Sejumlah aktivis yang tergabung dalam kelompok 1998, seperti IKA 98, GERAK 98, dan 98 Garis Lucu, mengeluarkan Maklumat Matraman di Jakarta pada hari Jumat, 30 Oktober 2026. Mereka menuntut agar pemerintah melaksanakan agenda reformasi dan melakukan evaluasi terhadap dua tahun kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, mereka mengancam akan mendesak percepatan pemilu atau meminta kedua pemimpin tersebut untuk mundur dari jabatannya.
Evaluasi Kepemimpinan Prabowo-Gibran
Acara yang diadakan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 ini berlangsung di Restoran Handayani Prima, Jakarta. Forum tersebut menjadi tempat bagi para aktivis untuk mengevaluasi perjalanan reformasi dan arah pemerintahan selama dua tahun terakhir. Di antara para pembicara yang hadir terdapat Mixilmina Munir, Edysa Girsang, Bambang Sri Pujo, Aceng Ahmad Nasir, Dendy SE dari GMNI Jakarta, dan M. Rizky Pratama, Ketua BEM KM Institut STIAMI. Diskusi ini dimoderatori oleh Ignatius Indro dari 98 Garis Lucu.
Perjuangan Rakyat dan Harapan untuk Perubahan
Mixilmina Munir, salah satu aktivis dari Gerak 98, mengingatkan bahwa perjuangan untuk memperbaiki bangsa tidak seharusnya diserahkan kepada elite politik. Ia menegaskan bahwa perubahan harus menjadi tanggung jawab masyarakat secara keseluruhan. "Jangan sampai perjuangan untuk memperbaiki bangsa ini justru kita serahkan kepada elite politik. Perubahan Indonesia harus tetap menjadi perjuangan rakyat, bukan hanya menjadi urusan mereka yang sedang memegang kekuasaan," ujarnya.
Bambang Sri Pujo juga memberikan kritik tajam terhadap kondisi pemerintahan saat ini, mengungkapkan bahwa masyarakat tidak lagi bisa mengandalkan pemerintah untuk memperbaiki keadaan bangsa. "Masyarakat sekarang sudah tidak bisa berharap kepada pemerintah untuk memperbaiki bangsa ini. Karena itu, rakyat harus mulai membangun kekuatannya sendiri dan tidak boleh terus-menerus menunggu perubahan datang dari atas," katanya.
Aceng Ahmad Nasir berharap agar gerakan mahasiswa yang muncul saat ini menjadi awal kebangkitan kekuatan perubahan di Indonesia. Ia mengingatkan agar gerakan mahasiswa tidak hanya berhenti pada aksi demonstrasi, tetapi juga berkembang menjadi gerakan yang terorganisir dengan agenda perjuangan yang jelas. "Saya berharap gerakan mahasiswa yang dilakukan saat ini terus berkembang. Jangan berhenti hanya pada demonstrasi atau aksi-aksi sesaat, tetapi harus tumbuh menjadi kekuatan revolusioner yang mampu mendorong perubahan bangsa," ujarnya.
Menurut Aceng, mahasiswa harus kembali berperan sebagai kekuatan moral dan intelektual yang berani mengoreksi jalannya kekuasaan.