Berlangganan →
Update
OPEC+ Rencanakan Peningkatan Produksi Minyak di Tengah Ketegangan AS-Iran Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Tekanan Berlanjut di Mei 2026 Apakah 'Tulang Besar' Menyebabkan Kenaikan Berat Badan? Ini Penjelasannya Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg Sebagai Pengganti LPG 3 Kg, Bahlil: Lebih Hemat 40 Persen Laporan Oxfam: Kenaikan Gaji CEO di AS 20 Kali Lebih Cepat dari Pekerja Altos Luncurkan Solusi AI dan Cloud untuk Dukung Transformasi Digital di Indonesia Riyan Hidayat Maju Sebagai Calon Ketua Umum Barisan Muda PAN Periode 2026-2031 Viral Gadis 23 Tahun di Madura Mengalami Pertumbuhan Brewok Akibat Hirsutisme Pelatihan Tata Rias di Jepara: Membangun Keterampilan dan Kepercayaan Diri Masyarakat UIN Saizu Menegaskan Komitmen Terhadap Pendidikan Berkualitas dalam Upacara Hardiknas 2026 OPEC+ Rencanakan Peningkatan Produksi Minyak di Tengah Ketegangan AS-Iran Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Tekanan Berlanjut di Mei 2026 Apakah 'Tulang Besar' Menyebabkan Kenaikan Berat Badan? Ini Penjelasannya Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg Sebagai Pengganti LPG 3 Kg, Bahlil: Lebih Hemat 40 Persen Laporan Oxfam: Kenaikan Gaji CEO di AS 20 Kali Lebih Cepat dari Pekerja Altos Luncurkan Solusi AI dan Cloud untuk Dukung Transformasi Digital di Indonesia Riyan Hidayat Maju Sebagai Calon Ketua Umum Barisan Muda PAN Periode 2026-2031 Viral Gadis 23 Tahun di Madura Mengalami Pertumbuhan Brewok Akibat Hirsutisme Pelatihan Tata Rias di Jepara: Membangun Keterampilan dan Kepercayaan Diri Masyarakat UIN Saizu Menegaskan Komitmen Terhadap Pendidikan Berkualitas dalam Upacara Hardiknas 2026
Ekonomi

Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Tekanan Berlanjut di Mei 2026

Nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus menghadapi tekanan di bulan Mei 2026 setelah mencapai rekor terlemah di Rp 17.326 per dolar AS. Berbagai faktor domestik dan global menjadi penyebab utama si...

Fayra Nugroho 03 May 2026 5 pembaca liputan6.com liputan6.com
Rupiah Diprediksi Masih Tertekan, Tekanan Berlanjut di Mei 2026
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Nilai tukar rupiah diprediksi akan tetap tertekan di bulan Mei 2026 setelah mencatatkan level terlemah dalam sejarah, yaitu Rp 17.326 per dolar AS pada akhir April 2026. Tekanan ini disebabkan oleh kombinasi faktor baik dari dalam negeri maupun global yang mempengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah.

Menurut pengamat komoditas Wahyu Laksono, pelemahan nilai tukar rupiah tidak terjadi secara terpisah, melainkan dipicu oleh berbagai tekanan yang datang bersamaan. "Kondisi rupiah saat ini memang cukup menantang. Posisi di Rp 17.326 per dolar AS per 29 April 2026 merupakan level terlemah sepanjang sejarah, melampaui rekor-rekor sebelumnya," jelasnya.

Dari sisi domestik, perhatian tertuju pada tata kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) serta keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga, yang dianggap membebani persepsi investor. Sementara itu, dari faktor eksternal, lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik turut menambah tekanan terhadap defisit transaksi berjalan Indonesia.

Memasuki bulan Mei 2026, diperkirakan tekanan terhadap rupiah belum akan mereda. Berbagai sentimen negatif seperti potensi inflasi yang meningkat, arus keluar modal, dan kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih menjadi penghambat bagi penguatan rupiah. "Rupiah diprediksi masih akan tertekan di awal Mei, seiring dengan kuatnya sentimen negatif baik dari dalam negeri maupun global," tambah Wahyu.

Di tengah tekanan yang ada, Wahyu juga memperingatkan adanya potensi skenario terburuk jika ketidakpastian politik dan fiskal terus meningkat, terutama jika cadangan devisa semakin menipis. "Jika ketidakpastian politik/fiskal meningkat dan cadangan devisa terus tergerus, rupiah berpotensi menguji level psikologis baru di kisaran Rp 17.500 - Rp 17.800," ungkapnya.

Meski demikian, ada peluang bagi penguatan rupiah, terutama jika Bank Indonesia mengambil langkah lebih agresif, neraca perdagangan mencatat surplus yang signifikan, dan ketegangan geopolitik global mereda, yang dapat berdampak pada penurunan harga minyak dunia.

Artikel Terkait