Jakarta - Fenomena fatty liver, yang merupakan penumpukan lemak dalam sel hati, kini semakin sering terjadi pada generasi muda di Indonesia, khususnya di kalangan individu yang baru memasuki usia 30-an. Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer karena perkembangannya yang lambat dan tidak menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal, sehingga dapat menyebabkan kerusakan permanen pada organ hati.
Menurut berbagai jurnal medis internasional, fatty liver, yang kini sering disebut sebagai Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD), adalah kondisi di mana terjadi akumulasi lemak yang berlebihan dalam sel-sel hepatosit, melebihi lima persen dari total berat hati. Penumpukan ini terjadi bukan akibat konsumsi alkohol, melainkan disebabkan oleh gangguan metabolisme dalam tubuh.
Tantangan Kesehatan di Usia Produktif
Dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, mengungkapkan bahwa pergeseran tren penyakit ini ke kalangan usia produktif merupakan tantangan kesehatan yang serius dan memerlukan intervensi segera. Salah satu faktor risiko utama yang menyebabkan peningkatan kasus ini di Indonesia adalah obesitas.
Para peneliti dalam bidang kesehatan sepakat bahwa kondisi fatty liver sangat terkait dengan pola makan modern yang tidak sehat. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori, makanan cepat saji yang mengandung lemak jenuh, serta tingginya konsumsi gula rafinasi, terutama fruktosa yang banyak terdapat dalam minuman kemasan manis, menjadi pemicu utama penyakit ini. Kebiasaan makan yang tidak sehat ini menyebabkan resistensi insulin dan mempercepat pembentukan lemak baru di hati (de novo lipogenesis), sehingga tubuh tidak dapat menyaring dan membuang lemak dengan baik.
“Fatty liver merupakan salah satu kondisi kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih karena sering kali berkembang secara diam-diam tanpa gejala yang jelas. Salah satu pemicu utama di balik kondisi ini adalah obesitas, yang kini menjadi tantangan kesehatan serius di tanah air,” jelas dr. Nadia.
Risiko Komplikasi yang Mengancam
Tren peningkatan kasus fatty liver sejalan dengan lonjakan angka obesitas yang tercatat dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI 2023). Hasil survei menunjukkan bahwa prevalensi obesitas sentral, yang ditandai dengan kondisi perut buncit, pada populasi usia 15 tahun ke atas di Indonesia telah mencapai 36,8 persen. Sementara itu, untuk kategori obesitas umum pada usia 18 tahun ke atas, angkanya kini berada di angka 23,4 persen.
Jika kebiasaan makan yang buruk dan berat badan berlebih ini terus dibiarkan, dampak komplikasi di masa depan bisa sangat serius. Penumpukan lemak di hati dapat memicu peradangan hebat dan kerusakan sel-sel organ tersebut. “Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati,” ungkap Prof. Rino Alvani Gani, spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Akumulasi lemak yang dibiarkan dalam waktu lama di hati dapat menyebabkan stres oksidatif dan pelepasan zat beracun secara berulang. Hal ini mengakibatkan kerusakan sel-sel hati yang konstan dan memaksa organ hati untuk terus-menerus melakukan proses penyembuhan. Proses pemulihan yang dipaksakan ini dapat memicu munculnya jaringan parut yang kaku, atau fibrosis, yang jika terus meluas dapat berujung pada sirosis hati. Dalam kondisi kerusakan struktural yang parah dan pembelahan sel yang tidak terkontrol, risiko terjadinya mutasi genetik pada DNA sel hati menjadi sangat tinggi, yang dapat mengarah pada perkembangan sel tumor ganas dan kanker hati stadium lanjut.