🔴 Breaking
Elon Musk: Menabung untuk Masa Depan di Era Kecerdasan Buatan Tidak Berguna Kehamilan Pertama Dr. Gia Pratama Setelah Delapan Tahun Menanti Yayasan Al Abidin Selenggarakan Kajian untuk Meningkatkan Etos Kerja Berbasis Islam Mengungkap Alasan di Balik Penghilangan Lantai 13 pada Gedung Tinggi Nvidia: Jerman, Jepang, dan China Dominasi Sektor Manufaktur Global, AS Tersisih Mengolah Kulit Buah Menjadi Eco Enzyme: Proses Fermentasi yang Ramah Lingkungan Tantangan Pengangguran di India: Penurunan Angka Tidak Berarti Peningkatan Kesempatan Kerja Pertamina Kembangkan Minyak Jelantah Menjadi Bahan Bakar Pesawat dan Bensin Ramah Lingkungan Vietnam Siap Menggeser Indonesia dalam Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Aktivis 98 Desak Prabowo-Gibran Laksanakan Agenda Reformasi atau Mundur Elon Musk: Menabung untuk Masa Depan di Era Kecerdasan Buatan Tidak Berguna Kehamilan Pertama Dr. Gia Pratama Setelah Delapan Tahun Menanti Yayasan Al Abidin Selenggarakan Kajian untuk Meningkatkan Etos Kerja Berbasis Islam Mengungkap Alasan di Balik Penghilangan Lantai 13 pada Gedung Tinggi Nvidia: Jerman, Jepang, dan China Dominasi Sektor Manufaktur Global, AS Tersisih Mengolah Kulit Buah Menjadi Eco Enzyme: Proses Fermentasi yang Ramah Lingkungan Tantangan Pengangguran di India: Penurunan Angka Tidak Berarti Peningkatan Kesempatan Kerja Pertamina Kembangkan Minyak Jelantah Menjadi Bahan Bakar Pesawat dan Bensin Ramah Lingkungan Vietnam Siap Menggeser Indonesia dalam Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Aktivis 98 Desak Prabowo-Gibran Laksanakan Agenda Reformasi atau Mundur
Ekonomi

Vietnam Siap Menggeser Indonesia dalam Pertumbuhan Ekonomi ASEAN

Vietnam diperkirakan akan melampaui Indonesia dalam produk domestik bruto (PDB) per kapita pada tahun 2026, menandakan tantangan bagi perekonomian Indonesia yang mulai tertinggal.

Fehardian Rahaja

Penulis

01 November 2026
9 kali dibaca
Indonesia terancam kehilangan keunggulan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Vietnam diproyeksikan bakal menyalip Indonesia dalam hal produk domestik bruto (PDB) per kapita pada 2026. [Suara.com/Alfian Winanto]
Indonesia terancam kehilangan keunggulan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Vietnam diproyeksikan bakal menyalip Indonesia dalam hal produk domestik bruto (PDB) per kapita pada 2026. [Suara.com/Alfian Winanto]

Indonesia menghadapi ancaman kehilangan posisi unggul dalam ekonomi Asia Tenggara, dengan Vietnam diproyeksikan akan melampaui Indonesia dalam hal produk domestik bruto (PDB) per kapita pada tahun 2026. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai tertinggal dibandingkan dengan negara-negara pesaing di kawasan.

Berdasarkan laporan dari Nikkei Asia yang mengutip proyeksi dari Dana Moneter Internasional (IMF), PDB nominal per kapita Vietnam diperkirakan mencapai US$5.259 pada tahun 2026, sementara Indonesia hanya diproyeksikan sebesar US$5.153. Proyeksi ini menjadi sinyal peringatan bagi Indonesia, mengingat sebelumnya Vietnam masih berada di bawah Indonesia dalam indikator ekonomi tersebut.

Tantangan Pertumbuhan Ekonomi

Proyeksi IMF pada April 2026 sebelumnya memperkirakan Indonesia akan tetap mempertahankan keunggulannya, namun revisi terbaru menunjukkan Vietnam semakin agresif dalam mengejar ketertinggalan. Pertumbuhan PDB per kapita Vietnam diprediksi akan naik 8,9% tahun ini, sedangkan Indonesia hanya mencatatkan pertumbuhan yang jauh lebih terbatas.

Kesenjangan pertumbuhan antara kedua negara juga terlihat dari proyeksi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. IMF memperkirakan ekonomi Vietnam akan tumbuh 8,4% pada tahun 2026, sedangkan Indonesia hanya diperkirakan tumbuh 5,1%. Kondisi ini menunjukkan tantangan bagi Indonesia untuk mempertahankan daya saing ekonominya di tengah persaingan untuk menarik investasi asing.

Investasi dan Infrastruktur

Vietnam semakin menarik perhatian industri manufaktur berteknologi tinggi, termasuk sektor semikonduktor dan perangkat elektronik. Beberapa perusahaan global seperti Foxconn dan Samsung telah memperluas operasi produksinya di Vietnam. Di sisi lain, pemerintah Vietnam juga menginvestasikan dana besar untuk pembangunan infrastruktur, dengan rencana belanja investasi publik mencapai VND1.014 kuadriliun atau sekitar US$39,3 miliar pada tahun 2026, mencakup pembangunan jalan, bandara, dan proyek infrastruktur lainnya.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5%. Meskipun investasi asing mulai mengalir ke sektor kendaraan listrik dan hilirisasi, dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat dinilai belum cukup signifikan.

Pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi masalah tersendiri, karena nilai tukar yang melemah membuat pertumbuhan PDB nominal Indonesia menjadi lebih tertekan saat dikonversi ke dolar AS. Hal ini menjadi tantangan tambahan bagi daya tarik investasi di pasar modal Indonesia, di mana investor global tidak hanya mempertimbangkan ukuran pasar domestik, tetapi juga prospek pertumbuhan, produktivitas, stabilitas mata uang, dan kemampuan negara untuk menghasilkan keuntungan jangka panjang.

Di tengah kondisi ini, pasar saham Indonesia juga menghadapi tekanan setelah MSCI menyoroti masalah transparansi kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi, yang semakin memperbesar tantangan dalam menjaga kepercayaan investor asing.

Artikel Terkait