🔴 Breaking
DoorDash Akuisisi Instacart dengan Nilai Transaksi Rp 308 Triliun Koperasi Merah Putih Siap Jadi Klinik Pratama dengan Layanan BPJS UT Surakarta Tingkatkan Kerja Sama Layanan Melalui Rakorda Salut 2026 Penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit Kembali Normal Setelah Terhenti Akibat Asap Hashim Djojohadikusumo: Indonesia Berpotensi Jadi Negara Super Kaya Peningkatan Peredaran Rokok Ilegal Capai 13,9 Persen, Negara Berpotensi Kehilangan Cukai Hampir Rp40 Triliun Harga Cabai Rawit Merah Turun Signifikan, Kini Tersedia di Rp83.550 per Kg Kemensos Salurkan 5.000 Paket Sembako di Sulawesi Selatan untuk Keluarga Prasejahtera DPR Mendesak Penegakan Hukum Tegas Terhadap Korporasi Pelaku Karhutla Berulang Denny Indrayana Siapkan Tiga Strategi Hukum Usai Cabut Gugatan di PTUN DoorDash Akuisisi Instacart dengan Nilai Transaksi Rp 308 Triliun Koperasi Merah Putih Siap Jadi Klinik Pratama dengan Layanan BPJS UT Surakarta Tingkatkan Kerja Sama Layanan Melalui Rakorda Salut 2026 Penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit Kembali Normal Setelah Terhenti Akibat Asap Hashim Djojohadikusumo: Indonesia Berpotensi Jadi Negara Super Kaya Peningkatan Peredaran Rokok Ilegal Capai 13,9 Persen, Negara Berpotensi Kehilangan Cukai Hampir Rp40 Triliun Harga Cabai Rawit Merah Turun Signifikan, Kini Tersedia di Rp83.550 per Kg Kemensos Salurkan 5.000 Paket Sembako di Sulawesi Selatan untuk Keluarga Prasejahtera DPR Mendesak Penegakan Hukum Tegas Terhadap Korporasi Pelaku Karhutla Berulang Denny Indrayana Siapkan Tiga Strategi Hukum Usai Cabut Gugatan di PTUN
Kesehatan

Fenomena Tambal Gigi Mandiri yang Berbahaya

Media sosial baru-baru ini diramaikan dengan praktik tambal gigi mandiri menggunakan bahan yang dibeli secara online, yang berujung pada masalah kesehatan gigi yang serius.

Aditya Surya

Penulis

05 September 2026
83 kali dibaca
Tren tambal gigi sendiri dengan bahan yang dibeli online bikin resah para dokter gigi. Foto: Thinkstock
Tren tambal gigi sendiri dengan bahan yang dibeli online bikin resah para dokter gigi. Foto: Thinkstock

Jakarta - Belakangan ini, media sosial dihebohkan oleh tren tambal gigi mandiri menggunakan bahan 'DIY' (Do It Yourself) yang diperoleh dari marketplace online. Seorang dokter gigi, Aprillya Sakila, berbagi pengalamannya menangani pasien yang mengalami peradangan gigi akibat mencoba menambal giginya sendiri dengan bahan tersebut.

Dalam penjelasannya, drg Aprillya menyebutkan bahwa pasien datang dalam keadaan sakit dan mengalami pembengkakan, bahkan nanah keluar dari gusi, sehingga perlu dilakukan sterilisasi terlebih dahulu. Ia mengungkapkan keraguan mengenai bahan tambal gigi yang digunakan, karena diyakini diaplikasikan dalam kondisi tidak steril. Ia juga mengkhawatirkan bahwa bahan tersebut tidak biokompatibel untuk rongga mulut pasien.

Risiko Penggunaan Bahan yang Salah

“Untuk bahan dasarnya saya kurang tahu ya kak. Tapi secara klinis bentuknya bulat-bulat bening dan akan melunak jika dipanaskan. Jika dipanaskan dengan suhu tinggi konsistensinya seperti slime,” jelas drg Aprillya saat dihubungi.

Menanggapi fenomena ini, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), drg Eka Erwansyah, M.Kes., SpOrt, SubspDDTK(K), menyatakan bahwa tren seperti ini bukanlah hal baru di kalangan praktisi kesehatan gigi. “Ini bukan pertama kalinya, sudah lazim, sudah meresahkan. Sudah diedukasi, tapi tetap mencoba berulang,” ungkap drg Eka.

Pentingnya Edukasi dalam Menyikapi Produk Kesehatan Gigi

Salah satu kesalahan paling signifikan dalam praktik tambal gigi mandiri adalah penggunaan bahan yang tidak tepat. Banyak pasien yang tidak menyadari bahwa barang yang mereka beli di toko online tidak memenuhi standar untuk menambal gigi.

“Yang paling sering dipakai itu adalah barang untuk bikin gigi sebenarnya. Dia akan mengeras begitu ketemu air ludah (self-curing). Jadi, pada saat sebelum ketemu air, dia seperti pasta gigi, mudah dimasukkan ke dalam gigi yang berlubang,” jelas drg Eka.

Ia menambahkan bahwa bahan pembuat gigi palsu ini memiliki sifat kimia yang keras. Jika digunakan pada gigi yang masih memiliki jaringan saraf, bahan tersebut dapat menyebabkan peradangan hebat. “Bukannya mengatasi masalah, malah menimbulkan masalah baru,” tegasnya.

Prosedur menambal gigi tidak sesederhana menutup lubang. Dokter gigi harus menjalani serangkaian prosedur klinis yang ketat, mulai dari sterilisasi hingga pengangkatan jaringan gigi yang telah mati. Sebagai langkah antisipasi dan edukasi, drg Eka membagikan panduan '5-S' yang harus diperhatikan sebelum membeli produk kesehatan gigi.

“Sesuai kebutuhan: Pastikan bahan yang digunakan benar-benar peruntukannya. Sah izin edarnya: Produk harus memiliki nomor registrasi dari BPOM. Sesuai komposisi: Periksa dengan jelas siapa produsennya dan apa saja komposisi di dalamnya. Sumbernya terpercaya: Belilah produk kesehatan dari distributor atau toko resmi yang kredibel. Stop jika ada keluhan: Jika setelah menggunakan suatu produk muncul reaksi seperti gusi bengkak, nyeri, pendarahan, atau alergi, segera hentikan pemakaian,” jelasnya.

Terakhir, PB PDGI mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi kesehatan yang beredar di internet dan menyarankan untuk melakukan pengobatan langsung kepada tenaga kesehatan, alih-alih mencoba pengobatan sendiri yang dapat berisiko.

“PDGI berharap masyarakat menjadi lebih aware, lebih hati-hati dalam memilih bahan. Pastikan barang tersebut sesuai, tepat sasaran, tepat indikasi, tepat diagnosis, dan tepat prosedur,” tutup drg Eka.

Artikel Terkait