Pemerintah Jerman menekankan pentingnya menjaga kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz agar harga minyak dapat kembali stabil. Pada hari Minggu, 21 Juni 2026, Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, memperingatkan tentang potensi penerapan sistem pungutan tol di selat tersebut setelah berakhirnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam sebuah forum publik di Berlin, Wadephul menyatakan bahwa Selat Hormuz memiliki peran krusial dalam pasokan energi global dan harus tetap dapat dilalui tanpa hambatan. βIni adalah prinsip hukum laut,β ujarnya, menggarisbawahi pentingnya kebebasan navigasi di wilayah tersebut.
Ketidakpastian dalam Kesepakatan
Wadephul juga mencatat bahwa nota kesepahaman antara AS dan Iran mengandung rumusan yang tidak jelas, yang menimbulkan keraguan mengenai jaminan yang diberikan. Pemerintah Jerman akan berfokus pada kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz dan mempertimbangkan faktor tersebut dalam keputusan terkait pencabutan sanksi terhadap Iran. "Jika itu terjadi, saya yakin harga minyak dapat kembali normal dengan relatif cepat," tambahnya.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengancam akan memberlakukan biaya tol di Selat Hormuz jika kesepakatan perdamaian tidak tercapai. Perjanjian yang ada menyatakan bahwa Iran tidak boleh memungut biaya selama periode negosiasi 60 hari. Iran diharapkan untuk bernegosiasi dengan Oman mengenai langkah selanjutnya sesuai dengan hukum internasional dan melibatkan negara-negara tetangga.
Fluktuasi Harga Minyak
Harga minyak Brent mengalami kenaikan pada Jumat, 19 Juni 2026, setelah pembicaraan antara AS dan Iran di Swiss dibatalkan, yang menunjukkan ketidakpastian dalam upaya mencapai kesepakatan damai. Menurut laporan, kontrak berjangka minyak mentah Brent meningkat sebesar 0,9% dan ditutup pada harga US$ 80,57 per barel, sementara kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,23% menjadi US$ 77,54.
Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi bahwa pembicaraan yang dijadwalkan antara AS dan Iran tidak akan berlangsung sesuai rencana. Gedung Putih juga menyatakan bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance, membatalkan perjalanan ke Swiss karena masalah logistik terkait negosiasi.
Vance sebelumnya melaporkan bahwa kapal tanker yang membawa lebih dari 12 juta barel melintasi selat tanpa insiden. "Untuk malam kedua berturut-turut, Iran tidak menembaki kapal apa pun di Selat Hormuz,β ujarnya. βSejauh ini, mereka menghormati komitmen mereka.β
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, menyatakan bahwa organisasi tersebut tidak memperkirakan permintaan minyak akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat dan menolak prediksi dari Badan Energi Internasional mengenai kelebihan pasokan di masa depan. "Kami fokus pada fundamental dan tidak memasukkan banyak 'jika' dan 'tetapi' dalam perkiraan kami, tetapi lebih fokus pada angka aktual,β ungkapnya.
Menurut analis di PVM Oil Associates, Tamas Varga, pembukaan kembali Selat Hormuz yang strategis dan pencabutan deklarasi force majeure oleh Kuwait menunjukkan bahwa gangguan yang menyebabkan harga melonjak di atas US$ 120 telah berakhir. "Gencatan senjata 60 hari ini jelas merupakan langkah yang tepat dan patut disambut,β ujarnya, meskipun ia memperingatkan bahwa aksi jual besar-besaran baru-baru ini mungkin tidak berkelanjutan dalam jangka pendek.
Analisis dari Axi, Tiago Lacerda, memperkirakan bahwa harga minyak akan diperdagangkan antara US$ 75 dan US$ 82 per barel dalam waktu dekat. Ia mencatat bahwa harga Brent telah turun sekitar 36% dari puncaknya selama konflik. "Perhatian dengan cepat beralih ke apakah pembukaan kembali secara fisik benar-benar mengikuti jalur pelayaran utama yang belum melanjutkan transit dan tarif asuransi tetap tinggi, menunjukkan bahwa pasar berhati-hati tentang kecepatan normalisasi,β tambahnya.