Otoritas Taiwan telah mengambil tindakan hukum terhadap beberapa orang yang diduga terlibat dalam skema ekspor ilegal server kecerdasan buatan (AI) dari Supermicro yang dilengkapi dengan chip GPU Nvidia B300 ke China. Di antara terdakwa terdapat seorang manajer distribusi Nvidia yang beroperasi di Taiwan, serta sejumlah karyawan dari Supermicro dan perusahaan lain yang terlibat dalam distribusi server tersebut.
Menurut laporan dari Ars Technica, total sembilan orang telah didakwa dalam penyelidikan yang dilakukan oleh Kejaksaan Distrik Keelung, Taiwan. Mereka dituduh memalsukan dokumen untuk menyembunyikan pengiriman server AI yang canggih ke China, yang dikenakan pembatasan ketat oleh Amerika Serikat. Tindakan ini diduga melanggar peraturan kontrol ekspor yang berlaku di AS.
Rincian Kasus dan Tindak Pidana
Media lokal, Focus Taiwan, melaporkan bahwa di antara yang didakwa terdapat manajer distribusi Nvidia bernama Chang, dua manajer penjualan dari Supermicro yang bernama Lin dan Wang, serta sejumlah eksekutif dari perusahaan distributor, penyedia pusat data, jasa kepabeanan, dan perdagangan internasional. Satu orang lainnya, yang dikenali dengan nama Chen, saat ini masih buron dan diduga bertanggung jawab atas perusahaan penjualan server, Flying Tiger Technology.
Para terdakwa menghadapi tuduhan pelanggaran kepercayaan dan pemalsuan dokumen. Kasus ini berhubungan dengan server AI Supermicro yang menggunakan chip GPU Nvidia B300. Jaksa Taiwan menyatakan bahwa penjualan dan penggunaan akhir dari produk tersebut diawasi ketat oleh Nvidia dan Supermicro karena kemampuan komputasinya yang tinggi. Untuk memperoleh chip tersebut, pembeli harus terdaftar dalam daftar putih Nvidia dan menyerahkan dokumen yang menjelaskan tujuan penggunaan server.
Strategi Penyelundupan dan Penangkapan
Proses penjualan kembali dilarang, dan untuk setiap pesanan lebih dari delapan server, tenaga penjualan serta teknisi dari Nvidia dan Supermicro diwajibkan melakukan pemeriksaan langsung untuk memastikan bahwa server digunakan sesuai dengan tujuan yang terdaftar. Namun, pada Februari 2025, dua orang dari Flying Tiger Technology diduga berusaha untuk mendapatkan keuntungan dengan menjual kembali server tersebut. Mereka berhasil mendapatkan akses ke daftar putih Nvidia, meskipun pengadilan tidak mengungkapkan rincian tentang cara mereka melakukannya.
Keduanya kemudian menemukan pembeli dan merencanakan pengiriman server pada bulan Juli. Masalah muncul ketika lokasi yang dicantumkan sebagai tempat penggunaan server, yaitu perusahaan telekomunikasi Taiwan, Chief Telecom, tidak memiliki kapasitas listrik dan bandwidth yang cukup untuk menampung 130 server. Para terdakwa diduga menyembunyikan fakta ini. Manajer senior Nvidia, Chang, kemudian diminta untuk mendapatkan persetujuan perusahaan atas pesanan tersebut dengan mengklaim bahwa proses verifikasi telah selesai, yang mengarah pada persetujuan Supermicro untuk menjual 130 server kepada Flying Tiger.
Setelah menerima dua server, Lu, CEO Albatron Technology yang merupakan salah satu distributor Supermicro, diduga memperkenalkan Flying Tiger kepada pembeli dari China setelah pembeli awal tidak mampu membayar. Skema ini berlanjut melalui beberapa transaksi, di mana dalam transaksi kedua, sebanyak 64 server terlibat. Seseorang dari perusahaan perdagangan internasional memperoleh informasi mengenai server tersebut dari Wang yang bekerja di cabang Supermicro Taiwan dan kemudian menghubungi Lu untuk menawarkan pembeli lain dari China.
Wang diduga mengetahui tentang penjualan ilegal tersebut dan setuju untuk berbagi hasil dengan Lin dari Supermicro. Untuk memuluskan transaksi, dua orang dari Flying Tiger, termasuk Chen, diduga memberikan pernyataan palsu kepada Supermicro untuk mendapatkan pengiriman 64 server. Server dari transaksi pertama dan kedua kemudian dikirim kepada pembeli di China dalam tiga tahap, di mana 50 server dikirim melalui Indonesia.
Dalam transaksi ketiga, 64 server lainnya juga disiapkan untuk pembeli di China, di mana delapan di antaranya dikirim terlebih dahulu ke Jepang dan kemudian ke Hong Kong, sementara 56 server lainnya berhasil disita oleh otoritas Taiwan. Jaksa menyatakan bahwa Chen yang masih buron menerima hasil ilegal lebih dari 21,2 juta dollar AS (sekitar Rp 375 miliar) dari penjualan kembali 74 server yang berhasil dikirim.
Dalam kasus ini, Ho, kepala Quintai Electronics dan teman Lin dari Supermicro, diduga menerbitkan empat faktur palsu kepada Lu untuk menyamarkan aliran dana hasil transaksi. Tindakan ini diduga menyebabkan pengalihan aset Albatron sekitar 39,16 juta dollar Taiwan (sekitar Rp 21,7 miliar). Ho, Lin, dan Lu juga didakwa secara terpisah atas pelanggaran kepercayaan yang diperberat berdasarkan Undang-Undang Sekuritas dan Bursa Taiwan.
Implikasi dan Tindakan Selanjutnya
Kasus ini menarik perhatian karena server yang dikirim menggunakan teknologi Nvidia yang termasuk dalam kategori sensitif dan dibatasi untuk ekspor ke China. Sejak tahun 2022, Amerika Serikat telah memberlakukan persyaratan lisensi untuk ekspor semikonduktor tertentu ke China dengan alasan keamanan nasional. Namun, penyelidikan Taiwan menemukan adanya dugaan upaya sistematis untuk mengakali pembatasan tersebut.
Dari 130 server AI bertenga GPU Nvidia B300, sebanyak 74 unit berhasil diekspor dan dikirim kepada pelanggan di China, sementara 56 unit lainnya gagal dikirim setelah petugas bea cukai Taiwan menemukan kejanggalan. Nvidia dan Supermicro belum memberikan tanggapan resmi terkait kasus ini. Meskipun Supermicro menyatakan akan bekerja sama dengan penyidik Taiwan dan menegaskan bahwa perusahaan bukan target penyelidikan, mereka dianggap lalai karena tidak menyadari adanya perangkat keras senilai "miliaran dollar" yang dikirim kepada pelanggan mencurigakan. Jaksa Taiwan menyatakan bahwa semua karyawan yang telah didakwa "sepenuhnya menyadari" bahwa Nvidia dan Supermicro memiliki "prosedur kontrol internal yang ketat" terkait ekspor ke China.
Pihak Supermicro juga menyatakan telah mengambil langkah-langkah internal setelah penyelidikan menemukan keterlibatan beberapa karyawan dalam skema pengiriman server ke China.