Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggalkan dampak yang lebih luas daripada sekadar menghancurkan vegetasi. Kerusakan yang ditimbulkan juga mencakup struktur tanah, ekosistem gambut, serta mikroorganisme yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, pemulihan kawasan yang terkena dampak memerlukan pendekatan berbasis sains.
Prof. Dr. Eko Agus Suyono, seorang dosen di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa karhutla merupakan tantangan ekologis yang harus ditangani dengan data dan pemahaman yang mendalam tentang karakteristik ekosistem. Kebakaran dapat menghilangkan informasi ekologis yang tersimpan dalam struktur dan fungsi ekosistem tersebut. Dalam pernyataannya, Eko menekankan pentingnya kebijakan pencegahan kebakaran yang berkelanjutan.
Pemulihan Ekosistem Memerlukan Lebih dari Sekadar Penanaman Pohon
Salah satu konsekuensi dari karhutla yang sering diabaikan adalah kerusakan pada mikrobioma tanah. Suhu yang ekstrem saat kebakaran dapat menghancurkan komunitas mikroorganisme, termasuk bakteri yang berperan dalam fiksasi nitrogen dan jamur mikoriza. Mikroorganisme ini sangat penting untuk menjaga kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan vegetasi, sehingga kerusakannya dapat memperlambat proses pemulihan ekosistem setelah kebakaran.
Dampak lainnya terjadi pada lahan gambut, di mana kebakaran dapat melepaskan cadangan karbon yang signifikan ke atmosfer, meningkatkan emisi gas rumah kaca, dan memperburuk perubahan iklim. Oleh karena itu, restorasi harus memperhatikan hubungan antara tanah, vegetasi, mikroorganisme, dan siklus karbon. Memulihkan satu komponen saja dapat berisiko tidak mengembalikan fungsi ekosistem secara keseluruhan.
Pentingnya Pembasahan Gambut dan Pemulihan Mikroorganisme
Eko menilai bahwa penanaman kembali vegetasi lokal merupakan langkah penting yang perlu diambil. Pemilihan spesies harus disesuaikan dengan karakteristik ekosistem setempat agar dapat mendukung pemulihan habitat dan fungsi ekologis kawasan yang terdampak. Selain itu, pembasahan kembali gambut atau rewetting juga merupakan bagian krusial dari proses restorasi. Langkah ini bertujuan untuk memulihkan kondisi hidrologis gambut dan mengurangi risiko kebakaran yang berulang.
Pemulihan mikrobioma tanah juga perlu dilakukan melalui penelitian dan pengembangan formulasi mikroorganisme yang sesuai dengan kondisi lahan yang terdampak. Upaya ini diharapkan dapat membantu mengembalikan kesuburan tanah pascakebakaran.
Pembasahan gambut, penanaman kembali dengan spesies lokal, dan pemulihan mikrobioma tanah saling berkaitan dalam mengembalikan fungsi ekosistem sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Eko menyatakan, "Melalui pembasahan kembali gambut, revegetasi dengan spesies lokal, serta pemulihan mikrobioma tanah berperan dalam pemulihan siklus karbon."
Fakultas Biologi UGM menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam upaya pemulihan ekosistem yang terdampak karhutla. Dukungan yang ditawarkan mencakup identifikasi dan rehabilitasi satwa yang terkena dampak, penyediaan bibit lokal unggul, serta riset mikroorganisme untuk memulihkan tanah. UGM juga membuka peluang untuk pendampingan ilmiah dalam penyusunan kebijakan mitigasi karhutla dan pengukuran stok karbon dalam program restorasi.
Dengan demikian, pemulihan pascakarhutla harus melampaui penanganan dampak langsung dari kebakaran. Restorasi berbasis sains dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan sekaligus mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.