🔴 Breaking
Kesehatan

Mengapa Daun Kelor Belum Diterima di Australia meski Populer di Indonesia?

Daun kelor, yang kaya akan nutrisi dan telah menjadi bagian dari kuliner Indonesia, masih belum diakui sebagai makanan di Australia karena dianggap sebagai pangan baru. Penjelasan mengenai hal ini dis...

Fayra Nugroho

Penulis

16 July 2026
18 kali dibaca
Foto: Vandana Singh/Pexels
Foto: Vandana Singh/Pexels

Daun kelor, yang dikenal sebagai sumber nutrisi tinggi, telah menjadi bagian dari pola makan masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun. Namun, di Australia, daun ini belum diizinkan untuk dikonsumsi sebagai pangan karena dikategorikan sebagai novel food atau makanan baru. Hal ini dijelaskan oleh dr. Inggrid Tania, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI).

Sejarah Konsumsi Berbeda

Menurut dr. Inggrid, status kelor di Australia berkaitan erat dengan sejarah konsumsi di masing-masing wilayah. "Pangan tradisional itu mengacu pada tradisi di suatu wilayah. Kelor menjadi pangan tradisional di banyak wilayah Asia, seperti India, Indonesia, negara-negara Asia Tenggara, hingga kawasan sekitar India," ujarnya. Ia menambahkan bahwa di Indonesia, khususnya di Lombok, masyarakat sudah mengonsumsi kelor secara turun-temurun, misalnya dengan mengolahnya menjadi sayur bening yang menjadi menu harian.

Di sisi lain, masyarakat Australia tidak memiliki kebiasaan mengonsumsi kelor sebagai bagian dari makanan sehari-hari. Oleh karena itu, ketika kelor diperkenalkan sebagai superfood, produk ini harus melewati evaluasi keamanan yang ketat sebelum dapat diterima sebagai makanan.

Standar Keamanan yang Ketat

Dr. Inggrid menjelaskan bahwa regulator pangan di Australia dan Selandia Baru menerapkan standar keamanan yang sangat tinggi untuk setiap produk pangan baru. Sebelum mendapatkan izin edar, suatu produk harus menjalani berbagai pengujian, termasuk toksisitas akut dan kronis, genotoksisitas, dan mutagenisitas. "Beberapa penelitian pada hewan coba menunjukkan hasil yang belum konsisten. Misalnya pada uji reproduksi, ada penelitian yang menunjukkan kelor dapat memicu keguguran pada tikus atau menurunkan kesuburan. Tapi ada juga penelitian lain yang tidak menemukan efek tersebut," kata dr. Inggrid.

Perbedaan hasil ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk dosis yang diberikan kepada hewan uji dan asal tanaman kelor yang digunakan dalam penelitian. "Bahkan sama-sama ditanam di Australia, tetapi dari negara bagian yang berbeda hasil pengujiannya bisa berbeda. Jadi regulator ingin memastikan standar budidayanya juga jelas," lanjutnya.

Selain itu, beberapa penelitian pada hewan juga menunjukkan indikasi genotoksisitas. Namun, dr. Inggrid menekankan bahwa temuan tersebut masih terbatas pada hewan dan belum tentu berlaku untuk manusia. "Belum tentu berefek seperti itu pada manusia. Tetapi regulator memang akan mengambil langkah yang paling aman sampai seluruh bukti ilmiahnya benar-benar konsisten," tambahnya.

Kelor Sebagai Obat Herbal

Walaupun belum diizinkan sebagai pangan, kelor masih dapat digunakan sebagai obat herbal komplementer di Australia. Dr. Inggrid menjelaskan bahwa regulator yang mengawasi pangan dan obat di Australia berbeda. Kelor dianggap berpotensi untuk dikonsumsi setiap hari dalam jangka panjang, sehingga persyaratan keamanannya lebih ketat. "Yang belum diizinkan itu jika kelor dikonsumsi sebagai pangan sehari-hari, misalnya dijadikan sayur, teh, atau olahan makanan lain yang dimakan terus-menerus," jelasnya.

Sementara itu, penggunaan kelor dalam bentuk obat herbal, seperti ekstrak kapsul, masih diperbolehkan karena telah didukung oleh data ilmiah, termasuk hasil pengujian hingga uji klinis yang sesuai dengan ketentuan regulator obat Australia. Menurut dr. Inggrid, keputusan Australia bukan berarti menyatakan kelor berbahaya, melainkan mencerminkan kehati-hatian dalam menilai keamanan pangan baru bagi masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki riwayat konsumsi kelor secara turun-temurun.

Artikel Terkait