Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi bulanan Indonesia untuk bulan Oktober 2026 tercatat mencapai 0,22 persen. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan harga pada komoditas pangan yang tergolong dalam kelompok harga bergejolak, di mana cabai merah menjadi kontributor utama.
Rincian Inflasi Bulanan
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa komponen harga bergejolak berperan penting dalam laju inflasi, dengan kontribusi sebesar 0,13 persen terhadap inflasi umum. "Inflasi Oktober tahun 2026, yang sudah saya sebutkan yaitu sebesar 0,22% utamanya didorong oleh inflasi kelompok bergejolak. Komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,77%," ungkap Ateng.
Jika dilihat dari kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan inflasi tertinggi dengan angka 0,51 persen. Kelompok ini berkontribusi terhadap inflasi bulanan Oktober 2026 sebesar 0,15 persen. Ateng menambahkan bahwa lonjakan harga dalam kelompok ini dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas bumbu dan sayuran di pasar.
Penyebab Utama Inflasi
Ateng Hartono dalam konferensi pers yang disiarkan secara virtual pada Senin (2/11/2026) menjelaskan bahwa "komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini terutama cabai merah, dengan andil inflasi sebesar 0,13%. Berikutnya cabai rawit, dengan andil inflasi sebesar 0,05%. Serta tomat, dengan andil inflasi sebesar 0,04%." Selain itu, harga sawi hijau, labu siam, dan sawi putih juga mengalami kenaikan dengan kontribusi masing-masing sebesar 0,01 persen.
Di luar sektor makanan, BPS mencatat bahwa tarif angkutan udara juga berkontribusi terhadap inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,01 persen. Secara keseluruhan, inflasi tahunan (year-on-year/YoY) per Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen, sedangkan laju inflasi tahun kalender (year-to-date/YtD) berada di angka 2,40 persen.