Jakarta - Kebiasaan sehari-hari yang tampaknya sepele dapat memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan otak. Salah satu faktor utama adalah pola tidur yang tidak baik. Tidur bukan hanya sekadar waktu bagi tubuh untuk beristirahat, tetapi juga saat di mana otak melakukan proses penting untuk membersihkan limbah serta zat sisa yang terakumulasi selama aktivitas sehari-hari.
Studi terbaru yang menganalisis pemindaian MRI dari sekitar 40 ribu orang dewasa di UK Biobank menunjukkan adanya hubungan antara kualitas tidur dengan efektivitas sistem pembersihan limbah di otak. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Alzheimer's & Dementia: The Journal of the Alzheimer's Association.
Peran Tidur dalam Pembersihan Otak
Otak memiliki sistem yang dikenal sebagai sistem glymphatic, yang berfungsi dengan bantuan cairan serebrospinal untuk mengumpulkan dan membuang limbah serta racun dari jaringan otak. Proses pembersihan ini berlangsung terutama saat seseorang tidur. Peneliti dari University of Cambridge menemukan bahwa kurang tidur dapat mengganggu fungsi sistem glymphatic, yang berarti kebiasaan tidur yang buruk dapat menghambat proses pembersihan limbah dari otak secara optimal.
Gangguan pada sistem ini dapat meningkatkan risiko masalah fungsi otak dan demensia di masa depan. Salah satu peneliti, Hui Hong, menyatakan bahwa temuan ini memberikan penjelasan mengenai hubungan antara gangguan pada pembuluh darah kecil di otak dengan penyakit seperti Alzheimer. "Kami telah memiliki bukti bahwa penyakit pembuluh darah kecil di otak dapat mempercepat penyakit seperti Alzheimer, dan kini kami memiliki kemungkinan penjelasan mengapa hal itu terjadi," ungkapnya.
Faktor Risiko dan Pencegahan Demensia
Menurut Hui Hong, gangguan pada sistem glymphatic dapat menghambat kemampuan otak untuk membersihkan protein amyloid dan tau yang terkait dengan penyakit Alzheimer. Masalah pada sistem ini juga ditemukan berhubungan dengan tekanan darah tinggi. Profesor Hugh Markus dari University of Cambridge menambahkan bahwa faktor risiko umum untuk demensia, seperti hipertensi dan kebiasaan merokok, berkontribusi terhadap sebagian besar risiko demensia. "Setidaknya seperempat dari seluruh risiko demensia disebabkan oleh faktor risiko umum seperti tekanan darah dan merokok," jelasnya.
Oleh karena itu, faktor-faktor tersebut dapat diintervensi. Mengontrol tekanan darah dan berhenti merokok, misalnya, dianggap sebagai langkah yang dapat membantu menjaga fungsi sistem glymphatic.
Demensia merupakan istilah umum yang menggambarkan kondisi di mana kemampuan seseorang dalam mengingat, berpikir, atau mengambil keputusan terganggu hingga menghambat aktivitas sehari-hari. Demensia bukanlah bagian normal dari proses penuaan, dengan penyakit Alzheimer menjadi bentuk demensia yang paling umum. Temuan ini kembali menegaskan pentingnya menjaga kebiasaan sehari-hari untuk kesehatan otak, termasuk tidur yang cukup dan berkualitas, menjaga tekanan darah, serta menghindari rokok.
Walaupun penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara pola tidur, fungsi glymphatic, dan risiko gangguan otak, hal ini tidak berarti pola tidur yang buruk secara langsung menyebabkan seseorang mengalami demensia.