🔴 Breaking
Elon Musk: Menabung untuk Masa Depan di Era Kecerdasan Buatan Tidak Berguna Kehamilan Pertama Dr. Gia Pratama Setelah Delapan Tahun Menanti Yayasan Al Abidin Selenggarakan Kajian untuk Meningkatkan Etos Kerja Berbasis Islam Mengungkap Alasan di Balik Penghilangan Lantai 13 pada Gedung Tinggi Nvidia: Jerman, Jepang, dan China Dominasi Sektor Manufaktur Global, AS Tersisih Mengolah Kulit Buah Menjadi Eco Enzyme: Proses Fermentasi yang Ramah Lingkungan Tantangan Pengangguran di India: Penurunan Angka Tidak Berarti Peningkatan Kesempatan Kerja Pertamina Kembangkan Minyak Jelantah Menjadi Bahan Bakar Pesawat dan Bensin Ramah Lingkungan Vietnam Siap Menggeser Indonesia dalam Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Aktivis 98 Desak Prabowo-Gibran Laksanakan Agenda Reformasi atau Mundur Elon Musk: Menabung untuk Masa Depan di Era Kecerdasan Buatan Tidak Berguna Kehamilan Pertama Dr. Gia Pratama Setelah Delapan Tahun Menanti Yayasan Al Abidin Selenggarakan Kajian untuk Meningkatkan Etos Kerja Berbasis Islam Mengungkap Alasan di Balik Penghilangan Lantai 13 pada Gedung Tinggi Nvidia: Jerman, Jepang, dan China Dominasi Sektor Manufaktur Global, AS Tersisih Mengolah Kulit Buah Menjadi Eco Enzyme: Proses Fermentasi yang Ramah Lingkungan Tantangan Pengangguran di India: Penurunan Angka Tidak Berarti Peningkatan Kesempatan Kerja Pertamina Kembangkan Minyak Jelantah Menjadi Bahan Bakar Pesawat dan Bensin Ramah Lingkungan Vietnam Siap Menggeser Indonesia dalam Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Aktivis 98 Desak Prabowo-Gibran Laksanakan Agenda Reformasi atau Mundur
Kesehatan

Mengolah Kulit Buah Menjadi Eco Enzyme: Proses Fermentasi yang Ramah Lingkungan

Kulit buah dan sisa sayuran dapat dimanfaatkan menjadi eco enzyme melalui proses fermentasi yang sederhana. Berikut adalah langkah-langkah untuk membuatnya di rumah.

Bima Sakti

Penulis

01 November 2026
7 kali dibaca
Sampah organik bisa diolah jadi eco enzyme. Foto: Getty Images/svetikd
Sampah organik bisa diolah jadi eco enzyme. Foto: Getty Images/svetikd

Jakarta - Sisa kulit buah dan sayuran tidak perlu dibuang begitu saja. Bahan organik ini dapat diolah menjadi eco enzyme melalui proses fermentasi yang melibatkan campuran gula dan air. Pembuatan eco enzyme sering kali diperkenalkan sebagai salah satu solusi untuk mengelola sampah organik di rumah. Meskipun bahan-bahannya mudah ditemukan, penting untuk memperhatikan takaran dan waktu fermentasi yang tepat.

Bahan-Bahan yang Diperlukan

Untuk membuat eco enzyme, Anda memerlukan beberapa bahan dasar, yaitu sisa buah dan sayuran, gula atau molase, serta air. Anda bisa menggunakan gula merah atau molase sesuai dengan yang tersedia. Pastikan sisa buah dan sayuran yang digunakan masih segar dan tidak busuk, serta hindari bahan yang sudah dimasak atau mengandung sisa hewani.

Berikut adalah bahan dan perlengkapan yang perlu disiapkan:

  • 5 jenis bahan organik (kulit buah atau potongan sayuran segar).
  • Gula atau molase.
  • Air.
  • Wadah plastik bersih, sebaiknya yang memiliki mulut lebar.

Takaran yang Tepat untuk Eco Enzyme

Salah satu panduan umum dalam pembuatan eco enzyme adalah perbandingan 1:3:10. Ini berarti satu bagian gula atau molase dicampur dengan tiga bagian sisa buah dan sayuran, serta sepuluh bagian air. Sebagai contoh, jika menggunakan 300 gram gula atau molase, Anda memerlukan sekitar 900 gram bahan organik dan 3 liter air. Pastikan untuk menyisakan ruang kosong dalam wadah karena proses fermentasi akan menghasilkan gas.

Langkah-Langkah Membuat Eco Enzyme di Rumah

Setelah semua bahan dan perlengkapan tersedia, Anda dapat mengikuti langkah-langkah berikut untuk membuat eco enzyme:

  1. Siapkan bahan organik: Potong kulit buah dan sisa sayuran menjadi bagian kecil agar lebih mudah dimasukkan ke dalam wadah. Pastikan bahan yang digunakan masih segar dan tidak tercampur dengan sisa makanan matang atau bahan hewani.
  2. Lakukan pelarutan gula atau molase: Campurkan air dan gula atau molase dalam wadah bersih, lalu aduk hingga gula larut. Sisakan ruang kosong di bagian atas wadah untuk mengantisipasi gas yang terbentuk selama fermentasi.
  3. Masukkan kulit buah dan sayuran: Tambahkan bahan organik sesuai perbandingan yang telah ditentukan. Pastikan semua bahan terendam dalam cairan agar tidak ada bagian yang mengering.
  4. Tutup wadah dengan benar: Gunakan wadah yang sesuai untuk fermentasi. Jangan mengisi wadah hingga penuh dan pastikan tutupnya tidak terlalu rapat untuk menghindari tekanan gas yang berlebihan.
  5. Simpan dan tunggu proses fermentasi: Letakkan wadah di tempat bersuhu ruang yang tidak terkena sinar matahari langsung. Lama fermentasi yang disarankan adalah minimal tiga bulan atau sekitar 90 hari. Selama proses ini, periksa kondisi wadah dan pastikan tidak ada kebocoran.

Selama fermentasi, karakteristik hasil dapat dipengaruhi oleh jenis bahan, takaran, kebersihan, suhu penyimpanan, dan kondisi proses. Oleh karena itu, lama waktu fermentasi saja tidak menjamin keamanan produk. Jika muncul jamur yang tidak dikenal, bau busuk, atau tanda kerusakan pada wadah, maka fermentasi dianggap gagal dan hasilnya tidak dapat digunakan.

Artikel Terkait