Berlangganan →
Update
--- Supertanker Iran Berhasil Lewati Blokade AS, Menuju Perairan Indonesia di Tengah Ketegangan Diplomatik --- Indonesia Masuk Daftar Pengawasan Prioritas AS Terkait Pembajakan dan Barang Palsu OPEC+ Rencanakan Peningkatan Produksi Minyak di Tengah Ketegangan AS-Iran Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Tekanan Berlanjut di Mei 2026 Apakah 'Tulang Besar' Menyebabkan Kenaikan Berat Badan? Ini Penjelasannya Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg Sebagai Pengganti LPG 3 Kg, Bahlil: Lebih Hemat 40 Persen Laporan Oxfam: Kenaikan Gaji CEO di AS 20 Kali Lebih Cepat dari Pekerja Altos Luncurkan Solusi AI dan Cloud untuk Dukung Transformasi Digital di Indonesia Riyan Hidayat Maju Sebagai Calon Ketua Umum Barisan Muda PAN Periode 2026-2031 Viral Gadis 23 Tahun di Madura Mengalami Pertumbuhan Brewok Akibat Hirsutisme --- Supertanker Iran Berhasil Lewati Blokade AS, Menuju Perairan Indonesia di Tengah Ketegangan Diplomatik --- Indonesia Masuk Daftar Pengawasan Prioritas AS Terkait Pembajakan dan Barang Palsu OPEC+ Rencanakan Peningkatan Produksi Minyak di Tengah Ketegangan AS-Iran Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Tekanan Berlanjut di Mei 2026 Apakah 'Tulang Besar' Menyebabkan Kenaikan Berat Badan? Ini Penjelasannya Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg Sebagai Pengganti LPG 3 Kg, Bahlil: Lebih Hemat 40 Persen Laporan Oxfam: Kenaikan Gaji CEO di AS 20 Kali Lebih Cepat dari Pekerja Altos Luncurkan Solusi AI dan Cloud untuk Dukung Transformasi Digital di Indonesia Riyan Hidayat Maju Sebagai Calon Ketua Umum Barisan Muda PAN Periode 2026-2031 Viral Gadis 23 Tahun di Madura Mengalami Pertumbuhan Brewok Akibat Hirsutisme
Ekonomi

OPEC+ Rencanakan Peningkatan Produksi Minyak di Tengah Ketegangan AS-Iran

OPEC+ berencana untuk meningkatkan produksi minyak pada Juni 2026, meskipun situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta penutupan Selat Hormuz menghambat pasokan global.

Galang Mahesa 03 May 2026 7 pembaca liputan6.com liputan6.com
OPEC+ Rencanakan Peningkatan Produksi Minyak di Tengah Ketegangan AS-Iran
Sebuah kapal kontainer terlihat di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

OPEC+ telah mengumumkan rencananya untuk meningkatkan produksi minyak pada Juni 2026, meskipun tantangan dari konflik AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz masih mengganggu pasokan global. Rencana ini muncul di tengah ketidakpastian yang mengancam stabilitas pasar minyak.


Menurut sumber yang mengetahui pembahasan internal, tujuh negara anggota OPEC+ telah sepakat untuk meningkatkan produksi sekitar 188.000 barel per hari pada bulan Juni. Ini merupakan peningkatan ketiga secara berurutan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, keputusan ini diambil dalam konteks yang kurang ideal, di mana ketegangan geopolitik terus meningkat dan Uni Emirat Arab (UEA) telah resmi keluar dari OPEC+ pada awal Mei.


Negara-negara yang terlibat dalam keputusan ini adalah Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman. Meskipun OPEC+ memiliki total 21 anggota, kelompok ini menjadi penentu utama kebijakan produksi dalam beberapa tahun terakhir. Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 dan penutupan Selat Hormuz telah memberikan dampak signifikan terhadap ekspor minyak dari negara-negara utama seperti Arab Saudi dan Irak, yang sebelumnya memiliki kapasitas untuk meningkatkan produksi.


Sementara itu, Iran juga merasakan penurunan ekspor akibat blokade yang diberlakukan oleh Amerika Serikat sejak April. Para pelaku industri memperkirakan bahwa peningkatan produksi OPEC+ tidak akan berpengaruh signifikan selama jalur pengiriman melalui Selat Hormuz masih ditutup. Bahkan jika jalur tersebut dibuka kembali, diperlukan waktu yang cukup lama untuk memulihkan distribusi minyak ke kondisi normal.


Gangguan pasokan ini telah menyebabkan lonjakan harga minyak hingga mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir, lebih dari USD125 per barel. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan kelangkaan bahan bakar pesawat dalam waktu dekat dan potensi lonjakan inflasi global. Kenaikan produksi yang akan diumumkan diperkirakan serupa dengan bulan lalu, yakni sekitar 206.000 barel per hari, meskipun tanpa kontribusi dari UEA yang telah keluar dari kelompok.


Langkah OPEC+ ini menunjukkan bahwa organisasi tersebut tetap berkomitmen pada strategi "business as usual" dan siap meningkatkan pasokan sepenuhnya setelah konflik mereda. Sebelumnya, produksi minyak OPEC+ mengalami penurunan signifikan menjadi 35,06 juta barel per hari pada Maret, turun 7,7 juta barel dibandingkan bulan Februari, dengan penurunan terbesar terjadi di Arab Saudi dan Irak.


Di tengah ketegangan ini, harga minyak sempat mengalami penurunan setelah Iran mengajukan proposal perdamaian baru melalui mediator di Pakistan, yang kembali memunculkan harapan akan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat. Minyak mentah AS ditutup turun 3% ke level USD101,94 per barel, sementara minyak Brent turun hampir 2% menjadi USD108,17 per barel.


Artikel Terkait