan buatan (AI) diduga digunakan oleh peretas untuk membobol bank di Korea Selatan, mengakibatkan kebocoran data nasabah di beberapa lembaga keuangan besar. Presiden Korea Selatan memerintahkan...

Raihan Fadhila

Penulis

06 October 2026
4 kali dibaca
Kode HTML dari sejumlah server web yang memuat teks ?ARTEX - Konsol Pengujian Penetrasi Otonom?. Tangkapan layar diambil dari akun LinkedIn Moon Jong-hyun, kepala Genians Security Center.(SE Daily)
Kode HTML dari sejumlah server web yang memuat teks ?ARTEX - Konsol Pengujian Penetrasi Otonom?. Tangkapan layar diambil dari akun LinkedIn Moon Jong-hyun, kepala Genians Security Center.(SE Daily)

Kecerdasan buatan (AI) kini diduga telah digunakan oleh para peretas untuk melakukan pembobolan bank. Sejak Kamis, 1 Oktober 2026, tujuh lembaga keuangan di Korea Selatan melaporkan adanya kebocoran data nasabah. Di antara lembaga tersebut, terdapat tiga bank komersial terbesar, yaitu Shinhan Bank, KB Kookmin Bank, dan Hana Bank, serta empat bank lainnya yaitu Busan Bank, Yegaram Savings Bank, Welcome Savings Bank, dan Hyundai Capital. Diperkirakan lebih dari 67.000 orang terpengaruh oleh insiden ini, dengan data yang bocor mencakup nama, informasi kontak, nomor registrasi penduduk, pendapatan tahunan, dan batas pinjaman nasabah.

Penyelidik menemukan jejak ARTEX AI di sebuah server yang diduga digunakan dalam serangan ini. ARTEX AI adalah sistem uji penetrasi mandiri yang menggunakan bahasa Mandarin dan bersifat open-source. Meskipun demikian, keterlibatan ARTEX AI dalam serangan ini belum dapat dipastikan. Penemuan ini tidak serta merta menunjukkan bahwa serangan tersebut berasal dari China.

Pernyataan Pejabat Terkait Serangan

Ketua Komisi Jasa Keuangan Korea Selatan, Lee Eog-weon, mengungkapkan bahwa kemungkinan penggunaan AI dalam serangan ini tidak dapat diabaikan. Ia menambahkan, hingga saat ini belum ditemukan informasi yang bocor yang dapat langsung digunakan untuk transaksi pembayaran. Namun, ia memperingatkan bahwa data yang bocor tetap bisa dimanfaatkan untuk penipuan melalui telepon dan pesan singkat palsu.

Menurut laporan Korea Times, pola serangan kali ini berbeda dari pembobolan besar sebelumnya, di mana serangan sebelumnya lebih fokus pada sistem inti TI dari satu lembaga. Kini, banyak perusahaan keuangan disasar secara berurutan dalam waktu yang singkat. ARTEX AI menggabungkan model bahasa besar dengan teknologi multi-agen, di mana beberapa agen AI bekerja sama. Alat ini mengotomatisasi proses uji penetrasi, yang mencakup pengumpulan informasi, pemindaian kerentanan, perencanaan jalur serangan, hingga verifikasi kerentanan.

Respons Pemerintah dan Penyelidikan

Kepala Genians Security Center, Moon Jong-hyun, menyatakan bahwa alat ini dapat digunakan untuk pengujian keamanan resmi, tetapi juga bisa disalahgunakan untuk meningkatkan otomatisasi dan efisiensi dalam serangan siber. Ia menyebutkan bahwa sejumlah analis ancaman menduga bahwa alat otomatisasi serangan berbasis AI mungkin digunakan dalam insiden ini.

Para peretas yang diduga berasal dari luar negeri telah berulang kali menargetkan titik masuk yang kurang terlindungi, termasuk sistem yang digunakan oleh karyawan bank, kontraktor luar, dan agen pinjaman. Di Shinhan Bank, sekitar 25.000 data pribadi nasabah bocor setelah akses tidak sah berhasil melewati proses verifikasi identitas pada layanan khusus untuk agen pinjaman. Meskipun total belanja keamanan informasi oleh Shinhan Bank, KB Kookmin Bank, dan Hana Bank mencapai hampir 124 miliar won, setara dengan sekitar 92 juta dollar AS, hal ini tidak cukup untuk mencegah kebocoran data.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh setelah menerima laporan mengenai kebocoran data di beberapa lembaga keuangan pada Minggu, 4 Oktober 2026. Polisi juga telah memulai penyelidikan terkait kasus ini. Juru bicara kepresidenan, Kang Yu-jung, menyatakan bahwa Presiden Lee meminta agar pejabat terkait menyelidiki kasus ini secara menyeluruh dan menyiapkan langkah penanganan dengan kesadaran penuh akan beratnya masalah ini.

Pada hari yang sama, Komisi Jasa Keuangan mengadakan rapat darurat dengan pimpinan industri keuangan. Lembaga keuangan diperintahkan untuk memblokir akses dari luar ke sistem mereka, kecuali untuk operasional yang benar-benar diperlukan. Regulator juga mendesak perusahaan keuangan untuk mempercepat penerapan sistem keamanan berbasis AI guna mencegah serangan serupa di masa mendatang.

Artikel Terkait