🔴 Breaking
Teknologi

Kekhawatiran Investor Terhadap Saham Teknologi di Pasar AS

Saham perusahaan teknologi di Amerika Serikat mengalami penurunan signifikan dalam dua hari perdagangan terakhir, dipicu oleh kekhawatiran investor mengenai pengeluaran besar untuk pengembangan kecerd...

Galang Mahesa

Penulis

31 October 2026
8 kali dibaca
Ilustrasi saham, pasar saham.(MAGNIFIC/FREEPIK)
Ilustrasi saham, pasar saham.(MAGNIFIC/FREEPIK)

Sejumlah saham dari perusahaan teknologi di Amerika Serikat mengalami penurunan yang signifikan dalam dua hari terakhir. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran dari para investor terkait besarnya pengeluaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Salah satu saham yang mengalami penurunan paling drastis adalah saham Intel, yang anjlok sebesar 28 persen pada perdagangan Jumat (30/10/2026) waktu setempat. Saham Alphabet, yang merupakan induk dari Google, juga mengalami penurunan sebesar 1,4 persen pada hari yang sama, setelah sebelumnya merosot 12 persen pada perdagangan Kamis. Selain itu, saham perusahaan teknologi lainnya juga mengalami nasib serupa, dengan saham Reddit turun 29 persen, Amazon melemah 1,4 persen, dan Roblox anjlok sebesar 18 persen.

Indeks Nasdaq Tertekan

Penurunan harga saham-saham tersebut turut berkontribusi pada tekanan yang dialami oleh indeks Nasdaq. Indeks yang didominasi oleh perusahaan teknologi ini mencatatkan kinerja bulanan terburuknya sejak Maret 2025. Hal ini menunjukkan bahwa para investor mulai meragukan besarnya dana yang diinvestasikan oleh perusahaan teknologi untuk pengembangan AI, dengan kekhawatiran bahwa investasi tersebut belum memberikan keuntungan yang sebanding.

Lima perusahaan teknologi besar, yaitu Meta, Alphabet, Oracle, Amazon, dan Microsoft, diperkirakan akan mengeluarkan belanja gabungan mencapai 800 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.400 triliun sepanjang tahun 2026. Jumlah tersebut menarik perhatian investor karena sebagian besar dana dialokasikan untuk membangun infrastruktur AI, termasuk pusat data dan perangkat pendukung lainnya.

Belanja Modal yang Besar

Alphabet menjadi salah satu perusahaan yang mendapat sorotan, di mana kapitalisasi pasar perusahaan ini dilaporkan menyusut lebih dari 500 miliar dollar AS setelah munculnya kekhawatiran bahwa fitur ringkasan berbasis AI dalam hasil pencarian Google dapat mengganggu pendapatan iklan yang selama ini menjadi sumber utama pendapatan perusahaan. Alphabet diperkirakan akan mengalokasikan belanja modal sebesar 205 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.690 triliun tahun ini, dengan sebagian besar anggaran tersebut digunakan untuk pengembangan AI.

Amazon juga mengantisipasi pengeluaran besar untuk belanja modal, dengan perkiraan capex mencapai 220 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.960 triliun sepanjang tahun ini. Besarnya pengeluaran ini menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan teknologi untuk menghasilkan arus kas dan keuntungan dari investasi di sektor AI. Misalnya, Amazon sebelumnya melaporkan arus kas bebas negatif sebesar 42,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 763,2 triliun.

Kekhawatiran serupa juga muncul pada saham Intel, yang tidak hanya mengalami penurunan harga saham tetapi juga menghadapi tantangan dari prospek bisnis yang belum menunjukkan perbaikan. Chief Financial Officer (CFO) Intel, David Zinsner, menyatakan bahwa perusahaan tidak mengharapkan dapat mencatatkan arus kas bebas positif tahun ini. Intel juga memperkirakan pendapatan pada kuartal IV akan lebih rendah dari ekspektasi, dan memperkirakan perlambatan pasar PC akan berlanjut hingga paruh pertama tahun depan.

Di sisi lain, Reddit mengingatkan bahwa penggunaan fitur pencarian berbasis AI di Google telah mengurangi lalu lintas pengunjung yang diarahkan ke platform mereka. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya memerlukan investasi yang besar tetapi juga berpotensi mengubah pola bisnis perusahaan-perusahaan teknologi yang telah mapan.

Penurunan saham di sektor teknologi dalam beberapa hari terakhir mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan terjadinya gelembung AI. Investor mulai mempertanyakan apakah keuntungan yang dihasilkan dari teknologi AI nantinya dapat menutupi biaya investasi yang terus meningkat. Meskipun perusahaan teknologi berlomba-lomba membangun infrastruktur untuk mendukung pengembangan dan penggunaan AI, besarnya belanja tersebut belum tentu langsung menghasilkan pendapatan yang sebanding. Situasi ini membuat investor semakin selektif dalam menilai perusahaan-perusahaan teknologi.

Artikel Terkait