🔴 Breaking
Elon Musk: Menabung untuk Masa Depan di Era Kecerdasan Buatan Tidak Berguna Kehamilan Pertama Dr. Gia Pratama Setelah Delapan Tahun Menanti Yayasan Al Abidin Selenggarakan Kajian untuk Meningkatkan Etos Kerja Berbasis Islam Mengungkap Alasan di Balik Penghilangan Lantai 13 pada Gedung Tinggi Nvidia: Jerman, Jepang, dan China Dominasi Sektor Manufaktur Global, AS Tersisih Mengolah Kulit Buah Menjadi Eco Enzyme: Proses Fermentasi yang Ramah Lingkungan Tantangan Pengangguran di India: Penurunan Angka Tidak Berarti Peningkatan Kesempatan Kerja Pertamina Kembangkan Minyak Jelantah Menjadi Bahan Bakar Pesawat dan Bensin Ramah Lingkungan Vietnam Siap Menggeser Indonesia dalam Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Aktivis 98 Desak Prabowo-Gibran Laksanakan Agenda Reformasi atau Mundur Elon Musk: Menabung untuk Masa Depan di Era Kecerdasan Buatan Tidak Berguna Kehamilan Pertama Dr. Gia Pratama Setelah Delapan Tahun Menanti Yayasan Al Abidin Selenggarakan Kajian untuk Meningkatkan Etos Kerja Berbasis Islam Mengungkap Alasan di Balik Penghilangan Lantai 13 pada Gedung Tinggi Nvidia: Jerman, Jepang, dan China Dominasi Sektor Manufaktur Global, AS Tersisih Mengolah Kulit Buah Menjadi Eco Enzyme: Proses Fermentasi yang Ramah Lingkungan Tantangan Pengangguran di India: Penurunan Angka Tidak Berarti Peningkatan Kesempatan Kerja Pertamina Kembangkan Minyak Jelantah Menjadi Bahan Bakar Pesawat dan Bensin Ramah Lingkungan Vietnam Siap Menggeser Indonesia dalam Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Aktivis 98 Desak Prabowo-Gibran Laksanakan Agenda Reformasi atau Mundur
Teknologi

Nvidia: Jerman, Jepang, dan China Dominasi Sektor Manufaktur Global, AS Tersisih

CEO Nvidia, Jensen Huang, mengungkapkan bahwa Jerman, Jepang, dan China kini menjadi pemimpin dalam teknologi dan manufaktur, sementara Amerika Serikat tidak termasuk dalam daftar tersebut.

Chandra Kirana

Penulis

01 November 2026
9 kali dibaca
CEO Nvidia, Jensen Huang memberikan pidato dalam sebuah acara.(TechSpot)
CEO Nvidia, Jensen Huang memberikan pidato dalam sebuah acara.(TechSpot)

CEO Nvidia, Jensen Huang, menyatakan bahwa saat ini Jerman, Jepang, dan China merupakan tiga negara terdepan di bidang teknologi dan manufaktur. Menariknya, Amerika Serikat, yang merupakan negara asal Nvidia, tidak ada dalam daftar tersebut. Huang mengungkapkan bahwa AS telah lama memindahkan sebagian besar industri manufaktur beratnya ke China. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah diskusi bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz pada acara Invest in Germany Summit yang berlangsung di Berlin pada Senin, 19 Oktober 2026, sehari sebelum konferensi GTC Berlin 2026 yang diadakan pada 20-22 Oktober.

Dalam penjelasannya, Huang mengawali dengan merujuk pada revolusi industri yang telah berlalu. Dia menjelaskan bahwa pada masa itu, penggunaan listrik mulai meluas untuk menggerakkan pabrik dan mesin. "Listrik pada dasarnya menghasilkan tiga pemimpin geografis, Jerman, Amerika Serikat, Jepang," ujarnya. Namun, komposisi ini berubah seiring dengan perkembangan industri komputer, di mana salah satu negara dalam daftar tersebut mulai melepaskan kekuatan manufakturnya.

Perpindahan Manufaktur ke China

Huang menekankan bahwa Amerika Serikat telah mengekspor sebagian besar kemampuan manufakturnya ke China. "Amerika Serikat sebagian besar telah mengekspor manufaktur beratnya, kemampuannya membangun, keterampilannya, ke China," ungkapnya. Ia menegaskan bahwa saat ini, dunia kembali memiliki tiga negara pemimpin, yaitu Jerman, Jepang, dan China.

Keuntungan Waktu bagi China

Huang juga menyoroti keuntungan waktu yang dimiliki China. Transformasi ekonomi negara tersebut terjadi bersamaan dengan perkembangan industri komputer, sehingga manufaktur dan ilmu komputer di China berkembang secara simultan. "China adalah satu-satunya negara saat ini yang mendalami manufaktur sekaligus ilmu komputer," jelasnya. Meskipun tidak mengabaikan kekuatan AS, Huang mencatat bahwa selama 50 tahun terakhir adalah era pemrograman perangkat lunak. "Amerika Serikat jelas kelas dunia, tetapi sekarang ada era baru," tambahnya. Ia juga menyebut kehadiran AI sebagai "pengaturan ulang total" karena komputer kini dapat memprogram dirinya sendiri.

Huang menilai bahwa kekuatan Jerman masih terletak pada industri fisik. Ia berpendapat bahwa teknologi digital, sekuat apapun, tidak akan mampu menggantikan teknologi fisik elektromekanis seperti mesin dan peralatan pabrik. "Elektron tidak akan pernah menggantikan atom," tuturnya. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai perusahaan kecil dan menengah di Jerman, yang dikenal sebagai Mittelstand, yang kini mengalami kekurangan tenaga kerja akibat penuaan populasi. Huang mendorong mereka untuk memanfaatkan AI guna meniru keahlian pekerja senior agar pengetahuan tersebut tetap ada di Jerman. "AI hanya bisa memperkuat kemampuan kalian, AI tidak akan menggantikan kemampuan kalian," ujarnya.

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mengawali tanggapannya dengan mengucapkan terima kasih kepada Huang atas perbandingan yang dibuat antara Jerman dan negara-negara lain. Merz menegaskan bahwa Jerman harus tetap menjadi negara manufaktur dan tidak boleh melepaskan posisi tersebut. "Saya sependapat dengan pandangan Anda, bahwa orang Amerika membuat kesalahan besar dengan mengekspor manufaktur mereka," kata Merz. Pada hari yang sama, Merz bersama dua kementerian Jerman dan Nvidia menandatangani deklarasi bersama untuk mengembangkan model AI fisik tercanggih, yang mengacu pada AI yang menggerakkan robot, mesin, dan mobil.

Artikel Terkait