Indonesia menghadapi ancaman kehilangan posisi unggul dalam ekonomi Asia Tenggara, dengan Vietnam diproyeksikan akan melampaui Indonesia dalam hal produk domestik bruto (PDB) per kapita pada tahun 2026. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai tertinggal dibandingkan dengan negara-negara pesaing di kawasan.
Berdasarkan laporan dari Nikkei Asia yang mengutip proyeksi dari Dana Moneter Internasional (IMF), PDB nominal per kapita Vietnam diperkirakan mencapai US$5.259 pada tahun 2026, sementara Indonesia hanya diproyeksikan sebesar US$5.153. Proyeksi ini menjadi sinyal peringatan bagi Indonesia, mengingat sebelumnya Vietnam masih berada di bawah Indonesia dalam indikator ekonomi tersebut.
Tantangan Pertumbuhan Ekonomi
Proyeksi IMF pada April 2026 sebelumnya memperkirakan Indonesia akan tetap mempertahankan keunggulannya, namun revisi terbaru menunjukkan Vietnam semakin agresif dalam mengejar ketertinggalan. Pertumbuhan PDB per kapita Vietnam diprediksi akan naik 8,9% tahun ini, sedangkan Indonesia hanya mencatatkan pertumbuhan yang jauh lebih terbatas.
Kesenjangan pertumbuhan antara kedua negara juga terlihat dari proyeksi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. IMF memperkirakan ekonomi Vietnam akan tumbuh 8,4% pada tahun 2026, sedangkan Indonesia hanya diperkirakan tumbuh 5,1%. Kondisi ini menunjukkan tantangan bagi Indonesia untuk mempertahankan daya saing ekonominya di tengah persaingan untuk menarik investasi asing.
Investasi dan Infrastruktur
Vietnam semakin menarik perhatian industri manufaktur berteknologi tinggi, termasuk sektor semikonduktor dan perangkat elektronik. Beberapa perusahaan global seperti Foxconn dan Samsung telah memperluas operasi produksinya di Vietnam. Di sisi lain, pemerintah Vietnam juga menginvestasikan dana besar untuk pembangunan infrastruktur, dengan rencana belanja investasi publik mencapai VND1.014 kuadriliun atau sekitar US$39,3 miliar pada tahun 2026, mencakup pembangunan jalan, bandara, dan proyek infrastruktur lainnya.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5%. Meskipun investasi asing mulai mengalir ke sektor kendaraan listrik dan hilirisasi, dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat dinilai belum cukup signifikan.
Pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi masalah tersendiri, karena nilai tukar yang melemah membuat pertumbuhan PDB nominal Indonesia menjadi lebih tertekan saat dikonversi ke dolar AS. Hal ini menjadi tantangan tambahan bagi daya tarik investasi di pasar modal Indonesia, di mana investor global tidak hanya mempertimbangkan ukuran pasar domestik, tetapi juga prospek pertumbuhan, produktivitas, stabilitas mata uang, dan kemampuan negara untuk menghasilkan keuntungan jangka panjang.
Di tengah kondisi ini, pasar saham Indonesia juga menghadapi tekanan setelah MSCI menyoroti masalah transparansi kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi, yang semakin memperbesar tantangan dalam menjaga kepercayaan investor asing.