Jakarta - Lonjakan kasus obesitas pada anak-anak tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga dapat merusak kesehatan mental dan masa depan mereka. Hal ini dialami oleh Intan Permatasari, seorang remaja dari Bogor, Jawa Barat, yang terpaksa putus sekolah pada usia 12 tahun akibat depresi berat setelah menjadi korban perundungan yang terus-menerus terkait dengan masalah berat badannya.
Sejak usia 4 tahun, Intan mengalami kesulitan untuk mengenakan seragam sekolah dengan ukuran standar, sehingga ibunya, Siti Rukoyah, harus menjahitkan pakaian khusus untuknya. "Nggak ada yang mau berteman dengan saya. Teman-teman sekelas mencubit tangan saya, mencuri uang saya, dan melempar buku ke arah saya," kenangnya saat menceritakan pengalaman pahit yang membuatnya memilih untuk mengurung diri di rumah.
Fenomena Obesitas di Negara Berkembang
Kisah Intan mencerminkan fenomena yang lebih luas yang sedang melanda banyak negara berkembang. Sebuah penelitian global yang melibatkan lebih dari 1.000 ilmuwan dan didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa wabah obesitas pada anak telah bergeser ke negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah. Indonesia kini menghadapi masalah gizi ganda, di mana peningkatan kasus obesitas anak terjadi bersamaan dengan tingginya angka stunting akibat kurang gizi.
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, prevalensi obesitas di kalangan anak laki-laki dan perempuan di Indonesia mengalami lonjakan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Tantangan dalam Penanganan Obesitas
Setelah bertahun-tahun berjuang untuk mengontrol berat badannya melalui penanganan medis lokal, Intan akhirnya dirujuk ke klinik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, di bawah pengawasan dokter spesialis anak, dr. Yoga Devaera. Ia menjelaskan bahwa sekitar 20% pasien anak yang ditanganinya menderita obesitas. Namun, banyak orang tua baru membawa anak mereka ke rumah sakit ketika kondisi fisiknya sudah parah atau disertai komplikasi penyakit lainnya.
Penanganan yang komprehensif, termasuk edukasi gizi untuk keluarga, dukungan psikologis, dan kontrol pola makan, menjadi kunci untuk menyelamatkan generasi muda Indonesia dari krisis obesitas. "Pasien obesitas baru datang ke rumah sakit kalau kondisinya sudah parah atau sudah ada penyakit penyerta," ungkap dr. Yoga.
Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa salah satu penyebab utama meningkatnya angka obesitas pada anak adalah melimpahnya produk makanan olahan yang murah dan tinggi gula, yang ditambah dengan kurangnya edukasi tentang risiko kesehatan jangka panjang. Anak-anak yang mengalami obesitas berisiko tinggi untuk mengembangkan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan asma di masa depan.