🔴 Breaking
Kesehatan

Mengenal Radang Usus Buntu pada Anak: Tantangan dan Bahayanya

Radang usus buntu pada anak-anak sering kali sulit dideteksi karena keterbatasan komunikasi mereka. Meskipun kasusnya jarang, komplikasi yang ditimbulkan bisa sangat serius.

Aditya Surya

Penulis

05 September 2026
4 kali dibaca
Rumitnya radang usus buntu pada anak. Foto: Getty Images/iStockphoto/Barabasa
Rumitnya radang usus buntu pada anak. Foto: Getty Images/iStockphoto/Barabasa

Jakarta - Mengidentifikasi masalah kesehatan pada anak-anak, terutama balita, merupakan tantangan bagi orang tua. Anak-anak sering kali kesulitan untuk menjelaskan gejala yang mereka alami secara spesifik. Ketika mereka mengeluhkan sakit perut, membedakan antara masalah pencernaan biasa atau kondisi darurat seperti radang usus buntu bisa menjadi hal yang sulit. Terlebih lagi, anak-anak yang belum dapat berbicara dengan lancar sering kali tidak bisa menunjukkan lokasi rasa sakit mereka dengan jelas.

Dr. dr Himawan Aulia Rahman, SpA, Subsp.G.H.(K) dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa mendiagnosis radang usus buntu pada anak-anak memerlukan ketelitian yang lebih. Hal ini disebabkan oleh gejala yang sering kali menipu dan sering dianggap sebagai gangguan pencernaan yang biasa.

Mengenali Gejala Klasik Usus Buntu

Pada remaja dan orang dewasa, radang usus buntu umumnya menunjukkan pola gejala yang berurutan dan mudah dikenali, seperti penurunan nafsu makan, nyeri di bagian tengah perut, sekitar pusar atau ulu hati, muntah, dan nyeri yang perlahan berpindah ke perut kanan bawah. Namun, pola klasik ini sulit dikenali pada balita karena keterbatasan komunikasi mereka.

Paradoks Usus Buntu pada Anak-anak: Kasus Sedikit, Komplikasi Tinggi

Dari segi statistik, radang usus buntu paling sering terjadi pada remaja berusia belasan tahun. Sementara itu, kasus pada anak-anak, terutama bayi dan balita, tergolong sangat langka, yaitu kurang dari 5 persen. Berkat kemajuan dalam teknik bedah, angka kematian akibat radang usus buntu saat ini sangat rendah, di bawah 1 persen. Namun, dokter menekankan bahwa risiko utama terletak pada komplikasi jangka panjang atau morbiditas.

Dr. Himawan menegaskan, "Yang penting bukan hanya angka kematian, tetapi juga apakah anak mengalami komplikasi di masa depan. Misalnya, jika ususnya harus dipotong. Ini tidak harus berujung pada kematian, tetapi sangat disayangkan jika penanganan terlambat." Ia juga memberikan peringatan bahwa semakin muda usia anak, semakin besar risiko komplikasi peradangan yang mungkin terjadi.

“Usus buntu pada bayi atau anak yang lebih kecil cenderung lebih sering mengalami komplikasi. Komplikasi terberat adalah usus buntu bocor (perforasi), di mana isi usus keluar ke rongga perut dan menyebabkan infeksi yang luas,” tambahnya. Kejadian komplikasi bocor ini lebih umum terjadi dibandingkan pada anak-anak yang lebih tua.

Sebagai kesimpulan, Dr. Himawan menyarankan agar orang tua segera membawa anak, terutama balita, ke fasilitas kesehatan jika mereka mengalami sakit perut yang hebat. Orang tua tidak seharusnya mendiagnosis sendiri atau memberi label pada penyakit anak, karena hal ini dapat mengakibatkan keterlambatan dalam penanganan.

Artikel Terkait