🔴 Breaking
Teknologi

Papan Reklame Digital Diretas di Beberapa Negara, Tampilkan Konten Tidak Pantas

Beberapa papan reklame digital di negara-negara seperti Mesir, Malaysia, dan Brasil mengalami peretasan yang menyebabkan mereka menampilkan video porno. Insiden ini menarik perhatian publik dan menimb...

Arjuna Mahendra

Penulis

02 November 2026
3 kali dibaca
Deretan billboard di sebuah jalan raya di Kairo, Mesir.(CNN)
Deretan billboard di sebuah jalan raya di Kairo, Mesir.(CNN)

Sejumlah papan reklame digital atau billboard di berbagai negara telah menjadi sasaran peretasan oleh hacker. Akibatnya, layar LED yang biasanya digunakan untuk menampilkan iklan beralih menayangkan konten yang tidak pantas, termasuk video porno. Kejadian ini dilaporkan terjadi di Mesir, Malaysia, dan Brasil pada pekan lalu, dengan klaim serupa juga muncul dari Irak dan China, meskipun belum ada verifikasi independen mengenai hal tersebut.

Salah satu insiden yang paling mencolok terjadi di sebuah billboard besar yang terletak di Jalan 26th of July Axis, Giza, Mesir. Layar tersebut menayangkan video porno di tengah jalan yang menghubungkan Kairo dengan daerah pinggiran barat kota. Banyak pengendara yang berhenti untuk merekam kejadian tersebut, menunjukkan betapa mengejutkannya insiden ini.

Investigasi Perusahaan Periklanan

Billboard yang diretas tersebut dikelola oleh perusahaan periklanan lokal bernama Al Arabia United. Perusahaan ini bekerja sama dengan sebuah perusahaan internasional yang situs webnya diduga menjadi target serangan siber. Al Arabia United mengungkapkan bahwa mereka telah mendeteksi akses tidak sah ke salah satu layarnya. Sebagai langkah pencegahan, mereka mematikan perangkat tersebut untuk menghentikan penyebaran konten lebih lanjut dan melakukan penyelidikan bersama pihak berwenang.

Kelompok Peretas Leakers$ Mengklaim Tanggung Jawab

Selain menampilkan video porno, para peretas juga menayangkan tulisan dari akun Telegram @LeakersGov di billboard yang mereka bobol. Akun tersebut merupakan milik kelompok peretas bernama Leakers$, yang mengklaim bertanggung jawab atas peretasan beberapa billboard digital di negara-negara yang disebutkan sebelumnya. Dalam sebuah pernyataan kepada media, salah satu perwakilan kelompok tersebut menjelaskan bahwa mereka mengeksploitasi celah keamanan pada perangkat lunak yang digunakan untuk mengirimkan konten ke layar LED. Mereka mengklaim telah menemukan ribuan sistem yang rentan melalui pemindaian otomatis selama sekitar dua jam.

Kelompok Leakers$ menegaskan bahwa tindakan mereka bukan untuk meminta tebusan atau donasi. Mereka menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk menunjukkan bahwa sistem papan reklame digital yang tidak terlindungi dapat dengan mudah diambil alih dari jarak jauh. Mereka juga mengkritik perusahaan pengelola papan reklame yang menghabiskan banyak biaya untuk infrastruktur, namun tidak menerapkan langkah-langkah keamanan dasar pada perangkat yang terhubung ke internet.

Insiden serupa bukanlah hal baru. Pada tahun 2016, sebuah papan reklame digital di Jakarta juga pernah diretas dan menampilkan video porno Jepang, yang mengakibatkan penangkapan pelaku oleh pihak kepolisian. Kejadian serupa juga terjadi di Brisbane, Australia, pada tahun 2022, di mana sebuah layar reklame digital menampilkan konten porno selama beberapa menit sebelum akhirnya dimatikan. Pada Agustus 2023, otoritas Irak juga mematikan beberapa layar iklan elektronik di Baghdad setelah peretas menayangkan video porno di salah satu layar di kawasan Uqba bin Nafeh Square.

Serangkaian insiden ini menunjukkan bahwa papan reklame digital yang terhubung ke internet memiliki risiko keamanan siber yang signifikan. Salah satu celah yang sering ditemukan adalah penggunaan kata sandi bawaan yang tidak pernah diganti oleh pengelola. Asosiasi periklanan luar ruang Amerika Serikat (OAAA) telah memperingatkan pengelola papan reklame digital untuk lebih memperhatikan aspek keamanan pada videotron mereka, termasuk tidak menggunakan kata sandi bawaan dari produsen perangkat.

Artikel Terkait