Jakarta - Sebuah survei global terbaru menunjukkan bahwa banyak orang di berbagai belahan dunia hidup dengan tingkat stres dan kemarahan yang tinggi akibat berbagai tekanan, seperti masalah ekonomi, konflik, dan ketidakstabilan politik. Menurut laporan emosi global yang dirilis oleh Gallup, sekitar 20% orang dewasa di seluruh dunia melaporkan merasakan kemarahan sehari sebelum mereka diwawancarai. Survei ini mencakup responden berusia 15 tahun ke atas di 144 negara dan wilayah, melalui wawancara langsung dan telepon.
Hasil survei menunjukkan bahwa negara-negara yang tengah menghadapi konflik, krisis kemanusiaan, dan gejolak ekonomi mendominasi daftar negara dengan tingkat kemarahan tertinggi. Namun, kabar baiknya, Indonesia tidak termasuk dalam daftar tersebut. Indonesia justru berada di peringkat teratas sebagai negara dengan penduduk yang paling banyak tersenyum dan tertawa, dengan 92% responden melaporkan perasaan positif ini, sementara hanya 8% yang merasa sebaliknya.
Chad, Negara dengan Tingkat Kemarahan Tertinggi
Chad menempati posisi teratas dengan 47% responden mengaku merasakan kemarahan sehari sebelum survei dilakukan. Ini berarti hampir setengah dari penduduk yang diwawancarai mengalami emosi marah dalam kehidupan sehari-hari mereka, menjadikannya yang tertinggi di dunia. Beberapa negara di Timur Tengah juga menunjukkan tingkat kemarahan yang signifikan, di mana konflik, tekanan ekonomi, dan kondisi sosial yang tidak stabil berkontribusi terhadap tingginya angka tersebut.
Negara-Negara dengan Tingkat Kemarahan Tinggi
Berikut adalah daftar sepuluh negara dengan tingkat kemarahan tertinggi di dunia:
- Chad: 47 persen
- Yordania: 46 persen
- Armenia: 43 persen
- Irak: 40 persen
- Sierra Leone: 40 persen
- Guinea: 39 persen
- Democratic Republic of the Congo: 38 persen
- Palestina: 38 persen
- Iran: 37 persen
- Maroko: 37 persen
Banyak negara dalam daftar tersebut sedang menghadapi masalah besar yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat. Misalnya, Democratic Republic of the Congo yang telah lama dilanda konflik bersenjata, memicu salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, di mana jutaan orang terpaksa mengungsi dan menghadapi kesulitan ekonomi. Situasi ini diperburuk oleh kelaparan, inflasi, dan keterbatasan akses bantuan kemanusiaan.
Di Irak, tantangan sosial dan politik yang berkepanjangan sejak invasi yang dipimpin oleh Amerika Serikat pada tahun 2003 juga berdampak pada kondisi psikologis masyarakat. Sementara itu, Palestina terus berjuang dengan konflik yang berkepanjangan, pembatasan aktivitas, dan tekanan ekonomi, yang membuat banyak warganya hidup dalam ketidakpastian dan stres.
Negara dengan Tingkat Kemarahan Terendah
Menariknya, negara yang dikenal sebagai yang paling bahagia di dunia tidak selalu memiliki tingkat kemarahan terendah. Meskipun Finlandia telah menyandang gelar negara paling bahagia selama sembilan tahun berturut-turut, negara ini berada di posisi kedua dalam daftar negara dengan tingkat kemarahan terendah. Posisi pertama ditempati oleh Vietnam, di mana hanya 5% responden yang melaporkan merasakan kemarahan sehari sebelumnya.
Dengan demikian, survei ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana kondisi sosial dan politik dapat memengaruhi emosi dan kesejahteraan masyarakat di berbagai negara.