Nilai tukar rupiah diprediksi akan tetap tertekan di bulan Mei 2026 setelah mencatatkan level terlemah dalam sejarah, yaitu Rp 17.326 per dolar AS pada akhir April 2026. Tekanan ini disebabkan oleh kombinasi faktor baik dari dalam negeri maupun global yang mempengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah.
Menurut pengamat komoditas Wahyu Laksono, pelemahan nilai tukar rupiah tidak terjadi secara terpisah, melainkan dipicu oleh berbagai tekanan yang datang bersamaan. "Kondisi rupiah saat ini memang cukup menantang. Posisi di Rp 17.326 per dolar AS per 29 April 2026 merupakan level terlemah sepanjang sejarah, melampaui rekor-rekor sebelumnya," jelasnya.
Dari sisi domestik, perhatian tertuju pada tata kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) serta keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga, yang dianggap membebani persepsi investor. Sementara itu, dari faktor eksternal, lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik turut menambah tekanan terhadap defisit transaksi berjalan Indonesia.
Memasuki bulan Mei 2026, diperkirakan tekanan terhadap rupiah belum akan mereda. Berbagai sentimen negatif seperti potensi inflasi yang meningkat, arus keluar modal, dan kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih menjadi penghambat bagi penguatan rupiah. "Rupiah diprediksi masih akan tertekan di awal Mei, seiring dengan kuatnya sentimen negatif baik dari dalam negeri maupun global," tambah Wahyu.
Di tengah tekanan yang ada, Wahyu juga memperingatkan adanya potensi skenario terburuk jika ketidakpastian politik dan fiskal terus meningkat, terutama jika cadangan devisa semakin menipis. "Jika ketidakpastian politik/fiskal meningkat dan cadangan devisa terus tergerus, rupiah berpotensi menguji level psikologis baru di kisaran Rp 17.500 - Rp 17.800," ungkapnya.
Meski demikian, ada peluang bagi penguatan rupiah, terutama jika Bank Indonesia mengambil langkah lebih agresif, neraca perdagangan mencatat surplus yang signifikan, dan ketegangan geopolitik global mereda, yang dapat berdampak pada penurunan harga minyak dunia.