Phoebe Gates, anak dari Bill Gates, pendiri Microsoft, kini menjadi pusat perhatian setelah startup yang didirikannya dituduh terlibat dalam praktik curang yang dikenal sebagai cookie stuffing. Jika tuduhan tersebut berujung pada dakwaan pidana federal dan ia terbukti bersalah, Phoebe bisa menghadapi hukuman maksimal 20 tahun penjara.
Pada usia 23 tahun, Phoebe bersama rekannya, Sophia Kianni, meluncurkan Phia, sebuah aplikasi yang berfungsi sebagai pembanding harga untuk belanja online. Startup yang berbasis kecerdasan buatan ini diluncurkan pada April 2025 dan telah berhasil mengumpulkan dana lebih dari 43 juta dollar AS (sekitar Rp 774 miliar) dari berbagai investor ternama, termasuk Hailey Bieber, Khloe Kardashian, dan Kris Jenner. Selama tahun 2025, Phia dilaporkan berhasil meraih pendapatan hingga 30 juta dollar AS (sekitar Rp 540 miliar).
Tuduhan Praktik Curang
Tuduhan mengenai praktik curang ini pertama kali diungkap oleh Bloomberg dalam laporan investigasinya. Cookie stuffing adalah metode yang digunakan untuk menyisipkan cookie pelacak ke dalam proses checkout di situs belanja. Phia diduga menggunakan cara yang memungkinkan kode rujukan atau cookie afiliasinya tertanam saat pengguna melakukan pembelian, bahkan untuk transaksi yang tidak berasal dari aplikasi tersebut. Akibatnya, Phia dapat terlihat seolah-olah sebagai pihak yang membawa transaksi tersebut dan berhak atas komisi dari retailer, meskipun pembeli mungkin datang langsung ke toko online atau melalui rujukan afiliasi lainnya. Praktik ini diduga menyumbang sekitar 51 persen dari total penjualan yang diatribusikan kepada Phia sepanjang bulan Juni 2026.
Berdasarkan komunikasi internal dan beberapa sumber yang mengetahui masalah ini, Bloomberg melaporkan bahwa Phoebe dan Kianni telah menyadari adanya fitur pemasangan cookie otomatis tersebut sejak beberapa bulan sebelumnya. Salah satu bukti yang dikutip adalah pesan di Slack internal perusahaan yang bertanggal 18 Desember, di mana Phoebe meminta salah satu karyawannya untuk memastikan fitur "auto pop for cookie drop" aktif di semua situs yang bekerja sama. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan monetisasi dari seluruh volume transaksi bruto. Sophia Kianni juga membalas permintaan tersebut dengan menyatakan, "Apa pun yang bisa kita lakukan untuk terus menjalankan pencatatan cookie ini akan luar biasa, terima kasih." Bukti percakapan ini bertentangan dengan klaim awal Phia yang menyebut praktik tersebut hanya sebagai "anomali teknis" yang baru diketahui perusahaan.
Tanggapan dan Langkah Phia
Sampai saat ini, baik Phoebe Gates maupun Sophia Kianni belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan ini. Tanggapan resmi hanya disampaikan melalui juru bicara perusahaan. Phia telah menonaktifkan fitur yang dipermasalahkan sejak 7 Juli 2026, lebih dari sebulan sebelum laporan Bloomberg dirilis. Perusahaan berkomitmen untuk mengembalikan dampak dari transaksi yang keliru diatribusikan dan berencana untuk merekrut kepala kepatuhan. Juru bicara Phia menyatakan, "Fitur apa pun yang menyebabkan kesalahan atribusi telah langsung kami hapus lebih dari sebulan lalu, tepatnya pada 7 Juli." Phia juga membantah klaim mengenai angka 51 persen yang diungkap Bloomberg, dengan menyatakan bahwa metodologi analisis tersebut tidak tepat.
Sejak fitur bermasalah itu dinonaktifkan, pendapatan Phia mengalami penurunan drastis, dari sekitar 80.000 dollar AS menjadi hanya berkisar antara 10.000 hingga 28.000 dollar AS per hari. Platform afiliasi Impact.com juga dilaporkan telah menghentikan kerja sama dengan Phia, dengan beberapa retailer yang terdampak antara lain Nike, Nordstrom, dan Gap.
Ariel Givner, seorang pengacara dari firma hukum Givner Law, menjelaskan bahwa praktik semacam ini dapat dikategorikan sebagai penipuan transfer elektronik (wire fraud) menurut hukum federal di Amerika Serikat. Ia menambahkan, "Ada kemungkinan hukuman maksimal hingga 20 tahun penjara, ditambah denda dan restitusi." Namun, hingga saat ini, belum ada dakwaan resmi yang diajukan oleh otoritas hukum AS terhadap Phoebe Gates atau Sophia Kianni. Pernyataan mengenai ancaman hukuman ini masih merupakan analisis dari pengacara, bukan proses hukum yang sedang berlangsung. Givner juga memberikan contoh kasus serupa yang terjadi pada tahun 2014, ketika seorang mantan afiliasi eBay, Shawn Hogan, dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan federal AS atas skema cookie stuffing yang merugikan hingga 28 juta dollar AS (sekitar Rp 504 miliar).