Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengidentifikasi peluang untuk memperkuat rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) melalui optimalisasi perdagangan dalam negeri dan perluasan pasar ekspor. Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, menjelaskan bahwa perbedaan komoditas yang dihasilkan oleh setiap provinsi di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan variasi produksi di berbagai daerah.
Dalam pernyataannya pada Rapat Koordinasi Nasional Kadin Bidang Perdagangan di Jakarta, Anindya menekankan pentingnya membuka akses pasar ekspor ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Kanada, dan Uni Emirat Arab. "Kita harus memanfaatkan peluang ini untuk menghasilkan devisa, terutama saat nilai tukar rupiah menghadapi tekanan," ungkapnya.
Selain itu, sektor investasi juga dianggap sebagai pilar penting dalam memperkuat ekonomi. Anindya menyebutkan bahwa realisasi investasi pada kuartal pertama tahun ini mencapai sekitar Rp500 triliun, dengan mayoritas investasi berada pada kisaran Rp 1 miliar, menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan bagi pelaku usaha daerah.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha sangat penting. Ia menekankan bahwa peningkatan ekspor dan penguatan pasar domestik harus dilakukan secara bersamaan. "Kami terus mendorong kolaborasi untuk memastikan bahwa ekonomi domestik tetap kuat," ujarnya.
Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan dampak langsung dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang berdampak pada biaya impor di berbagai sektor industri. Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah memberikan tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan, terutama bagi yang bergantung pada bahan baku impor.
Shinta mencatat bahwa 70% bahan baku manufaktur berasal dari impor, yang berkontribusi sekitar 55% dalam struktur biaya produksi. Setiap depresiasi rupiah akan langsung berdampak pada peningkatan biaya input. "Sektor yang paling rentan adalah industri yang sangat bergantung pada impor, seperti petrokimia, plastik, dan makanan serta minuman," tambahnya.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi domestik. Ia menilai bahwa ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan negara lain di kawasan. Purbaya menyatakan bahwa dinamika nilai tukar lebih dipengaruhi oleh faktor global dan ekspektasi pasar.
Pemerintah berkomitmen untuk memperbaiki berbagai kebijakan guna mengurangi persepsi negatif terhadap perekonomian. "Kami fokus menutup potensi kebocoran dalam sistem perpajakan dan memastikan kebijakan berjalan lebih efektif," tutupnya. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan nilai tukar rupiah dapat diperkuat dalam waktu dekat.