Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pada bulan September 2026, Indonesia mengimpor emas dengan kode HS 7108 sebanyak 442,7 kilogram, yang bernilai sekitar US$ 55,3 juta. Dalam laporan tersebut, Hong Kong tercatat sebagai negara asal pemasok emas terbesar dengan nilai mencapai US$ 22,44 juta, setara dengan 160 kilogram.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa Uni Emirat Arab dan Jepang juga berkontribusi signifikan dalam pasokan emas ke Indonesia pada bulan tersebut. "Untuk kondisi September, asal impor emas tertinggi dari Hong Kong dengan nilai US$ 22,44 juta dan berat 160 kilogram," ungkap Ateng dalam konferensi pers yang diadakan di Kantor BPS pada tanggal 2 November 2026.
Impor dari Negara Lain
Impor emas dari Uni Emirat Arab tercatat mencapai US$ 14,55 juta dengan volume 101 kilogram, sedangkan dari Jepang, nilai impor mencapai US$ 6,77 juta dengan berat 67,87 kilogram. Ateng menambahkan bahwa asal negara pemasok emas dapat berubah setiap bulan sesuai dengan dinamika perdagangan yang terjadi. "Emas itu HS 7108 pada September volumenya 442,7 kilogram dengan nilai US$ 55,3 juta," jelasnya.
Neraca Perdagangan Indonesia
BPS juga mencatat bahwa neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$ 10,61 miliar atau sekitar Rp 192,5 triliun selama periode Januari hingga September 2026. Surplus ini terutama berasal dari sektor perdagangan nonmigas yang mencapai kelebihan US$ 34,21 miliar, meskipun sektor migas mengalami defisit sebesar US$ 23,60 miliar.
Ateng Hartono mengungkapkan bahwa pada bulan September 2026, neraca perdagangan juga mencatat surplus sebesar US$ 3,36 miliar atau Rp 60,9 triliun. "Pada September 2026 neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$ 3,36 miliar," kata Ateng. Surplus perdagangan pada bulan tersebut didominasi oleh sektor nonmigas yang menyumbang sebesar US$ 5,67 miliar, dengan komoditas seperti lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja sebagai penyumbang utama.
Di sisi lain, perdagangan migas mengalami defisit sebesar US$ 2,31 miliar yang disebabkan oleh transaksi hasil minyak dan minyak mentah. Ateng menjelaskan bahwa meskipun nilai impor meningkat lebih tinggi dibandingkan ekspor, surplus perdagangan kumulatif masih dapat dipertahankan. "Nilai ekspor Januari sampai dengan September 2026 mencapai US$ 221,23 miliar atau meningkat 5,58% dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Nilai impor pada periode tersebut sebesar US$ 210,63 miliar atau meningkat 19,67%," tambahnya.
Dalam hal mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus perdagangan total terbesar dengan nilai mencapai US$ 14,26 miliar, diikuti oleh India dengan surplus US$ 10,59 miliar dan Filipina sebesar US$ 6,48 miliar. Sebaliknya, Tiongkok tercatat sebagai penyumbang defisit perdagangan terbesar dengan nilai US$ 21,20 miliar, diikuti oleh Singapura dan Australia dengan defisit masing-masing sebesar US$ 7,03 miliar dan US$ 5,78 miliar.