Pada hari Minggu, 14 Juni 2026, harga emas yang dijual oleh PT Pegadaian (Persero) menunjukkan bahwa emas Antam naik menjadi Rp 2,82 juta per gram, sedangkan harga emas UBS dan Galeri24 tetap stabil.
Berdasarkan informasi dari laman Sahabat Pegadaian, harga emas UBS tetap di angka Rp 2.709.000 per gram, sementara harga emas Galeri24 bertahan di Rp 2.696.000 per gram. Di sisi lain, harga emas Antam mengalami peningkatan tipis dari Rp 2.818.000 per gram menjadi Rp 2.820.000 per gram.
Perlu dicatat bahwa harga emas di Pegadaian dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar. Untuk produk Galeri24, emas tersedia dalam berbagai ukuran mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram (1 kilogram). Emas UBS dijual dalam ukuran 0,5 gram hingga 500 gram, sedangkan emas Antam yang tersedia di Pegadaian hanya sampai ukuran 100 gram.
Pergerakan Harga Emas dan Faktor Eksternal
Sebelumnya, harga emas mengalami penurunan mingguan kedua berturut-turut pada perdagangan hari Jumat. Logam mulia ini tertekan oleh meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga di Amerika Serikat akan tetap tinggi atau bahkan kembali naik menjelang rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan minggu depan.
Menurut laporan dari CNBC, harga emas spot tercatat stabil di level US$ 4.225,73 per ounce, meskipun secara mingguan mengalami penurunan sekitar 2,4%. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS ditutup naik 3% menjadi US$ 4.238,80 per ounce.
Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap harga emas berasal dari kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama. Dia menyatakan, "Saya pikir inflasi akan bertahan untuk beberapa waktu, bahkan jika harga minyak turun. Kita sudah pernah mendengar cerita seperti ini sebelumnya dan masih ada tingkat skeptisisme tertentu di pasar."
Dampak Harga Minyak Terhadap Emas
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dunia. Harga minyak mengalami penurunan lebih dari 2% setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran berpotensi menandatangani memorandum untuk menghentikan konflik di kawasan Teluk. Seorang sumber menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut dapat ditandatangani paling cepat pada hari Minggu, dengan Jenewa sebagai lokasi yang paling mungkin. Namun, kantor berita Fars dari Iran membantah spekulasi tersebut dengan mengutip sumber yang dekat dengan proses negosiasi.
Sejak terjadinya perang di kawasan tersebut pada akhir Februari, harga emas menghadapi tekanan karena kekhawatiran investor akan lonjakan harga minyak yang dapat memicu inflasi lebih tinggi dan mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga di level tinggi lebih lama. Secara tradisional, emas dianggap sebagai aset yang dapat melindungi nilai terhadap inflasi. Namun, ketika suku bunga meningkat, daya tarik emas cenderung menurun karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen keuangan lainnya.
Berdasarkan alat pemantau CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang 57% bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Data ekonomi AS yang dirilis pekan ini juga memperkuat ekspektasi tersebut, dengan harga produsen pada bulan Mei tercatat naik lebih tinggi dari perkiraan, sementara inflasi konsumen kembali melonjak di atas level 4%.
Investor kini menantikan rapat kebijakan moneter Federal Reserve yang akan berlangsung pada 16-17 Juni. Pertemuan ini merupakan yang pertama dipimpin oleh Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Meskipun demikian, pasar masih memperkirakan bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Di sisi lain, bank investasi UBS telah menurunkan proyeksi harga emas, memperingatkan bahwa penundaan pemangkasan suku bunga oleh The Fed dapat menekan harga emas ke kisaran US$ 3.850 hingga US$ 4.000 per ounce dalam waktu dekat.